Oleh: Ratih Kusuma Wardani, Penyuluh Lingkungan Hidup Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa
beritabernas.com – Rumah sering dipahami sebatas tempat berlindung dari panas, hujan, dan berbagai gangguan dari luar. Padahal, rumah bukan ruang yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari permukiman, permukiman berada dalam ekosistem, dan kualitas ekosistem pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan manusia.
Karena itu, membangun rumah yang sehat tidak cukup hanya dengan memastikan ventilasi baik, pencahayaan memadai, sanitasi tersedia, dan air bersih tercukupi. Rumah yang sehat akan kehilangan sebagian manfaatnya ketika lingkungan di sekitarnya dipenuhi sampah, saluran air tersumbat, ruang terbuka semakin terbatas, dan kualitas udara memburuk.
Di sinilah persoalannya. Kita terlalu sering berbicara tentang rumah sehat, tetapi lupa membangun permukiman yang sehat. Padahal, setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hak tersebut tidak berhenti di balik pagar rumah, tetapi juga bergantung pada kondisi lingkungan tempat kita tinggal.
Rumah sehat vs lingkungan tidak sehat
Tekanan terhadap lingkungan permukiman semakin nyata. Pertumbuhan penduduk, perubahan penggunaan lahan, berkurangnya ruang terbuka, meningkatnya volume sampah, pencemaran air, serta ancaman banjir dan kekeringan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi demikian, konsep permukiman hijau tidak boleh dipersempit sekadar menjadi kawasan yang banyak pohon atau memiliki taman. Permukiman hijau adalah lingkungan tempat tinggal yang mampu mengintegrasikan pengelolaan air, sanitasi, sampah, drainase, ruang terbuka, energi, perlindungan lingkungan, sekaligus pengurangan risiko bencana.
Sebuah kawasan mungkin terlihat hijau karena dipenuhi tanaman. Namun, jika sampah masih dibuang sembarangan, air limbah tidak dikelola, penggunaan air berlebihan, dan drainase buruk, kawasan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan permukiman hijau.
Sebaliknya, lingkungan sederhana di pedesaan dapat menjadi contoh baik ketika masyarakat mampu menjaga sumber air, memanfaatkan pekarangan, mempertahankan vegetasi, mengelola sampah, dan membangun kebiasaan hidup yang ramah lingkungan.
Artinya, permukiman hijau bukan semata-mata persoalan desain fisik. Ia adalah persoalan perilaku, tata kelola, dan kesediaan warga untuk berbagi tanggung jawab atas ruang hidupnya.
Solusi tak selalu harus mahal
Pembangunan permukiman seharusnya sejak awal mempertimbangkan risiko lingkungan. Rumah dan fasilitas umum perlu dirancang agar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan.
Langkahnya sebenarnya tidak selalu rumit. Sumur resapan, lubang biopori, pemanenan air hujan, ruang terbuka hijau, taman lingkungan, penghijauan pekarangan, dan penghematan air merupakan contoh tindakan sederhana yang dapat dilakukan sesuai kondisi setempat. Namun, satu persoalan yang paling mudah dilihat sekaligus sering diabaikan adalah sampah.
Baca juga:
- Dari Sisa Dapur hingga Industri Daur Ulang, Perjalanan Material Dimulai dari Rumah
- Pertobatan Ekologis: Jalan Baru Mengatasi Krisis Sampah di Indonesia
- Hujan Datang, Banjir Berulang: Sudahkah Kita Membaca Pesannya?
- Dari Ozon ke Iklim: Pelajaran dari Keberhasilan Protokol Montreal
Sampah merupakan produk aktivitas setiap rumah tangga. Karena itu, pengelolaannya tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Permukiman hijau harus dimulai dari keberanian setiap keluarga untuk mengurangi sampah, memilah sejak dari sumber, dan memastikan sampah yang masih bernilai tidak berakhir sebagai beban lingkungan.
Memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta menyalurkan sampah bernilai ekonomi melalui bank sampah atau sedekah sampah merupakan tindakan sederhana, tetapi memiliki dampak strategis.
Di sinilah TPS3R, bank sampah, pengepul, pengolah sampah, dan pelaku usaha daur ulang memiliki posisi penting. Mereka bukan sekadar bagian dari rantai pengelolaan sampah, tetapi dapat menjadi penggerak ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Sampah yang dikelola dengan benar bukan hanya mengurangi pencemaran dan beban lingkungan. Ia juga dapat menghasilkan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan menciptakan kesempatan bagi masyarakat untuk membangun kemandirian.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan permukiman hijau tidak cukup berhenti pada pertanyaan: Apakah lingkungan ini bersih dan banyak pohon? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah warga mampu mengelola sumber daya, mengurangi sampah, menjaga air, mengantisipasi risiko, dan mempertahankan kebiasaan baik secara bersama-sama?
Teknologi dan fasilitas itu penting. Pemerintah dapat membangun sarana persampahan, drainase, ruang terbuka, maupun fasilitas sanitasi. Namun, fasilitas tidak akan bertahan tanpa perilaku dan partisipasi masyarakat.
Karena itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci. RT, RW, kelompok masyarakat, kader lingkungan, kelompok perempuan, pemuda, sekolah, pelaku usaha, hingga pemerintah desa atau kalurahan dapat menjadi bagian dari gerakan membangun permukiman hijau.
Gerakan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana: memilah sampah dari rumah, mengembangkan pekarangan produktif, menjaga sumber air, menanam dan merawat pohon, menjaga drainase, mengembangkan bank sampah dan TPS3R, hingga membangun usaha ekonomi berbasis lingkungan.
Dengan cara itu, masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima program. Mereka menjadi pelaku utama perubahan.
Pada akhirnya, permukiman hijau bukan tentang membuat rumah tampak lebih indah. Lebih dari itu, ia merupakan upaya membangun hubungan yang lebih seimbang antara manusia dan lingkungan.
Perubahan pun tidak harus menunggu proyek besar. Satu rumah yang mulai memilah sampah, satu keluarga yang menghemat air, satu pekarangan yang ditanami pohon, satu lingkungan yang menjaga drainase, dan satu komunitas yang mengelola sampah secara mandiri dapat menjadi titik awal perubahan yang lebih luas.
Sebab lingkungan yang baik tidak lahir hanya dari kebijakan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Maka, jika kita ingin membangun permukiman hijau, pertanyaannya bukan kapan pemerintah memulai, bukan pula berapa besar proyek yang harus dibangun. Pertanyaan paling mendasar adalah: apa yang sudah kita lakukan dari rumah sendiri?
Satu rumah mungkin tampak kecil. Tetapi ketika kebiasaan baik tumbuh dari ribuan rumah, ia dapat berubah menjadi gerakan lingkungan yang besar. Permukiman hijau dimulai dari rumah dan perubahan itu bisa dimulai dari hari ini. (*)
There is no ads to display, Please add some