beritabernas.com – Konsep formatio iman dalam katekese kontemporer perlu ada perubahan cara pandang dari ”pengajaran agama” menuju formatio. Formatio berakar pada formare yakni “memberi bentuk”. Jadi bukan sekadar mengisi kepala dengan pengetahuan agama melainkan pembentukan seorang pribadi secara menyeluruh, dalam arti yang lebih dalam “memberi keberadaan dan bentuk.”
Dengan demikian, tujuan katekese bukan transfer pengetahuan, melainkan persatuan intim dengan Kristus yang diwujudkan dalam suatu proses pendampingan.
Hal itu disampaikan Romo Dr Dominikus Dimas Danang AW Pr dari Keuskupan Purwokerto dalam acara Hari Studi Komisi Kateketik KAS selama dua hari, 1 dan 2 Juli 2026 di Hotel Puri Indah Kaliurang. Acara ini diikuti 4 Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta yakni FM Padhari Djati Martiwi SH, Rolan Modestus Jemuru SS, Arnoldus Suluh Dwi Candra SS dan Edelbertus Jara S.Fil. Mereka merupakan tim inti Komisi Kateketik Kevikepan Yogyakarta Timur.
Menurut Romo Dr Dominikus Dimas Danang AW Pr, pilihan kata ini dalam FIBB bukan kosmetik, namun ini menandai sebuah keputusan teologis. Dalam Petunjuk Katekese (PK) Nomor 3 dan 75 menegaskan bahwa tujuan katekese bukanlah transfer pengetahuan, melainkan persatuan intim dengan Kristus yang diwujudkan dalam suatu proses pendampingan.
Baca juga:
- Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja: Penyuluh Agama Harus Membangun Semangat Toleransi dan Keadilan
- Penyuluh Agama Katolik dan Budha Ikuti Diskusi Tragedi Kemanusiaan Perdagangan Orang di Institut DIAN/Interfidei
“Kedua hal ini sungguh berbeda. Kalau tujuan kita transfer pengetahuan, ukuran keberhasilan adalah seberapa banyak umat menghafal dan tahu. Tetapi kalau tujuannya persatuan dengan Kristus, ukurannya berubah yakni apakah hidup mereka makin terhubung dengan Dia. Itulah sebabnya formatio pada akhirnya selalu merupakan tindakan rohani, bukan sekadar pengajaran,” kata Romo Dimas.
Dengan demikian, menurut Romo Dimas, landasan fundamental dari formatio iman kontemporer adalah teologi wahyu Dei Verbum yang baru saja ditegaskan ulang oleh Paus Leo XIV yakni Allah mewahyukan diri bukan terutama sebagai kumpulan kebenaran, melainkan sebagai pribadi yang masuk ke dalam dialog persahabatan dengan manusia.
Menurut Romo Dimas, wahyu bersifat relasional. Oleh karena itu, iman pada hakikatnya adalah jawaban relasional manusia atas tawaran persahabatan Allah dalam Kristus. Konsekuensinya tajam. Jika iman adalah peristiwa perjumpaan, maka katekese yang bertumpu pada hafalan rumus, doktrin dan doa-tanpa mengantar orang pada pengalaman perjumpaan-secara teologis memiskinkan iman itu sendiri.
“Ini bukan sekadar soal metode yang kurang menarik. Ini soal salah paham tentang apa itu iman,” tegas Romo Dimas.

Ada 3 agenda dalam kegiatan tersebut. Pertama, Hari Studi tentang Pengembangan dan Dasar-Dasar Konsep Formatio Iman Berjenjang Berkelanjutan (FIBB) yang disampaikan Romo Dr Dominikus Dimas Danang AW Pr dari Keuskupan Purwokerto.
Kedua, Merancang Bersama Pokok-Pokok Bahan Adven 2026; dan ketiga Rapat Koordinasi Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang. Tampil sebagai narasumber utama dalam Hari Studi Komisi Kateketik KAS ini adalah Romo Dr Dominikus Dimas Danang AW Pr dengan kajian Teologis Pastoral terkait FIBB.
Sementara Romo Suprihadi dan Pak Ipung memandu gagasan Adven 2026 sekaligus rapat koordinasi Komkat KAS untuk tindak lanjut gagasan-gagasan Adven 2026 yang sekaligus menyiapkan umat memasuki ARDAS IX Tahun KAS 2026-2030 dengan fokus pastoral tahun 2027 Formasio Iman yang Fundamental, Eklesial, Total dan Integral.
Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah anggota tim Komisi Kateketik dari 5 Kevikepan yang bernaung di Keuskupan Agung Semarang yakni Kevikepan Semarang, Kevikepan Surakarta, Kevikepan Kedu, Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur. (Edelbertus Jara S.Fil)
There is no ads to display, Please add some