beritabernas.com – Anggota DPRD DIY Dr Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom MM keamanan pangan bukan sekadar persoalan makanan yang mengenyangkan, tetapi merupakan bagian penting dari upaya melindungi kesehatan masyarakat dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Masyarakat tidak hanya membutuhkan pangan yang cukup, tetapi juga pangan yang aman, sehat, bermutu dan bergizi. Keamanan pangan harus menjadi perhatian bersama karena menyangkut kesehatan keluarga, produktivitas masyarakat, hingga masa depan generasi muda,” ujar Dr Raden Stevanus dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keamanan Pangan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan DIY di Aula Kelurahan Ngupasan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, Sabtu 18 Juli 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh Karang Taruna Gondomanan dan Tim Penggerak PKK Kelurahan Gondomanan sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya keamanan pangan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan Weni Kurdanri SSi.T M.Kes dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta sebagai narasumber yang memaparkan berbagai aspek teknis mengenai keamanan pangan, mulai dari penerapan higiene dan sanitasi, pencegahan penyakit bawaan pangan (foodborne diseases), hingga pentingnya membaca informasi gizi pada produk pangan.
Baca juga:
- Bangun Kesetiakawanan Masyarakat, Dr Raden Stevanus Dorong Penguatan Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa
- Dukung Sekolah Rakyat di DIY, Dr Raden Stevanus Tinjau Progres Pembangunan di Lendah
- ‘Segitiga Emas’ Baru DIY: Dr Raden Stevanus Desak Integrasi Simpul Transportasi DIY
Menurut Dr Raden Stevanus, pangan yang tidak memenuhi standar keamanan berpotensi menimbulkan berbagai dampak kesehatan, seperti keracunan pangan, diare, infeksi saluran pencernaan hingga penyakit bawaan pangan (foodborne diseases). Pada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil dan lansia, dampaknya bahkan dapat berkembang menjadi komplikasi serius.
Selain berdampak pada kesehatan, pangan yang tidak aman juga dapat menurunkan produktivitas masyarakat, meningkatkan beban pelayanan kesehatan, mengurangi kepercayaan konsumen, melemahkan daya saing pelaku usaha pangan dan UMKM, hingga memengaruhi citra Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata kuliner.
Menurut Dr Raden Stevanus, edukasi mengenai keamanan pangan perlu terus diperluas agar masyarakat memiliki kemampuan memilih, mengolah, dan mengonsumsi pangan secara lebih bijak.
“Sosialisasi seperti ini menjadi langkah preventif yang sangat penting. Semakin tinggi literasi masyarakat mengenai keamanan pangan, semakin besar peluang kita menekan risiko penyakit, meningkatkan kualitas hidup, sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah,” demikian Dr Raden Stevanus.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pengenalan Nutri-Level, yaitu sistem pelabelan gizi yang mulai diperkenalkan pemerintah untuk membantu masyarakat memahami kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada produk pangan secara lebih sederhana.
Melalui label dengan kode A hingga D disertai warna, masyarakat diharapkan dapat membandingkan produk dengan cepat dan memilih alternatif yang lebih sehat. Produk dengan kategori Level D (Merah) menunjukkan kandungan gula, garam, atau lemak yang tinggi sehingga konsumsinya sebaiknya dibatasi.

Dr Raden Stevanus menilai kehadiran Nutri-Level merupakan langkah positif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih pangan yang lebih sehat. “Label Nutri-Level bukan untuk melarang masyarakat mengonsumsi makanan tertentu, melainkan memberikan informasi yang mudah dipahami agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak sesuai kondisi kesehatannya,” kata Dr Raden Stevanus.
Ia mengatakan, konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula dan kalori yang tinggi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, obesitas, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga penyakit ginjal kronis.
Sebagai Anggota DPRD DIY, Dr Raden Stevanus menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai program edukasi kesehatan masyarakat melalui fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, sehingga upaya peningkatan keamanan pangan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Sinergi antara pemerintah, DPRD, tenaga kesehatan, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan pangan yang aman, sehat, bermutu, serta mendukung terwujudnya Daerah Istimewa Yogyakarta yang semakin sehat dan berdaya saing,” kata Dr Raden Stevanus.
Sementara Weni Kurdanri menjelaskan bahwa penerapan prinsip higiene dan sanitasi dalam pengolahan pangan merupakan kunci utama untuk mencegah kontaminasi biologis, kimia, maupun fisik yang dapat menyebabkan keracunan pangan.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami prinsip dasar keamanan pangan, menerapkan praktik higiene dan sanitasi yang benar, mengenali risiko penyakit bawaan pangan, serta menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing. (phj)
There is no ads to display, Please add some