Kepemimpinan dan Keberanian untuk Tahan Uji

Oleh: Vansianus Masir, Ketua DPK-GMNI STPMD ‘APMD’ Yogyakarta Periode 2025-2026

beritabernas.com – Selama satu tahun menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPK-GMNI) di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta, saya menyadari kebenaran sebuah pepatah kuno dalam bahasa Belanda yang berbunyi een leidersweg is een lijdensweg, leiden is lijden. Secara harfiah berarti jalan memimpin bukan jalan yang mudah; memimpin adalah menderita.

Memimpin sejatinya adalah perjalanan menapaki jalan terjal, berbatu, berliku dan kerap kali sepi. Modal utama seorang pemimpin bukan hanya kecakapan berbicara, kemampuan menyusun konsep atau keterampilan membangun citra diri. Namun, yang jauh lebih penting adalah konsistensi untuk tetap berjalan, bahkan ketika segala sesuatu terasa berat, sulit, melelahkan dan seolah tidak ada harapan lagi.

Memimpin berarti berjanji untuk tidak berhenti di tengah jalan, apa pun rintangannya. Selama setahun ini saya memahami bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang paling sempurna, melainkan orang yang bersedia tetap bertanggung jawab di tengah ketidaksempurnaannya sendiri.

Ada begitu banyak momen ketika saya merasa bingung, lelah, bahkan kehilangan arah. Namun, dari situ saya memahami bahwa tidak ada yang lebih melelahkan daripada seorang pemimpin yang terlalu bangga untuk mengakui keterbatasannya sendiri.

Baca juga:

Keinginan untuk selalu terlihat kuat dan mampu justru sering kali membuat seseorang memikul beban yang terlalu besar seorang diri. Sebaliknya, tidak ada yang lebih membebaskan daripada keberanian untuk berkata, dengan rendah hati, bahwa kita tidak selalu tahu jawabannya, tetapi tetap bersedia untuk terus belajar dan mencari jalan keluarnya bersama.

Ujian komitmen dan loyalitas 

Dari awal masa kepengurusan ini hingga menyampaikan Laporan Pertanggung-jawaban (LPJ) pada 24 Mei 2026 dalam Sidang Pleno II Musyawarah Anggota Komisariat (MAK) sebetulnya tidak ada sesuatu yang luar biasa yang kami perbuat.

Kami hanya menjalankan apa yang memang menjadi tanggung jawab organisasi: menyelenggarakan diskusi, baik di internal komisariat maupun melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi lain, melakukan aksi sosial, melaksanakan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB), Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) dan berbagai agenda organisasi lainnya.

Namun, di balik setiap agenda yang terlaksana, tersimpan kenyataan pahit yang menjadi ujian terberat bagi keberlangsungan kepengurusan kami. Selain ada pengurus yang memilih mengundurkan diri sebelum periode kepengurusan usai, persoalan lain adalah rendahnya tingkat partisipasi dan keterlibatan anggota.

Bahkan dalam pembentukan kepanitiaan untuk beberapa kegiatan, keterlibatan anggota sering kali sangat minim sehingga pekerjaan akhirnya hanya berputar pada orang-orang yang sama. Ada kalanya kami harus mengerjakan sesuatu di luar tugas dan tanggung jawab demi memastikan organisasi tetap hidup. Keadaan demikian tentu menyebabkan rasa kecewa dan lelah.

Dalam situasi seperti itu, kami belajar untuk tidak terlalu sibuk menyalahkan satu sama lain tetapi mencoba memahami bahwa setiap orang memiliki prioritas, kesibukan dan pertimbangan dan pilihannya sendiri. Kami pun hanya fokus berusaha melakukan segala hal yang mampu kami kerjakan dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki.

Setidaknya kami hanya ingin bertumbuh menjadi manusia yang berani memikul konsekuensi dari komitmennya sendiri. Kami meyakini bahwa organisasi hanya akan benar-benar hidup jika orang-orang di dalamnya bersedia hadir, tidak saja ketika semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi justru ketika segalanya terasa berat dan alasan untuk pergi jauh lebih mudah ditemukan daripada alasan untuk tinggal.

Sebab loyalitas terhadap organisasi sesungguhnya diuji bukan pada saat angin berhembus lembut, melainkan ketika badai datang menghantam. Dalam situasi seperti itu, bertahan menjadi pilihan yang tidak mudah.

Tidak ada satu generasi pun yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan organisasi. Tidak ada pula kepengurusan yang sepenuhnya sempurna. Maka tugas kepengurusan kami sebenarnya bukan untuk menutup cerita tersebut, melainkan memastikan bahwa kalimat yang kami tulis memiliki arti dan layak untuk dibaca oleh mereka yang datang setelahnya.

Bahwa di tengah segala keterbatasan, kami terus mencoba berjalan. Dalam banyak hal, keberanian terbesar bukanlah memulai perjuangan, melainkan tetap bertahan hingga akhir ketika keadaan tidak lagi mudah.

Terima kasih untuk satu tahun yang telah mengajarkan kami tentang perjuangan, yang mudah-mudahan tak akan pernah sia-sia. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *