Keselamatan Bus Dimulai dari Kesehatan Pramudi

Oleh: Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

beritabernas.com – Setiap kali kecelakaan bus terjadi, perhatian publik hampir selalu tertuju pada kondisi kendaraan, kualitas jalan atau pelanggaran lalu lintas. Padahal, ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu kondisi kesehatan fisik dan mental pengemudi. Kendaraan yang laik jalan dan infrastruktur yang baik tidak akan mampu menjamin keselamatan apabila dikendalikan oleh pramudi yang kelelahan, sakit atau mengalami tekanan psikologis.

Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terjadi 13.184 kecelakaan lalu lintas, dengan sekitar 85 persen dipicu oleh faktor manusia. Fakta tersebut mengingatkan bahwa keselamatan transportasi publik tidak cukup dibangun melalui modernisasi armada atau peningkatan infrastruktur, tetapi juga harus dimulai dari manusia yang berada di balik kemudi.

Temuan serupa terlihat pada kajian PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Analisis risiko operasional tahun 2025 menunjukkan bahwa faktor kesehatan fisik menjadi sumber bahaya terbesar, disusul faktor psikologis. Jika digabungkan, keduanya menyumbang lebih dari separuh potensi risiko operasional. Data ini memperlihatkan bahwa kesehatan pramudi bukan lagi isu kesejahteraan pekerja semata, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem keselamatan transportasi.

Selama ini, perhatian terhadap keselamatan masih didominasi aspek teknis, seperti kelayakan kendaraan, pemeliharaan armada, atau kepatuhan terhadap prosedur operasional. Semua itu memang penting. Namun, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh mesin, melainkan juga oleh manusia yang mengoperasikannya. Mengabaikan faktor kesehatan berarti membiarkan mata rantai terpenting dalam sistem keselamatan tetap menjadi titik paling rentan.

Pengemudi bus. Foto: kiriman Djoko Setijowarno

Kondisi kesehatan yang kurang optimal dapat menurunkan stamina, memperlambat waktu reaksi, mengurangi konsentrasi, dan memengaruhi kemampuan mengambil keputusan. Dalam situasi lalu lintas perkotaan yang padat, keterlambatan merespons hanya dalam hitungan detik dapat menjadi pembeda antara perjalanan yang selamat dan sebuah kecelakaan.

Demikian pula dengan aspek psikologis. Kemacetan, tekanan memenuhi jadwal, konflik dengan pengguna jalan, hingga kelelahan mental dapat memicu perilaku agresif, hilangnya fokus, atau rasa percaya diri berlebihan yang mendorong pengemudi mengabaikan prosedur keselamatan. Karena itu, kesehatan mental tidak dapat lagi dipandang sebagai isu personal, melainkan bagian dari manajemen risiko transportasi publik.

Atas dasar itulah langkah PT Transportasi Jakarta memperkuat Budaya Keselamatan melalui kerja sama dengan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki) dan Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia patut diapresiasi. Penyusunan Standar Kesehatan Kerja Pramudi dan Standar Asesmen Psikologis berbasis risiko merupakan terobosan yang menempatkan manusia sebagai pusat sistem keselamatan.

Standar tersebut penting karena hingga kini pemeriksaan kesehatan pramudi masih dilakukan oleh berbagai operator dan fasilitas kesehatan dengan metode yang belum seragam. Jenis pemeriksaan, frekuensi, maupun penilaian fit to work dan fit to drive sering kali berbeda. Akibatnya, belum tersedia standar yang benar-benar mampu menggambarkan kesiapan pramudi sesuai karakteristik risiko masing-masing jenis armada.

Baca juga:

Padahal, pramudi merupakan safety-critical worker, yakni pekerja yang setiap keputusan dan tindakannya berpengaruh langsung terhadap keselamatan banyak orang. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala harus menjadi bagian dari surveilans kesehatan kerja. Tujuannya bukan sekadar mendeteksi penyakit, tetapi memastikan setiap pramudi tetap memiliki kemampuan fisik, sensorik, kognitif, dan psikologis yang sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.

Berbagai kondisi seperti gangguan penglihatan, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gangguan tidur, gangguan neurologis, gangguan mental, hingga penggunaan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi kemampuan mengemudi secara aman. Pemeriksaan berkala memungkinkan faktor-faktor tersebut dideteksi lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi risiko keselamatan.

Langkah berikutnya yang layak didorong adalah pembentukan Klinik Kesehatan dan Klinik Psikologi di lingkungan Transjakarta. Kehadiran kedua fasilitas tersebut bukan sekadar menyediakan layanan pengobatan, tetapi menjadi instrumen pencegahan melalui deteksi dini penyakit, pemantauan kebugaran kerja, konseling psikologis, edukasi gaya hidup sehat, serta evaluasi kesiapan pramudi sebelum bertugas.

Investasi pada kesehatan pramudi pada akhirnya merupakan investasi pada keselamatan jutaan penumpang. Ketika kondisi fisik dan mental pengemudi terjaga, risiko kecelakaan dapat ditekan, produktivitas meningkat, angka ketidakhadiran menurun, dan kualitas pelayanan transportasi publik ikut membaik. Keuntungan tersebut jauh lebih besar dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sistem kesehatan kerja yang komprehensif.

Pengemudi bus. Foto: kiriman Djoko Setijowarno

Yang tidak kalah penting, inisiatif ini dapat menjadi model nasional. Saat ini sedikitnya 46 pemerintah daerah telah mengembangkan layanan angkutan umum melalui skema buy the service. Karena itu, praktik baik yang dikembangkan Transjakarta tidak seharusnya berhenti sebagai kebijakan internal perusahaan. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dapat menjadikannya sebagai rujukan dalam menyusun regulasi nasional mengenai standar kesehatan kerja dan asesmen psikologis pengemudi angkutan umum.

Keselamatan transportasi publik tidak cukup dibangun melalui armada yang modern, teknologi yang canggih, atau jalan yang semakin baik. Semua itu akan kehilangan makna apabila faktor manusianya diabaikan. Sudah saatnya kesehatan fisik dan mental pramudi ditempatkan sebagai fondasi budaya keselamatan.

Pada akhirnya, setiap penumpang yang naik ke dalam bus tidak hanya mempercayakan perjalanannya kepada kendaraan, tetapi juga kepada kondisi orang yang berada di balik kemudi. Karena itu, pramudi yang sehat-baik secara fisik maupun mental-adalah perangkat keselamatan pertama yang tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi apa pun. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *