beritabernas.com – Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) mengembangkan RespiraTB, platform wearable berbasis sensor accelerometer untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time. Inovasi tersebut dirancang sebagai alat skrining awal untuk membantu mendorong masyarakat yang memiliki gejala mencurigakan tuberkulosis (TBC) agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
RespiraTB dikembangkan melalui riset kewirausahaan dalam ajang The 12th UTU Awards 2026 oleh Afwan Aditya Saputra dari Program Studi Informatika, Fakultas Teknologi Industri UII, bersama Isfana Fatimah Darman dari Kedokteran dan Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Manajemen Rekayasa. Riset tersebut dibimbing Ir Ali Parkhan MT.
Menurut Afwan Aditya Saputra, Mahasiswa Program Studi Informatika, Program Sarjana FTI UII (2025) dan sebagai ketua tim, dalam jumpa pers secara online, Jumat 2 Oktober 2026, RespiraTB memanfaatkan sensor accelerometer/IMU untuk membaca perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan. Data diproses menggunakan ESP32, algoritma filtering dan sistem skoring berbasis ambang statistik sebelum dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui platform Firebase. Sistem dirancang untuk memantau respiratory rate (RR) dan work of breathing (WoB).
Hasil pengujian menunjukkan RespiraTB memiliki akurasi pembacaan respiratory rate sebesar 96,28 persen dibandingkan penghitungan manual. Deviasi maksimal yang ditemukan sebesar satu napas per menit. Sementara itu, sensor accelerometer MPU6050 memperoleh akurasi rata-rata 92,08 persen dalam pengujian terhadap metode Esophageal Pressure Catheter (Pes).

Sistem juga diuji melalui empat skenario, yakni sensor terhubung, kondisi normal, perlu pemantauan, dan segera diperiksa. Seluruh skenario menunjukkan keberhasilan klasifikasi 100 persen sesuai kategori yang ditetapkan. Pengiriman data dari ESP32 ke Firebase mencapai tingkat keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.
Afwan Aditya Saputra yang didampingi Isfana Fatimah Darman, Mahasiswa Program Studi Kedokteran UII (2025) dan Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar, Mahasiswa Program Studi Manajemen Rekayasa (2025) serta Dr Ir Agus Mansur ST M.Eng.Sc IPU ASEAN Eng, Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman dan Kealumnian FTI UII dan Ir Ali Parkhan MT (Dosen Program Studi Teknik Industri FTI UII), mengatakan, dalam rancangan aplikasinya, RespiraTB menampilkan Indeks Pernapasan dalam skala 0–100 yang dikategorikan menjadi Normal, Perlu Pemantauan dan Segera Periksa.
Aplikasi ini juga menampilkan laju napas, aktivitas otot aksesori, pola napas, serta gejala subjektif. Apabila skor meningkat secara konsisten, sistem memberikan notifikasi dan rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Tim menegaskan RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis. Sistem tersebut dirancang sebagai alat skrining awal dengan mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan RR dan WoB. Diagnosis definitif TBC tetap memerlukan pemeriksaan medis profesional.
Baca juga:
- Telehealth Terbukti Efektif dalam Meningkatkan Pengetahuan Peserta Bantuan Hidup Dasar
- Investigasi Artefak Digital pada Smartwatch Berbasis WearOS Android Bisa Digunakan oleh Investigator Forensic
- Kecerdasan Buatan dan Otomatisasi Telah Mengubah Kebutuhan Kompetensi di Dunia Kerja
Pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Tim menilai gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan kerap dianggap tidak serius sehingga pemeriksaan medis dilakukan setelah kondisi memburuk. Karena itu, teknologi wearable diposisikan sebagai sarana pemantauan yang dapat memberikan informasi kondisi pernapasan secara kontinu.
Dari sisi model bisnis, tim memproyeksikan pasar RespiraTB melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). Pendekatan B2B diarahkan melalui kemitraan dengan Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta mitra seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund. Sementara pendekatan B2C dilakukan melalui kanal digital, edukasi komunitas, dan kolaborasi dengan organisasi kesehatan masyarakat.
Riset tersebut memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) sebesar Rp 1,035 triliun per tahun. Fokus awal diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan estimasi Serviceable Available Market (SAM) Rp 436,2 miliar per tahun. Pada tahun pertama, tim menargetkan penjualan 1.380 unit dengan harga Rp 950.000 per unit atau sekitar Rp 1,31 miliar.

Tim menyatakan pengembangan selanjutnya masih membutuhkan validasi klinis dalam skala lebih luas, pembuatan prototipe fisik, serta proses perizinan dan sertifikasi alat. Rencana tersebut mencakup pengajuan izin edar kepada Kementerian Kesehatan RI serta sertifikasi yang diperlukan sebelum RespiraTB dapat diterapkan secara lebih luas.
Melalui pengembangan RespiraTB, tim berharap teknologi wearable, IoT, dan algoritma skoring dapat menjadi bagian dari inovasi pemantauan kesehatan yang praktis dan terjangkau, sekaligus mendukung upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi pernapasan dan mendorong pemeriksaan TBC secara lebih dini.
Novelty penelitian ini terletak pada pengembangan platform wearable berbasis accelerometer/IMU yang mengintegrasikan pemantauan respiratory rate dan work of breathing secara kontinu dan non-invasif pada tiga titik otot bantu pernapasan, kemudian menggabungkan data fisiologis tersebut dengan gejala subjektif melalui algoritma skoring untuk menghasilkan indeks risiko pernapasan dan rekomendasi pemeriksaan awal TBC secara real-time melalui ekosistem IoT–mobile. (phj)
There is no ads to display, Please add some