Mahasiswa Unika St Paulus Berkomitmen Mewujudkan Ruteng yang Indah dan Sejuk

beritabernas.com – Mahasiswa Program Studi Keperawatan serta Program Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Katolik (Unika) St Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores Barat, NTT berkomitmen mewujudkan kota Ruteng yang indah, sejuk berbalut hijau persawahan, bebukitan dan lembah.

Komitmen itu bukan hanya sevatas teori tapi secara nyata. Hal itu disampaikan dalam dialog dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai Charles Rihi dengan Kepala Bidang (Kabid) DLH Anton Hani dan Camat Langke Rembong Gonza Gau serta anggota KobarLiber (Komunitas Pembaru Lingkungan Hidup Berkelanjutan) Willy Gratia, Sabtu 9 Mei 2026.

Dialog bertajuk Satu Gerak untuk Lingkungan Hidup yang diikuti 105 Mahasiswa Prodi Keperawatan dan PBSI Unika St Paulus Ruteng itu untuk merealisasikan komitmen mahasiswa dalam kuliah di Unika St Paulus Ruteng, Flores Barat, NTT. Mereka menyampaikan secara singkat pokok soal, sebab dan tawaran solusi konkrit kepada Pemkab Manggarai dan Camat Langke Rembong.

Ansel Alaman, Pembimbing/ Pengampu Mata Kuliah Ajaran Sosial Gereja (ASG) Unika St Paulus Ruteng sekaligus inisiator berdirinya KobarLiber menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Kabid serta Camat Langke Rembong atas kerja sama untuk mewujudkan kota Ruteng yang indah dan bebas dari sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai Charles Rihi. Foto: Facebook Ansel Alaman

Menurut Ansel Alaman, meski Unika St Paulus Ruteng tidak punya fakultas dan program studi khusus lingkungan hidup, tetapi semua program studi secara parsial menyinggung masalah lingkungan hidup sebagai “kembaran” keberadaan manusia.

“Bagi pihak Unika St Paulus, Ajaran Sosial Gereja (ASG) adalah mata kuliah wajib, bukan sekadar tuntutan pengetahuan dan moral lingkungan hidup, tetapi juga tindakan konkrit. Kami dan mahasiswa siap kerja sama dengan semua pihak yang difasilitasi Pemkab, DPRD Manggarai bersama pemangku kepentingan. Lingkungan hidup baik persampahan terutama “budaya membuang” harus jadi “budaya mengumpul, memilah dan mengolah”, rumput liar harus dikendalikan, DAS kotor dan rusak dinormalisasi, merawat pohon dan tidak mengeruk mineral termasuk galian C dan lain-lain,” kata Ansel Alaman dikutip beritabernas.com dari akun Facebooknya, Sabtu 9 Mei 2026.

Menurut Ansel Alaman apa yang dilakukan para mahasiswa bersama Pemkab Manggarai, Camat Langke Rembong, KobarLiber dan semua pihak menjadi jalan Pertobatan Ekologis seperti himbauan mendiang Paus Fransiskus dengan Ennsiklik Laudato ‘Si (dunia dan lingkungan hidup sebagai rumah bersama kita).

Dari dialog itu akan dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut bersama semua pihak. Untuk itu, pihaknya akan terus dekati Pemkab dan pihak lain guna mengkonkritkan kerja bersama. Ia pun meminta dukungan semua pihak guna mewujudkan komitmen Ruteng yang indah, sejuk berbalut hijau persawahan, bebukitan dan lembah serta rangkulan indah pegunungan Mandosawu jadi “pujian atas ciptaan de Mori’N agu Ngara’N” (ciptaan Tuhan dan Pemilik Alam Semesta).

Baca juga:

Selain mewujudkan Ruteng yang indah, menurut Ansel Alaman, program ini juga untuk mewujudkan “Zona Pariwisata Alam dan Budaya” termasuk menggerakkan ekonomi kerakyatan yang adil dan berkelanjutan.

Tawarkan solusi konkrit

Dalam dialog itu, para mahasiswa secara kritis menyoroti sejumlah masalah mulai dari masalah kesadaran akan manfaat, bahaya dan pengelolaan sampah, tidak hanya individu tetapi juga kelemahan sistemik. Dikatakan sistemik karena berkaitan dengan kebijakan, pengadaan sarana persampahan, konsistensi tugas dan tanggungjawab kelurahan mulai dari RT, serta soal pengawasan. “Semua dinilai lemah dan perlu perbaikan,” kata Ansel Alaman.

Dikatakan, sebagai kader intelektual bangsa dan daerah, mahasiswa menawarkan sejumlah solusi selain mereka sendiri siap kerja bersama. Edukasi, khusus penyadaran manfaat dan bahaya sampah, termasuk inspirasi “iman yang terlibat” bukan sekadar agama, advokasi kebijakan khusus penegakan hukum yang adil dan transparan, keteladanan para tokoh hingga pengadaan sarana & pola operasinya yang transparan dan bertanggung jawab.

Pada kesempatan itu, Kadis DLH Manggarai Charles Rihi dengan simpatik berterima kasih kepada para mahasiswa atas kepedulian dan sikap kritis mereka. Ia sangatu terbuka atas masukan semua pihak dan terbuka pula untuk kerja bersama, tidak hanya berhenti dengan kritik atau bahkan menyalahkan.

Camat Langke Rembong Gonza Gau. Foto: Facebook Ansel Alaman

Demikian pula Camat Langke Rembong Gonza Gau dengan senang hati menerima masukan para mahasiswa Unika St Paulus Ruteng. Ia merangkai apa saja yang sudah, tengah dan terus dilakukan pemkab hingga kecamatan dan 20 kelurahan di Kecamatan Langke Rembong.

Sementara Kabid DLH Anton Hani secara rinci menyampaikan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) DLH yakni kebersihan, pengangkutan sampah, penitipan dan sebagainya hingga ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Ncolang.

Dengan simpatik Hani menjelaskan gerakan 3R sampah yakni Reduce (mengurangi); Reuse (gunakan kembali) dan Recycle (mendaur ulang). Proses itu juga bisa menghasilkan uang, tinggal dispikan ke DLH. Namun Hani mengaku masih kesulitan dalam pelayanan pengangkutan sampah karena kekurangan sarana dalam hal ini damtruk.

Anggota KobarLiber (Komunitas Pembaru Lingkungan Hidup Berkelanjutan) Willy Gratias juga memberi masukan baik bagi DLH Pemkab maupun mahasiswa. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *