Menjelang Pemilu 2024, Tokoh-tokoh Agama Harus Memberi Kesejukan

beritabernas.com – Hawa Pemilu 2024 mulai terasa. Para calon baik yang akan maju di legislatif dan eksekutif mulai memunculkan sosoknya. Baik lewat pajangan foto diri di tempat umum, juga menghadirkan diri secara langsung ke masyarakat.

Salah satu unsur masyarakat yang didekati para calon adalah para tokoh agama. Mereka jelas mempunyai pengaruh ke umat. Para calon berusaha menempel untuk mendapatkan berkat dari kharisma para tokoh agama ini. Kemana ujungnya? Jelas untuk meraih simpati umat yang adalah para calon pemilih, yang menentukan nasib para calon legisltif dan eksekutif ini.

Apa yang perlu dicermati dari fenomena atau gejala ini? Kurniawan Dwi Admaka, akrab dipanggil Koko, seorang aktivis buruh, sosial kemasyarakatan dan anggota Majelis Gereja Kristen Jawa Samirono Baru, di Yogyakarta memaparkan hal ini.

Koko melihat khususnya para calon legislatif, memang mulai merapat ke para tokoh agama, dari agama apapun. Maksudnya jelas, yaitu bermaksud memanfaatkan pengaruh para tokoh agama untuk mengangkat popularitas dan elektabilitas.

Kurniawan Dwi Atmaka alias Koko, penyuka touring dengan RX King ini juga Majelis GKJ Samirono Baru. Foto; Dok pribadi

Koko mengaku khawatir dengan fenomena ini. “Saya mengkhawatirkan keberadaan mereka (para tokoh agama) bisa dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk tujuan tertentu. Politik itu dinamis dan para politisi masih banyak yang memiliki agenda tersembunyi, dimana kita tidak tahu arahnya,” tutur Koko, yang mengurusi bidang kepemudaan di Majelis GKJ Samirono Baru ini.

Tokoh-tokoh agama rentan dimanfaatkan para politisi. Padahal, dalam mempersiapkan umat menyambut Pemilu 2024 yang prosesnya sudah dimulai ini, para tokoh agama justru harus memberikan kesejukan bagi umatnya.

Menurut Koko, para tokoh agama bisa berperan lebih jelas, dengan melakukan banyak hal . Yang bisa mereka lakukan, menurut Koko adalah memberi kesejukan dengan cara menanamkan cinta tanah air, semakin memberikan pemahaman tentang kebinekaan, saling menghormati antarsuku dan agama, dan jangan sampai umat dibenturkan karena kepentingan politik.

Koko yang hobi touring ini menambahkan, para tokoh agama harus terus menanamkan jiwa besar kepada para calon yang datang kepadanya untuk bisa menerima kekalahan dan tidak jumawa saat memperoleh kemenangan.

Majelis GKJ Samironobaru, Koko sebagai Ketua Bidang Kepemudaan. Foto: dokumen pribadi

“Tokoh agama harus menjadi motor penggerak di daerah-daerah untuk menyatukan seluruh elemen, termasuk tokoh partai untuk berjanji Pemilu 2024 akan berlangsung damai, aman, dan lancar,” tegasnya.

Hawa Pemilu 2024 mulai berhembus dan Koko mengkhawatirkan banyak bermunculan politisi/caleg instan dan caleg kutu loncat. Para caleg ini, menurut Koko hanya bermodal uang untuk membeli suara. Para tokoh agama pun harus mencermati keberadaan para caleg instan dan kutu loncat ini.

Koko yang juga kader militan sebuah partai besar mengatakan tegas menolak caleg yang disebutnya sebagai oportunis ini. “Tujuan mereka menjadi anggota legislatif hanya untuk mencari kedudukan dan uang, tanpa didasari dengan ideologi kebangsaan yang kuat,” ungkapnya.

Para caleg oportunis ini, menurut Koko, kecil kemungkinan berjuang untuk kesejehteraan rakyat. “Tolak caleg oportunis!” tegasnya.

Yang terjadi, dan ini harus menjadi perhatian para tokoh agama, setelah duduk di legislatif, mereka pun lupa dan menghilang, baru muncul menjelang pemilu berikutnya. Peran para tokoh agama, menurut Koko belum maksimal, khususnya di DIY.

Koko melihat justru banyak yang terkontaminasi oleh kelompok politik tertentu. Koko membuktikan hal itu dengan masih banyak terjadi masalah intoleransi yang tidak bisa diselesaikan dengan baik. Bahkan masih bermunculan kasus intoleransi yang baru. Menyikapi kondisi ini, Koko menggagas terbentuknya Gerakan Pemuda Lintas Agama. Ini adalah forum yang bergerak di bidang sosial, kemanusiaan, lingkungan hidup, dan pendidikan.

“Kami juga aktif di media sosial menyerukan arti penting toleransi antarumat beragama,” tutur anggota komunitas RX King ini.

Dari kegiatan-kegiatan ini, Koko berharap di kalangan kaum muda tumbuh rasa persatuan, gotong royong dan nasionalisme yang kuat. “Dan intoleransi semakin terkikis!” tegas Koko. (Anton Sumarjana)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *