Puluhan Karya Seni Rupa Dua dan Tiga Dimensi Dipamerkan di Pendhapa Art Space

beritabernas.com – Puluhan karya seni rupa dua dan tiga dimensi siap digelar dalam pameran seni rupa “Arundhati” di Pendhapa Art Space, Panggungharjo, Sewon, Bantul, mulai 20 Juni hingga 20 Agustus 2026.

Pameran ini melibatkan dua perupa atau seniman seni rupa kondang Yogyakarta, Nasirun dan Dunadi, serta kurator Kuss Indarto. Dua perupa ini masing-masing memiliki kekuatan karakter. Nasirun adalah perupa dengan basis kreatif seni lukis. Namun pada perkembangannya dia banyak mengeksplorasi dan melakukan penjelajahan kreatif yang sangat kaya, antara lain bereksperimen dengan material tiga timensi.

Sementara Dunadi adalah seniman yang basis kreatif utamanya adalah seni patung. Karya-karyanya yang berukuran gigantik, terutama karya proyek atau commission work telah banyak terpajang di berbagai kota di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya ada di mancanegara.

Kedua seniman ini berasal dari ruang berproses yang sama secara akademik, yakni lulusan SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, yang sempat beralih nama menjadi SMSR atau Sekolah menengah Seni Rupa, dan kini menjadi SMKN 3 Kasihan, Bantul, Yogyakarta).

Kedunya kemudian sama-sama melanjutkan studi di FSR ISI (Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Nasirun kelahiran 1 Oktober 1965 berasal dari Adipala, Cilacap, Jawa Tengah, sementara Dunadi berasal dari Pandak, Bantul, D.I. Yogyakarta, lahir pada 5 Agustus 1960.

Perhelatan ini merupakan bentuk konkret kolaborasi seni pertama antara kedua perupa. Selama ini karya mereka sempat bertemu dalam satu ruang presentasi karya seni, namun melibatkan banyak seniman sehingga kurang spesifik.

Karena itu dalam kesempatan pameran kali ini, mereka mempresentasikan jumlah karya yang lebih banyak di ruang seni milik Dunadi, Pendhapa Art Space. Tidak sekadar soal kuantitas yang disodorkan, namun ada kedalaman nilai-nilai yang coba ditawarkan.

Nasirun menyiapkan, antara lain, sebuah lukisan berukuran 14 x 3 meter. Karya ini merupakan sebuah penghormatan sekaligus apresiasi terhadap para survivor yang terdampak oleh Covid-19 pada kurun waktu 2020-2022 lalu.

Selain itu seniman ini juga mengetengahkan 100 blok kayu yang diukir untuk membingkai logam cap atau brand toko serta perusahaan lokal. Semua blok kayu berikut logam cap tersebut tertata dengan artistik. Tiap karya itu membawa narasi masing-masing, yakni tentang pemilik brand yang menempel di balok kayu berukir tersebut. Pun ada seratusan patung-patung kaki yang dilukis dengan penuh ornamentik, dan satu sama lain berbeda-beda.

Artefak karya ini mengisyaratkan sebuah penanda penting bahwa dalam keseragaman fisik manusia tetap memiliki keberagaman yang khas dan hakiki. Keseragaman dalam keberagaman merupakan kontras fisik yang berimplikasi luas pada masalah sosial, politik, dan lainnya, yang dibidik oleh Nasirun sebagai kekayaan gagasan dalam seni rupa. Masih ada beberapa karya seni lain yang kreasi Nasirun yang diketengahkan untuk memberi gambaran betapa penjelajahan kreatifnya penuh dinamika dan melampaui batas konvensi artistik.

Baca juga:

Di sisi lain, Dunadi mempresentasikan beberapa karya patung, baik  yang gigantik maupun standar lazimnya pameran di perhelatan pada umumnya. Dua karya “The Founding Father” Soekarno-Hatta yang masing-masing setinggi 7 meter dihadirkan di ruang utama Pendhapa Art Space. Karya ini sebentuk rekonstruksi atas karya serupa yang telah dipajang di salah satu bagian penting di IKN (Ibu Kota Nusantara), Kalimantan Timur.

Sebagai sebuah rekonstruksi, karya ini ditantang untuk menemukan nilai-nilai baru ketika menempati ruang sosial, waktu, persepsi publik yang berbeda dengan karya sebelumnya di IKN. Dunadi sendiri sejak dasawarsa 1980an hingga kini setidaknya telah membuat karya patung berujud sosok Bung Karno kurang lebih sebanyak 15 kali.

Barangkali dialah seniman patung yang terbanyak melakukan praktik kreatif ini. Soekarno dipresentasikan ke publik dalam berbagai pose, meski sebagian besar tentu dalam format formal untuk meneguhkan citra heroisme Sang Proklamator. Sementara karya patung di ruang publik yang pertama dibuatnya adalah sosok Jenderal Ahmad Yani yang sampai sekarang masih bertengger di sisi timur persimpangan Jalan Pahlawan dan Jalan Soekarno-Hatta, Purworejo Barat.

Kedua seniman ini juga mempresentasikan sekian banyak karya lama. Pemajangan karya yang telah dikreasi lintas waktu ini menguatkan konsep dari tajuk pameran ini, “Arundhati”. Kata “arundhati” merujuk kepada sosok Dewi Arundhati yang ada dalam mitologi Hindu. Arundhati merupakan istri dari Dewa Wasista, yang dinarasikan sebagai perempuan suci yang memegang teguh kesetiaan pada suaminya. Kata “anindhita” dalam konteks bahasa Sanskerta ini berasosiasi pada dua makna utama, yakni perihal “kesetiaan” dan “bintang di angkasa”.

Pameran duet Dunadi dan Nasirun bertajuk “Arundhati” berupaya untuk merunut rute kreatif dan jalan hidup kedua seniman. Mereka sama-sama memiliki fakta bahwa kesetiaan terhadap pilihan hidup di dunia seni rupa telah teruji dengan menjalaninya lebih dari 30-an tahun, atau lebih dari separuh hidup mereka. Sementara makna “bintang di angkasa” merupakan ekspektasi sekaligus persepsi publik setelah melihat kiprah, sepak terjang, loyalitas dan pencapaian mereka terhadap dunia seni yang telah mereka kukuhi lebih dari tiga dasawarsa.

Hal menarik dari keduanya adalah bahwa masing-masing ditengarai memiliki semacam julukan atau “olok-olok” di komunitas seni di Yogyakarta. Nasirun dikenal sebagai “seniman gorengan” dan Dunadi sebagai “seniman proyekan”. Istilah “gorengan” yang teridentifikasi pada sosok Nasirun, simpelnya, adalah kemampuan seniman ini untuk mengakomodasi sekian banyak kebutuhan pasar atas karya-karyanya.

Para pembutuh karya seni atau kolektor seni rupa pada awal kemunculan Nasirun di pertengahan 1990an dulu begitu antusias berburu karyanya. Dan Nasirun dengan gegas mampu memenuhi kebutuhan pasar. Maka “seniman gorengan” inilah yang kemudian menempel sebagai identitas di dirinya. Apalagi ada perluasan makna “gorengan” dalam dunia art market di Indonesia kala itu, yakni karyanya bisa dengan segera “digoreng” harganya hingga melambung angkanya.

Namun unik bahwa “olok-olok” tersebut tidak meruntuhkan reputasinya. Bahkan sebaliknya, Nasirun mampu bertahan sebagai seniman dengan segala kelebihan dan kekurangannya hingga 30an tahun sejak julukan atau olok-olok tersebut dulu muncul.

Di seberang itu, sosok Dunadi memiliki julukan sekaligus “olok-olok” sebagai seniman “proyekan”. Namanya nyaris tidak banyak beredar dalam orbit seni rupa karena sibuk menenggelamkan diri berkarya mengerjakan commission work atau karya order. Pesanan karya tersebut banyak berasal dari lembaga pemerintah atau non-pemerintah yang dalam prosesnya, pada akhirnya, menguji kemampuan Dunadi untuk adaptif dan berkompromi untuk menyepadankan kehendak pemesan.

Sebagai kreator, sudah tentu Dunadi mesti mampu mengadaptasi sisi idealisme yang harus dikendalikan untuk memenuhi standar lain yang ditentukan oleh sang pemesan. Dari sini Dunadi mampu belajar tentang manajemen dalam pengertian yang lebih luas. Tidak saja manajemen dalam konteks ekonomi dan keuangan, namun juga “manajemen estetika”. Dia lama-lama paham, kapan sebuah karya yang menjadi ekspresi personal itu hendak dibubuhi nilai idealisme, kapan commission work itu mesti harus mengedepankan aspek profesionalisme sesuai tuntutan pengorder.

Pameran “Arundhati” ini terasa tepat kehadirannya di tengah arus besar pameran seni rupa yang terus mengalir deras di Yogyakarta. Kita tahu, dalam setahun di Yogyakarta ada sekitar 400an lebih perhelatan seni rupa, terutama “menumpuk” pada sekitar bulan Juni-Agustus ketika perhelatan besar seni rupa Artjog berlangsung. Duet Dunadi dan Nasirun, dengan pencapaian artistik masing-masing diharapkan mendinamisasi jagat seni rupa, dan memperkaya perbendaharaan rupa bagi publik. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *