Selopamioro Menargetkan Bebas Stunting

beritabernas.com – Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta bekerjasama dengan Padukuhan Nogosari, Kalurahan Selopamioro, Kabupaten Bantul, DIY mengadakan pogram bertajuk Peningkatan Kapasitas Diri Remaja Melalui Pendekatan Community Participatory Menuju Desa Bebas Stunting.

Hal ini dilakukan karena stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Stunting yang terjadi pada usia dini dapat berlanjut dan berisiko untuk tumbuh pendek pada usia remaja.

Kepada beritabernas.com, Selasa 10 Oktober 2023, Ketua Tim Pengabdian dalam Masyarakat  Pemula Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta Mei Rianita Elfrida Sinaga S.Kep Ns M.Kep mengatakan, Padukuhan Nogosari, Selopamioro memiliki angka stunting 11 balita dan jumlah remaja sebanyak 90 remaja. Kegiatan remaja masih terfokus pada karang taruna. Belum adanya kader kesehatan remaja dan posyandu remaja.

Program kemitraan pencegahan stunting Stikes Yakkum Bethesda Yogyakarta dan warga Padukuhan Nogosari, Kalurahan Selopamioro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Foto: Istimewa

Sementara kejadian stunting terbanyak karena usia pernikahan dini. Selain itu masih rendahnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi dan belum pernah dilakukan deteksi dini tumbuh kembang.

“Kondisi ini menjadi fokus perhatian, dikarenakan kasus stunting yang tinggi di kelurahan Selopamioro termasuk dusun Nogosari paling banyak terjadi pada usia pernikahan dini. Sehingga ini akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan,” kata Mei Rianita.

Programasi yang diajukan untuk mendapatkan hibah dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi tersebut bermitra dengan kelompok karang taruna Forum Komunikasi Pemuda Nogosari (FKPN) yang berjumlah 30 remaja setempat.

BACA JUGA:

Kegiatan dimulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2023 ini dilakukan oleh tim yang ahli di bidang Keperawatan, Maternitas dan Komunitas. Dengan melibatkan peran aktif mahasiswa sebagai asisten di lapangan. Kegiatan yang dilakukan pada bulan Agustus meliputi pemberian edukasi kesehatan terkait kesehatan reproduksi, faktor risiko penyebab stunting pada remaja, kebutuhan nutrisi remaja untuk mencegah stunting.

Sedang pada bulan Oktober pembentukan susunan pengurus posyandu remaja dan kader kesehatan. Dilanjutkan dengan pelatihan dan workshop pembuatan media edukasi kreatif dan olahan bahan pangan lokal tinggi protein untuk anti stunting.  Dengan tetap mempertimbangkan yang memiliki nilai ekonomis dan meningkatkan kreativitas remaja, guna mewujudkan desa bebas stunting.

Generasi muda Padukuhan Nogosari, Kalurahan Selopamioro, Kabupaten Bantul berpartisipasi aktif dalam pengurangan stanting di wilayahnya. Foto: Istimewa

Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari Kepala Dukuh Nogosari Pak Nardi. Pihaknya mengaku bangga dan ikut merasa terbantu karena program remaja bisa hidup kembali dan ternyata ada banyak program bisa dikembangkan.

Hal senada dirasakan Ketua FKPN Rohman Sholeh. Dirinya dan teman-temannya mengapresiasi dan antusias ingin melanjutkan program ini. Sehingga mampu meningkatkan motivasi dan kreativitas remaja. Yang selama ini hanya fokus pada program karang taruna sedangkan untuk masalah kesehatan tidak pernah terpapar baik. (ag irawan)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *