beritabernas.com – Ketika menceritakan kegiatan mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki ke berbagai taman doa dan Gua Maria dengan jarak yang jauh kepada teman, beragam tanggapan yang didapat. Ada yang kagum dengan mengatakan: wah luar biasa. Ada pula yang kaget dan heran dengan mengatakan: kok bisa? Sementara tidak sedikit pula yang menanggapi dengan nada sinis: kurang gawean (kurang kerjaan, red).
Tentu tanggapan sinis dengan mengatakan kurang gawean tidak membuat saya marah atau tersinggung. Saya justru menanggapinya dengan tersenyum bahkan tertawa lebar. Mengapa? Karena dua alasan. Pertama, saya menganggap mereka yang mengatakan kurang gawean tidak benar-benar sinis tapi bentuk ekspresi yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak bisa/mampu meakukan hal yang sama yakni berjalan kaki dalam jarak belasan bahkan puluhan kilometer.
Baca juga:
- Romo Andik Darmawanto O.Carm: Kegiatan Mlampah Ziarah Bukan Sekadar Perjalanan Fisik
- Kegiatan Mlampah Ziarah Menyebar “Virus” Kebaikan
- Membudayakan Ziarah dengan Jalan Kaki, 150 Peserta Siap Jalan dari Tugu ke Sendangsono
- Kegiatan Wlampah Ziarah dari Tugu Jogja ke Sedangsono Ikut Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Kedua, faktanya adalah anggota Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) yang mengikuti kegiatan mlampah ziarah adalah orang-orang yang punya kesibukan yang luar biasa, termasuk masih aktif bekerja. Apalagi kegiatan mlampah ziarah dilakukan pada hari Minggu yang merupakan hari libur nasional atau hari Sabtu yang umumnya juga merupakan hari libur.
Mereka menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan mlampah ziarah ke berbagai taman doa, seperti Gua Maria Jatingingsih di Godean, Sleman; Gua Maria Sringingsih di Prambanan, Klaten; Guma Maria Pojok di Kulonprogo; Taman Doa Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Bantul dan sebagainya. Di luar itu, mereka mengikuti kegiatan utama dan rutin setiap bulan yakni mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki ke Gua Maria Lourdes Sendangsono, Banjaroyo, Kalibawang, Kulonprogo, DIY yang lebih dikenal dengan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) yang dilaksanakan sejak Juli 2025.

Bagi yang menilai mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki sebagai kurang gawean karena mereka melihat kegiatan tersebut hanya dari kegiatan fisik semata, yakni berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Sementara bagi mereka yang aktif mengikuti mlampah ziarah, termasuk WMSS, itu bukan semata-mata kegiatan atau perjalanan fisik, tapi perjalanan rohani/spiritual dan penghayatan dan pengamalan iman Katolik.
Seperti ditegaskan Romo Andik Darmawanto O.Carm saat memimpin misa di Gua Maria Lourdes Sendangsono pada WMSS#5 pada Minggu 16 November 2025, kegiatan mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki, termasuk ke Gua Maria Lourdes Sendangsono, bukan sekadar perjalanan fisik. Di balik perjalanan fisik yang melelahkan sejauh hampir 30 kilometer itu, ada perjalanan hati, peziarahan hati yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi hanya bisa dirasakan oleh peserta mlampah ziarah.
“Ini bukan sekadar perjalanan fisik tapi perjalanan hati, peziarahan hati. Perjalanan panjang, melelahkan dan tidak selalu mulus. Itulah perjalanan iman. Iman tumbuh dan berkembang dalam tantangan,” kata Romo Andik ketika itu.
Hal yang kurang lebih sama disampaikan Romo Hari Suparwito SJ, Romo Moderator Komunitas Mlampah Ziarah, yang memimpin misa di Gereja Promasan pada WMSS#6, Minggu 16 Desember 2025. Dalam homilinya, Romo Hari-sapaan Romo Hari Suparwito SJ, mengatakan, meski arah dan tujuan peziarahan hidup kita tidak jelas, namun dengan iman dan kepercayaan peziarahan itu penuh dengan sukacita.
“Peziarahan kita di dunia ini harus dilalui dengan sukacita. Dalam peziarahan ada sukacita, ada pengharapan. Meski hidup ada masalah, namun karena ini adalah peziarahan hidup maka kita harus menjalaninya dengan penuh sukacita, dengan penuh pengharapan,” kata Romo Hari ketika itu.

Dalam bahasa Ketua Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) Roni Romel yang juga inisiator dan pendirim KMZ bersama AM Kuncoro, Stevanus Hening dan Anastasia Meilani, kegiatan mlampah ziarah sebagai wujud dari penghayatan iman bahwa ziarah menuntut perjuangan, perngobanan dan penuh pengharapan.
Dalam pandangan Gereja Katolik, kata Roni Romel, ziarah adalah perjalanan rohani yang dilakukan dengan tujuan memperdalam iman, mencari bimbingan atau menghormati tempat-tempat suci yang berkaitan dengan Yesus, Maria atau orang-orang kudus. Ziarah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengalami transformasi spiritual.
Ziarah juga dapat dilihat sebagai perjalanan hidup itu sendiri, di mana peziarah menghadapi berbagai tantangan dan pengalaman yang pada akhirnya membantu mereka bertumbuh dalam iman.
“Ziarah dalam Katolik adalah perjalanan suci yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memperdalam iman dan mengalami transformasi spiritual, baik secara pribadi maupun bersama komunitas,” demikian pemahaman iman Roni Romel.

Karena kekuatan iman dan kepercayaan itulah bahkan dialami dan dirasakan sendiri oleh setiap pribadi peserta bahwa dalam mlampah ziarah ada sukacita, kegembiraan dan pengharapan maka jarak yang jauh, udara yang panas atau guyuran hujan sepanjang perjalanan ziarah, bukan menjadi halangan atau hambatan.
Iman dan kepercayaan itulah yang mendorong para anggota KMZ untuk selalu mengikuti kegiatan mlampah ziarah di berbagai taman doa di berbagai tempat, bukan karena kurang gawean. Semakin teguh iman dan kepercayaan serta semakin mengalami dan merasakan sukacita, kegembiraan dan harapan selama mengikuti kegiatan mlampah ziarah maupun sesudahnya maka semakin banyak orang tertarik dan mau mengikuti kegiatan mlampah ziarah.
Karena itu, jangan melihat kegiatan mlampah ziarah semata-mata dari kacamata fisik, tapi harus dilihat dari kacamata iman dan kepercayaan. Secara fisik pun kegiatan mlampah ziarah sangat bermanfaat untuk menyehatkan badan/raga.
Dengan berhasil mengikuti mlampah ziarah dalam jarak yang jauh membuktikan bahwa mereka sehat secara jasmani, raga/badan. Dengan sendirinya pula sehat secara rohani dan jiwa. Mens sana in corpore sano atau di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat. Pikiran yang sehat (penuh sukacita dan kegembiraan) di dalam tubuh yang sehat. Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan dan itu ada dalam kegiatan mlampah ziarah. (philipus jehamun)
There is no ads to display, Please add some