beritabernas.com – Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 Ikamaya (Ikatan Keluarga Manggarai-Yogyakarta) di Aula STPMD Jalan Timoho Yogyakarta, Minggu 4 Januari 2025, berlansung meriah. Acara yang dihadiri sekitar 400 warga Manggarai yang ada di Yogyakarta, baik anak-anak, remaja, pemuda/ mahasiswa hingga orangtua itu sarat dengan budaya Manggarai mulai dari pakaian, penampilan seni suara maupun tari hingga paduan suara yang mengiringi perayaan Ekaristi.
Dalam perayaan Natal dan Tahun Baru Ikamaya dengan tema Le Ca Ite Cama Mai, kudu Naka Cain Mori Agu Kapu Ntaung Weru yang menurut Pater Ponsianus Ladung CMF berarti oleh persatuan, kita berkumpul menyambut datangnya Tuhan dan Tahun Baru, juga diisi dengan pelantikan pengurus Ikamaya periode 2026-2027 yang diketuai Seltus Fridolin Karson menggantikan Hendrikus Geo.
Baca juga:
- Lewat Tarian Caci, Orang Manggarai di Jogja Melestarikan Seni dan Budaya Daerah
- Catat Sejarah Baru, Putra Manggarai Flores Terpilih jadi Hakim Mahkamah Konstitusi RI
- Menjelang Pagelaran Seni Budaya Manggarai, Pengurus Ikamaya Audiensi ke Bupati Sleman
- Menjelang Reuni Akbar 2024, Alumni Ikamaya Tanam Pohon Hias Perkotaan
Perayaan Natal dan Tahun Baru Ikamaya ini diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Pater Bernandus Kara OCD sebagai selebran utama dengan konselebran Pater Ponsianus Ladung CMF dan Pater Edilirinimus Agun SVD diiringi paduan suara gabungan orangtua dan mahasiswa dengan lagu-lagu daerah Manggarai.
Jeremias Lemek yang mewakili orangtua Manggarai menyambuat baik diadakannya Perayaan Natal dan Tahun Baru Ikamaya kali ini. Sebab, perayaan Natal dan Tahun Baru merupakan kesempatan yang baik untuk mempertemukan warga Manggarai yang ada dan tinggal di Yogyakarta sebagai sesama perantau. Ia juga mengapresiasi kerja keras panitia sehinga Perayaan Natal dan Tahun Baru yang dihadiri begitu banyak orang Manggarai di Yogyakarta ini bisa terselenggara dan sukses.

Sementara Pater Ponsianus Ladung CMF yang biasa dipanggil Pater Ponsi dalam homilinya, mengatakan, warga Ikamaya merupakan kumpulan orang-orang yang merantau dari Manggarai ke Yogyakarta. Mereka datang jauh-jauh, meninggalkan kampung halaman, orangtua, keluarga dan sanak saudara demi menuntut ilmu.
Mengutip pepatah kuno Manggarai, don lako don ita yang berarti semakin jauh berjalan, semakin luas pengetahuan/pemahaman, Pater Ponsi mengatakan bahwa lako atau berjalan bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun berjalan jauh dari Manggarai, menjadi perantau, menjadi orang-orang yang meninggalkan negerinya di Timur karena takjub dan karena bintang yang kita kejar.
Mengutip bacaan Injil Minggu 4 Januari 2026, Pater Ponsi menyebut tiga orang majus dari Timur meninggalkan negeri asal karena takjub dengan bintang yang mereka lihat. Para Majus adalah sosok perantau dalam kisah Natal. Mereka tidak berasal dari pusat iman di Israel tapi dari Timur, dari negeri yang jauh.
“Para Majus adalah orang-orang yang meninggalkan rumah, meninggalkan kemapanan, meninggalkan tanah air dan keluarga dalam lain-lain demi sesuatu yang lebih mulia yakni perjumpaan dengan Tuhan yang lahir dalam palungan di Betlehem,” kata Pater Ponsi.

Dalam perjalan menuju Betlehem, menurut Pater Ponsi, tiga “anak rantau” atau para Majus dari Timur itu dituntun oleh cahaya bintang. Mereka tidak punya kompas atau penunjuk arah, apalagi google map, namun mereka hanya mengikuti arahan bintang. “Bintang dalam teks ini bukan sekadar benda langit tapi simbol dari panggilan Ilahi,” kata Pater Ponsi.
Perjalanan tiga Majus dari Timur digerakkan dan dituntun oleh cahaya Ilahi. “Bintang itu bisa berupa harapan, cita-cita masa depan, keluarga atau panggilan hidup. Bintang itulah yang memanggil mereka keluar dari Timur menuju Betlehem. Bintang itulah yang menggerakkan mereka keluar dari dunia lama menuju sukacita dunia yang baru, di Betlehem,” kata Pater Ponsi.
Menurut Pater Ponsi, dalam hidup sebagai perantau juga selalu ada “bintang” yang membuat kita takjud. Bintang itu bisa berupa harapan, cita-cita masa depan, keluarga atau panggilan hidup. “Bintang itu adalah kompas yang membuat kita selalu terarah, fokus pada tujuan. Kita belajar dari para Majus, tiga “anak rantau” dari Timur itu, yang benar-benar fokus pada bintang meraka,” kata Pater Ponsi.
Usai perayaan Ekaristi diisi dengan anek penampilan seni dari anak-anak muda/mahasiswa Manggarai yang berlajar/kuliah di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Sembari menikmati penampilan aneka seni, warga Ikamaya yang hadir dalam perayaan Natal dan Tahun Baru ini menikmati makan siang yang disediakan panitia. (phj)
There is no ads to display, Please add some