Perkuat Komitmen Ekologis, 65 Penggiat KKPKC se-KAS Rumuskan Strategi Paroki Hijau

beritabernas.com – Sebanyak 65 penggiat Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan se-Keuskupan Agung Semarang (KKPKC KAS) merumuskan strategi Paroki Hijau di Yogyakarta sebagai wujud komitmen ekologis. Hal itu dilakukan dalam pertemuan yang berlangsung di Wisma Syantikara Yogyakarta pada 24–25 Januari 2026.

Kegiatan KKPKC KAS dengan tema Merawat Sesama Ciptaan, Mewujudkan Iman yang diikuti 65 peserta perwakilan dari Kevikepan Semarang, Surakarta, Kedu, Yogyakarta Barat dan Yogyakarta Timur ini membahas penguatan komitmen Gereja dalam merespons krisis lingkungan hidup yang semakin nyata, mulai dari perubahan iklim, pencemaran, penurunan kualitas air dan udara hingga kerusakan ekosistem.

Baca juga:

Selain itu, forum ini diarahkan untuk memperkuat implementasi nilai-nilai Ensiklik Laudato Si’ dalam program dan advokasi di tingkat kevikepan, yang diturunkan hingga paroki.

Dalam sesi paparan program kegiatan Laudato Si’ di DIY, Patricius Kianto Atmodjo selaku salah satu pemateri menekankan pentingnya membangun relasi yang harmonis dengan alam sebagai bagian dari penghayatan iman. “Kita punya visi menjadi komunitas beriman, hidup harmoni dengan alam. Bukan mendominasi,” kata Patricius Kianto.

Kusno. Dok KKPKC

Ia mengatakan konsep ekologi menempatkan setiap ciptaan pada fungsi dan perannya masing-masing. “Tidak ada yang dominan, enggak ada yang inferior, enggak ada yang superior. Semuanya ada tempatnya, semua ada posisinya,” kata Patricius.

Sementara Kusno, praktisi pertanian dan pengolahan pangan dari Paroki Wonosari, Gunungkidul, membagikan praktik ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Ia mencontohkan pemanfaatan koro pedang yang selama ini kurang dikenal, namun dapat dikembangkan menjadi bahan pangan dan produk olahan bernilai ekonomi. “Koro pedang ini barang yang tinggalan dari nenek-moyang kita. Sebenarnya ini sudah lama, terlupakan,” kata Kusno.

Menurut Kusno, pengembangan koro pedang dilakukan bersama warga di lingkungan paroki, termasuk ibu-ibu dan petani yang menanam serta mengolah hasilnya. “Di gereja kami, ibu-ibu dan para petani sudah menanam ini, lalu kami lakukan pengolahan,” ujarnya.

Ia mengatakan, proses produksi juga membuka ruang pemberdayaan warga sekitar. “Saya butuh tenaga tetangga untuk bantu ngupas, bantu motong. Jadi tetangga ikut terlibat dalam proses produksi,” kata Kusno.

Romo Adolfus Suratmo Atmomartaya,Pr. Foto: Dok KKPKC

Selain koro pedang, ia juga mencontohkan pengolahan limbah menjadi produk pangan. “Gedebok pisang pun saya olah menjadi keripik gedebok pisang. Kami memanfaatkan limbah untuk menjadi makanan,” ucapnya seraya menambahkan bahwa pendekatan ini tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah, tetapi juga memberi peluang ekonomi berbasis komunitas.

Dr Sri Susilo MSi, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), yang mengangkat tema Ekonomi Sirkular, Gaya Hidup Laudato Si’ dan Paroki Hijau mengatakan bahwa ekonomi sirkular menekankan aktivitas nyata yang memberi nilai tambah dari sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna. “Tujuannya adalah bagaimana kegiatan ini menjadikan sampah menjadi nilai tambah yang lebih besar,” kata Susilo.

Menurut Susilo, praktik 3R (reduce, reuse, recycle) menjadi bagian penting dari gaya hidup yang dapat diterapkan dalam komunitas paroki. Ia mencontohkan perubahan kebiasaan sederhana seperti membawa tas pakai ulang untuk memperpanjang siklus penggunaan produk sehingga sampah berkurang.

Romo Bernadus Himawan Pr. Foto: Dok KKPKC

Dalam sesi pengenalan Unit Pengembangan Pastoral (UPP) Kemasyarakatan dan Advokasi KAS, Romo Andreas Sulardi Pr menyampaikan bahwa UPP berperan memberi kajian dan pertimbangan strategi pastoral, termasuk advokasi kebijakan publik. “Tujuan UPP adalah membantu gereja makin relevan dan signifikan di tengah masyarakat,” kata Romo Andreas.

Ia menyebut UPP memiliki empat fokus, yakni aktualisasi Gereja yang relevan, advokasi kebijakan publik, kaderisasi partisipasi kaum awam, serta pembacaan konteks pastoral sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan keuskupan.

Paparan tentang jejaring pelayanan kemanusiaan disampaikan Romo Bernadus Himawan Pr terkait program KARINA KAS. Ia menjelaskan KARINA terhubung dalam jaringan karitas dari tingkat internasional hingga lokal, serta berakar pada prinsip ajaran sosial Gereja. “Nilai-nilai karitas ini berkomitmen untuk berakar kuat pada prinsip-prinsip dan ajaran sosial gereja: martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, dan pengelolaan yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Dr Sri Susilo. Foto: Dok KKPKC

Ia juga menegaskan bahwa keutuhan ciptaan tidak dapat dipisahkan dari kesiapsiagaan bencana, karena kerusakan lingkungan dapat memicu dampak berantai bagi masyarakat. “Alam itu diciptakan bukan untuk kita eksploitasi, tetapi kita dipanggil untuk punya tanggung jawab yang jelas,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan, mitigasi, dan kolaborasi lintas pihak agar penanganan bencana tidak hanya bersifat reaktif. “Tanggap bencana itu harus sesuai dengan siklusnya. Tidak hanya bergerak ketika ada bencana,” ujarnya.

Ketua KKPKC KAS Romo Adolfus Suratmo Atmomartaya Pr menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan agenda rutin yang digelar dua kali setiap tahun, yakni pada awal dan akhir tahun, dengan fokus tema yang disesuaikan kebutuhan. “Tiap tahun dua kali. Awal dan akhir tahun,” kata Romo Ratmo saat ditemui di sela kegiatan.

Ia menambahkan, tema Paroki Hijau dipilih sebagai bagian dari upaya memperkuat gerakan ekologis integral di paroki. Romo Suratmo juga menyoroti pentingnya regenerasi dan pelibatan kaum muda dalam karya KKPKC, terutama di wilayah yang selama ini masih didominasi kader senior. “Kerinduan saya dilengkapi dengan potensi sumber daya yang semakin muda, semakin energik,” ujarnya.

Romo Andreas Sulardi Pr. Foto: Dok KKPKC

Menurut Romo Ratmo, mandat KKPKC tidak hanya mencakup isu keutuhan ciptaan, tetapi juga persoalan sosial kemasyarakatan yang lebih luas. “Karya KPKC itu tidak hanya keutuhan ciptaan… ada intoleransi, kekerasan dalam rumah tangga, narkoba, HIV, ini juga mandat isu yang harus disentuh,” kata Romo Suratmo seraya menegaskan perlunya menjaga keseimbangan agar pelayanan komisi tetap menyentuh keadilan, perdamaian, dan lingkungan secara utuh.

Di akhir pertemuan, sejumlah peserta mengaku memperoleh perspektif baru bahwa merawat ciptaan dapat dimulai dari hal sederhana di lingkungan paroki dan keluarga. Dari praktik pengolahan pangan berbasis kearifan lokal hingga kebiasaan mengurangi sampah, peserta menilai gerakan ekologis integral bisa menjadi ruang keterlibatan umat lintas usia, sekaligus memperkuat solidaritas di tengah masyarakat. (phj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *