beritabernas.com – Berawal dari sebuah riset pribadi di masa pandemi COVID-19, Hukla Agusta, seorang mantan model profesional dengan pengalaman sejak tahun 1997, mendirikan Blink Models pada April 2022.
Keputusan ini lahir dari keinginannya untuk membimbing anak-anak dan remaja putri, agar dapat tampil percaya diri dan menguasai dunia modeling. Berlokasi di Depok, Blink Models merupakan sebuah wadah pembentukan karakter dan profesionalisme bagi generasi muda.
Motivasi pendirian
Setelah 10 tahun bergelut sebagai ibu rumah tangga, Hukla menyadari adanya kebutuhan untuk bangkit dan berkarya. Pengalamannya sebagai model selama bertahun-tahun memberinya bekal pengetahuan dan keahlian yang unik. Ketika putri temannya, hendak mengikuti lomba modeling, Hukla merasa terpanggil untuk berbagi ilmunya.

Hukla sempat ragu. Jeda waktu yang cukup lama sejak terakhir kali ia aktif di dunia modelling. Ia mulai mengamati dan mendiagnosis gerakan Zehi, putri Chritiana Wijaya, temannya itu. Hukla memberikan arahan kecil yang ternyata membawa perubahan signifikan. Kemenangan Zehi dalam lomba tersebut menjadi pemicu keyakinan Hukla bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengajar dan membimbing orang lain. Dan, Zehi murid pertama Hukla, kini telah menjadi seorang model profesional.
Di Blink Models, Hukla tidak hanya mengajarkan teknik dasar modeling seperti berjalan dan berpose, tetapi juga menekankan pentingnya mindset dan self-awareness. Ia percaya bahwa memahami tujuan dari setiap gerakan dan memiliki pemahaman yang benar tentang profesi model adalah kunci keberhasilan. Siswa diajarkan bahwa menjadi model adalah sebuah profesi yang memiliki tugas dan tanggung jawab, bukan sekadar aktivitas berjalan di atas catwalk atau berfoto.
Proses pembelajaran di Blink Models dimulai dari dasar, dengan fokus pada cara berpikir yang benar. Hukla menjelaskan bahwa banyak siswa, terutama yang berusia remaja, memiliki pemahaman yang terbatas tentang dunia modeling. Oleh karena itu, Blink Models berupaya meluruskan persepsi tersebut dan membangun fondasi yang kuat. Latihan yang berulang-ulang dilakukan untuk membentuk memori otot, sehingga gerakan yang ditampilkan terlihat natural dan terkontrol.
Metode pengajaran
Sejak awal pendiriannya, Hukla yang adalah putri Leon Agusta, seorang pengarang dari Minangkabau ini telah menyusun konsep dan kurikulum yang matang. Blink Models memulai kelasnya di ruang tamu rumah ibunya di Pondok Sukmajaya, Depok, dengan hanya satu murid. Namun, dengan prinsip pengajaran yang konsisten dan tidak menggabungkan siswa dari level yang berbeda dalam satu kelas, Blink Models perlahan berkembang. Setiap paket pembelajaran dijalankan hingga selesai sebelum menerima siswa baru untuk paket yang sama, memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian penuh dan materi yang utuh.
Baca juga:
- Novotel Suites Yogyakarta Malioboro Gelar Fashion Runaway Bertema Wastra Katresnan
- Rafaela Evbadazehi Christy Akinyemi, Gadis Peranakan Indonesia-Nigeria yang Menginspirasi Lewat Dunia Modeling
- D’SAYANG BAND Siap Guncang Blantika Musik Tanah Air dengan Lagu “ASSALAMUALAIKUM SAYANG”
Seiring waktu, Blink Models berkembang pesat hingga akhirnya membutuhkan tempat yang lebih representatif. Tiiga tahun lalu, mereka pindah tempat ke sebuah ruko di Jl. Proklamasi, menempati ruang yang lebih memadai, yakni bekas studio. Kini, Blink Models telah membimbing sekitar 200 murid, dengan siswa yang berasal tidak hanya dari Depok, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Bogor,,Bandung, Tangerang, Rawa Mangun, Cempaka Putih, Tanjung Priok, dan Pasar Minggu. Bahkan ada yang dari Jerman yang mengikuti kelas saat liburan. Promosi melalui media sosial menjadi kunci jangkauan yang luas ini.
Meskipun Blink Models menawarkan materi public speaking sebagai pelengkap, Hukla menegaskan bahwa fokus utamanya tetap pada pembentukan skill modeling. Materi public speaking bersifat sebagai pengantar, bukan pelatihan mendalam. “Prinsip utama yang kami tanamkan adalah mengajari siswa untuk membawa diri dengan baik, tampil percaya diri di berbagai situasi, dan memancarkan energi yang sesuai dengan karakter busana yang dikenakan,” jelas Hukla.
Lebih dari sekadar mengajarkan teknik, Blink Models bertujuan untuk membangun kepercayaan diri siswa. “Dengan memiliki ground confidence, para siswa akan lebih berani memperkenalkan diri, membangun relasi dengan para profesional di industri seperti make up artist (MUA), dan secara aktif mempromosikan diri mereka di media sosial. Keberanian inilah yang menjadi modal penting bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan kerja di masa depan,” tutur Hukla.
Blink Models tidak bertindak sebagai agensi yang mencarikan pekerjaan bagi lulusannya. Namun, dengan bekal kepercayaan diri dan skill yang mumpuni, para lulusan didorong untuk proaktif mencari peluang dan membangun karier mereka sendiri.

Toh, Blink Models juga tidak melepas begitu saja para alumninya. Bahkan juga para siswa yang masih belajar modelling, diarahkan ke agency dan PH yang menjadi mitra. HR Blink Models, Christiana Wijaya mengatakan, pihaknya berusaha memberi informasi dan mengarahkan para siswa dan lulusan ikut audisi di Agensi dan PH. “Kalian tidak usah takut. Kalian tidak harus menjadi model runway, bisa juga jadi model katalog, fotomodel atau artis sinetron” ujarnya.
Standar model profesional, ujar Christiana Wijaya, baik nasional dan internasional, untuk Wanita tinggi badan antara 173-175 cm, dan pria 175-180 cm. “Beberapa model alumni Blink Model telah berkiprah di dunia modelling, film, dan sinetron, di antaranya Nadine, Sakura, Cinda, Kaila, dan Zehi,” ungkapnya.
Ekspektasi orang tua yang mendaftarkan anak-anak mereka di Blink Models umumnya adalah agar anak-anak mereka lebih percaya diri, memiliki postur tubuh yang baik, dan memiliki aktivitas yang positif. Hukla Agusta bertekad Blink Models dapat terus membimbing anak-anak dan remaja untuk menjadi model profesional yang tidak hanya memiliki skill di atas catwalk atau di depan kamera, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, percaya diri, dan mampu membawa diri dengan baik di industri fesyen yang dinamis.
”Penting banget para model menjaga kesehatan fisik dan penampilan secara keseluruhan, mulai dari kulit, rambut, hingga kuku, karena model adalah representasi dari sebuah produk,” tegas Hukla Agusta. (Anton Sumarjana)
There is no ads to display, Please add some