Oleh: Eduward Hutapea, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis
beritabernas.com – Setiap kali tempat pemrosesan akhir diperluas, kita berharap persoalan sampah segera teratasi. Setiap kali teknologi pengolahan limbah ditingkatkan, kita membayangkan sungai akan kembali bersih. Ketika banjir datang, tanggul diperkuat; ketika kekeringan mengancam, bendungan dibangun.
Namun, di Pulau Jawa, kerusakan lingkungan terus berulang. Sampah bertambah, sungai tetap tercemar, kawasan resapan menyusut, dan bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi. Pertanyaannya, apakah yang sebenarnya kurang: teknologi, regulasi, atau cara kita memandang alam?
Selama dua dekade terakhir, berbagai kebijakan lingkungan telah dijalankan. Infrastruktur pengelolaan sampah dibangun, rehabilitasi daerah aliran sungai diperluas, penghijauan digencarkan, dan transisi menuju energi bersih mulai didorong. Semua langkah itu penting dan harus terus dilakukan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum selalu berbanding lurus dengan membaiknya kualitas lingkungan.
Dalam Pekan Lingkungan Hidup Indonesia 2026, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan teknis. Pernyataan ini layak menjadi bahan refleksi. Bisa jadi, yang sedang kita hadapi bukan semata-mata krisis lingkungan, melainkan krisis kesadaran ekologis.
Baca juga:
- Pengelolaan Sampah: Membangun Sistem, Bukan Sekadar Membeli Mesin
- Dalam Hal Pengelolaan Sampah, Indonesia Membutuhkan “Dokter” Lingkungan
- Mengapa Banyak Teknologi Pengelolaan Sampah Gagal?
- Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Selalu Terjadi?
Selama ini perhatian kita lebih banyak tertuju pada penanganan dampak daripada penyebab. Ketika TPA penuh, kapasitasnya ditambah. Ketika sungai tercemar, teknologi pengolahan limbah diperbarui. Ketika banjir datang, sungai dinormalisasi. Semua langkah tersebut diperlukan, tetapi lebih banyak mengatasi gejala daripada akar masalah. Kita sibuk mengelola sampah, tetapi jarang mempertanyakan mengapa pola konsumsi masyarakat terus menghasilkan sampah dalam jumlah yang semakin besar. Kita membersihkan sungai, tetapi belum sungguh-sungguh mengubah pola produksi dan perilaku yang terus mencemarinya.
Filsuf Reza A.A. Wattimena menyebut kecenderungan ini sebagai jebakan berpikir teknis—keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui teknologi atau infrastruktur baru. Padahal, banyak persoalan lingkungan berakar pada sistem nilai dan cara hidup manusia. Pandangan serupa dikemukakan Arne Naess melalui konsep deep ecology. Menurutnya, penyelesaian krisis ekologis tidak cukup dengan mengendalikan dampaknya, tetapi harus menyentuh cara pandang manusia terhadap alam.
Di sinilah gagasan pertobatan ekologis menemukan relevansinya. Konsep yang dipopulerkan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ bukan sekadar ajakan religius, melainkan seruan universal untuk membangun hubungan baru antara manusia dan bumi. Alam tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber daya ekonomi, melainkan rumah bersama yang menopang kehidupan seluruh makhluk.
Pertobatan ekologis berarti mengubah kebiasaan sehari-hari: mengurangi timbulan sampah, menggunakan energi secara bijak, menghemat air, memilih produk yang lebih ramah lingkungan, dan membatasi konsumsi yang berlebihan. Namun perubahan individu saja tidak cukup.
Pemerintah perlu menegakkan hukum lingkungan secara konsisten dan menyusun tata ruang berdasarkan daya dukung lingkungan. Dunia usaha harus mempercepat ekonomi sirkular yang meminimalkan limbah sejak proses produksi. Sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan lembaga keagamaan pun perlu membangun budaya yang menghormati alam sebagai bagian dari pembentukan karakter warga.
Jawa sesungguhnya tidak kekurangan teknologi ataupun regulasi. Yang lebih mendesak adalah perubahan cara pandang yang menempatkan keberlanjutan sebagai dasar pembangunan. Tanpa perubahan kesadaran tersebut, berbagai solusi teknis hanya akan menjadi pekerjaan yang terus diulang tanpa pernah menyelesaikan akar persoalan.
Sebaliknya, jika kesadaran ekologis tumbuh menjadi budaya, Jawa tidak hanya mampu mengurangi kerusakan lingkungan hari ini, tetapi juga mewariskan ruang hidup yang lebih sehat, adil, dan lestari bagi generasi mendatang. Masa depan bumi, pada akhirnya, lebih banyak ditentukan oleh kebijaksanaan manusia daripada kecanggihan teknologi yang dimilikinya. (*)
There is no ads to display, Please add some