beritabernas.com – Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru, Kota Yogyakarta genap berusia 100 tahun atau satu abad pada tahun 2026 ini. Serangkaian kegiatan telah dan akan digelar untuk memeriahkan ulang tahun Gereja Katolik yang berada di Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta ini.
Salah satu kegiatang yang paling meriah untuk memeriahkan HUT ke-100 Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru adalah malam tirakatan dan sarasehan kebinekaan yang digelar pada Jumat 25 September 2026 sore dilanjutkan dengan pentas seni pada malam hari.
Semarak Malam Tirakatan HUT ke-100 Gereja Padua Kotabaru ini berlangsung dengan penuh rasa syukur, hangat dan sarat makna. Acara ini sebagai salah satu bagian utama dari rangkaian peringatan satu abad berdirinya Gereja Katolik St Antonius Kotabaru. Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Harian pada pukul 17.30 WIB, dilanjutkan sarasehan bersama Romo Dr Martinus Joko Lelono Pr dan aktivis kebinekaan Inaya Wahid dan ditutup dengan refleksi mendalam dari Pastor Paroki Kotabaru.

Dalam sarasehan itu, Romo Dr Martinus Joko Lelono Pr menekankan pentingnya semangat memperbaharui diri secara terus-menerus bagi gereja dan umat. Ia mengatakan bahwa “DNA Kotabaru” adalah Gereja yang menolak tua. Gereja senantiasa aktif mencari cara-cara terbaru untuk menemukan hal-hal yang membawa kemuliaan lebih besar bagi Tuhan, selaras dengan semangat para imam Serikat Yesus (SJ), Ad Maiorem Dei Gloriam.
Spiritualitas ini mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperbaharui diri dan aktif mencari jalan terbaik dalam terlibat di kehidupan bermasyarakat hari ini. Menanggapi dinamika dan tantangan zaman, Romo Joko Lelono mengingatkan agar umat senantiasa menjaga harapan sekecil apa pun di dalam diri, meneladani pesan Paus Fransiskus bahwa masih ada hal baik yang menanti kita di depan sana.
Pesan kebinekaan
Sementara Inaya Wahid memberikan penegasan kuat yang memantik optimisme para peserta. Mengutip pemikiran filsuf dan konsep Misykāt (ceruk cahaya) dari Al-Ghazali, Inaya menekankan bahwa kebahagiaan dan titik terang akan selalu ditemukan dalam kondisi paling gelap sekalipun, asalkan ada keberanian untuk menyalakan lampunya.
Baca juga:
- Romo Dr Joko Lelono: Isu Kristenisasi Hanya Prasangka yang Menghambat bagi Karya Kemanusiaan
- Romo Martinus Joko Lelono: Tindakan Nyata Sangat Penting dalam Mewujudkan Ajaran Kasih
- Umat Kristiani Didorong untuk Terlibat Aktif dalam Gerakan-gerakan Cinta Tanah Air
“Mungkin hari ini kalau kita merasakan bahwa hidup lagi gelap, kebahagiaan itu akan selalu bisa ditemukan di dalam kondisi paling gelap sekalipun kalau seseorang ingat menyalakan lampunya. Dalam kondisi negara yang paling gelap sekalipun, kalau kita mau menyalakan lampunya, kita akan jadi terang. Seperti konsep Misykāt Al-Ghazali, ceruk cahaya kecil saja-tidak harus seperti obor di GBK,” ujar Inaya Wahid.
Secara khusus, Inaya mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif melalui tradisi membaca dan memperluas ilmu. Bagi orang muda, membaca tidak sebatas berhadapan dengan teks formal, tetapi juga berarti pergi sejauh-jauhnya, menemui banyak orang, dan memahami beragam realitas kehidupan di tengah masyarakat.
Romo Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho SJ, Pastor Paroki St Antonius Kotabaru, mengajak seluruh umat untuk berani melangkah keluar dan memberikan kontribusi nyata di tengah pergumulan dunia. Dengan nada bertanya, Romo Fajar mengatakan, apakah muncul dalam ide gagasanku bahwa aku ingin terlibat dan ingin ambil bagian dalam mengurai berbagai kekusutan, kegelapan yang tanpa harapan? Ini adalah pertanyaan tentang mana yang membawaku kepada kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Rom Fajar mengutip pesan dari Pater Jenderal Serikat Yesus yang mengingatkan agar umat tidak membiarkan diri dipenuhi rasa cemas terhadap perubahan zaman, melainkan fokus pada apa yang dapat ditawarkan untuk kebaikan bersama.
“Pater Jenderal Serikat Yesus pernah mengatakan: jangan takut dengan dunia yang berubah, tetapi takutlah kalau dalam perubahan itu kita tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan,” kata Romo Fajar.
Rangkaian acara Malam Tirakatan dan Sarasehan Kebinekaan ini menjadi momentum reflektif yang tidak hanya merayakan perjalanan panjang sejarah 100 tahun Gereja St Antonius Padua Kotabaru, tetapi juga mempertegas komitmennya untuk terus hadir sebagai penuntun, pembawa harapan dan pelayan kebinekaan di tengah masyarakat. (*/phj)
There is no ads to display, Please add some