Feminitas dan Kuasa: Menakar Ulang Otoritas

Oleh: Rahma Hairunnisa Regita Putri, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Cendekia Mitra Indonesia

beritabernas.com – Selama berabad abad, kuasa nyaris selalu berbicara dalam bahasa maskulin. Otoritas diidentikkan dengan ketegasan, dominasi, dan keberanian yang konon hanya dimiliki laki laki. Perempuan yang mendekati kursi kekuasaan pun kerap dipaksa menanggalkan feminitasnya, mengenakan wajah keras, menajamkan suara, meniru gaya yang bukan dirinya. Seolah olah untuk berkuasa, seseorang harus lebih dulu berhenti menjadi perempuan.

Namun zaman bergerak. Perlahan, pertanyaan lama itu mulai digugat: benarkah otoritas hanya sah jika tampil dengan wajah maskulin? Ataukah selama ini kita hanya terlalu lama memeluk satu tafsir tunggal tentang kuasa?

Data global memperlihatkan betapa dalamnya bias ini tertanam. Hingga awal 2025, perempuan hanya menempati 27,2 persen kursi parlemen di seluruh dunia, sementara dari 193 negara, hanya 25 negara yang dipimpin perempuan, dan 106 negara belum pernah sama sekali memiliki pemimpin perempuan . Angka angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari cara dunia menakar siapa yang layak memegang kuasa.

Menakar ulang otoritas

Di Indonesia, gambaran serupa terpampang. Keterwakilan perempuan di DPR periode 2024–2029 mencapai 22,1 persen, angka tertinggi sepanjang sejarah, namun masih jauh dari target minimal 30 persen yang diamanatkan undang undang . Di kabinet, dari 53 menteri, hanya 5 orang perempuan, sekitar 9,4 persen.

Baca juga:

Di dunia korporasi, dari 1.094 anggota tim kepemimpinan eksekutif di perusahaan IDX200 pada 2025, hanya 164 orang atau sekitar 15 persen yang merupakan perempuan, dan hanya 11 dari 200 perusahaan yang dipimpin CEO perempuan .

Namun di balik stagnasi angka, sebuah pergeseran senyap tengah berlangsung. Studi studi kepemimpinan mulai mengungkap bahwa perempuan cenderung membawa gaya yang berbeda ke ruang kuasa. Meta analisis terhadap 50 tahun penelitian kepemimpinan menunjukkan bahwa di mana perbedaan gender muncul, perempuan justru dinilai lebih sering menampilkan perilaku kepemimpinan yang dianggap efektif, baik yang bersifat komunal seperti empati dan kolaborasi, maupun agenik seperti ketegasan dan inisiatif .

Temuan ini menantang asumsi lama. Selama ini, otoritas dianggap identik dengan sifat agenik yang maskulin. Padahal, efektivitas kepemimpinan tidak lahir dari satu jenis perilaku saja. Justru kombinasi keduanyalah yang membuat seorang pemimpin utuh.

Di Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi gubernur di provinsi yang selama ini didominasi kepemimpinan laki laki. Ia dilantik pada Februari 2025 setelah memenangkan Pilkada 2024 dengan 51,68 persen suara. Dalam waktu kurang dari setahun, skor Monitoring Center for Prevention KPK, Pemerintah Provinsi Maluku Utara melonjak dari 70 menjadi 90, menempatkannya di peringkat ketiga nasional .

Yang menarik bukan sekadar angka. Pendekatan Sherly mencerminkan apa yang dalam literatur kepemimpinan disebut sebagai servant leadership, kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan. Ia menggratiskan biaya SMA/SMK negeri, menjamin layanan kesehatan universal bagi seluruh warga, dan menggandeng BPKP untuk mereviu harga perkiraan sendiri proyek pemerintah, menghasilkan efisiensi biaya hingga 30 persen.

Dalam konteks fiskal daerah kepulauan yang terbatas, keputusan ini bukan sekadar teknis. Ia adalah pilihan politik yang memindahkan anggaran dari pemborosan ke pelayanan publik.

Pola serupa muncul dalam penelitian terhadap manajer perempuan di Qatar. Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Organizational Analysis menemukan bahwa perempuan di sana cenderung menampilkan kepemimpinan transformasional yang khas: naluri keibuan, komunikasi terbuka, adaptasi relasi, dan kepercayaan.

Namun studi itu juga mencatat sesuatu yang penting: ketika berhadapan dengan bawahan laki laki yang dominan, perempuan kadang harus menyesuaikan perilaku mereka, menjadi lebih asertif dan otokratis. Fleksibilitas ini bukan kelemahan, melainkan strategi bertahan di lingkungan yang belum sepenuhnya menerima otoritas feminin .

Otoritas yang direkonstruksi

Menakar ulang otoritas berarti membongkar asumsi lama bahwa pemimpin ideal adalah yang paling keras, paling lantang, paling mendominasi. Otoritas sejati, pada akhirnya, tidak terletak pada kemampuan menaklukkan orang lain, melainkan pada kapasitas menumbuhkan kepercayaan. Dan di wilayah itu, feminitas memiliki sesuatu yang berharga untuk ditawarkan.

Data dari dunia korporasi menguatkan hal ini. Sensus yang dilakukan BEI bersama IBCWE menemukan bahwa perusahaan yang dipimpin perempuan justru menunjukkan hasil keseimbangan gender yang jauh lebih kuat, dengan 55 persen memiliki 30 persen atau lebih perempuan dalam tim kepemimpinan, sementara perusahaan yang dipimpin laki laki hanya 17 persen yang mencapai angka tersebut . Ini bukan kebetulan. Kepemimpinan yang merangkul cenderung mereproduksi dirinya sendiri.

Kendati demikian, jalan menuju kuasa tetap tidak mudah. Survei IPU mengungkap bahwa tiga dari lima anggota parlemen perempuan mengalami serangan seksis daring, 39 persen mengalami pelecehan psikologis, dan 25 persen mengalami pelecehan seksual selama menjalankan mandat . Kekerasan berbasis gender di ruang publik bukan sekadar gangguan. Ia adalah mekanisme halus yang menakuti perempuan agar tetap di luar lingkaran kuasa.

Feminitas dan kuasa bukan dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya bisa bertemu, berdialog, dan saling memperkaya. Yang dibutuhkan bukan perempuan yang meniru laki laki dalam berkuasa, melainkan keberanian untuk menakar ulang apa yang selama ini kita sebut otoritas.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah “bisakah perempuan berkuasa?”, melainkan “kuasa seperti apa yang ingin kita wariskan?”

Jika kuasa adalah relasi, bukan sekadar posisi, maka siapa pun yang memegangnya, laki laki maupun perempuan, perlu belajar bahwa otoritas yang paling tahan lama adalah yang tumbuh dari kepercayaan, bukan dari ketakutan. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *