beritabernas.com – Siang itu, Marsella Wahyu Muntia melangkah santai menuju kampus. Kemeja biru yang dikenakannya tampak sederhana, seolah tak berbeda dengan mahasiswa lain yang memenuhi halaman Fakultas Vokasi Manajemen Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Dari rumah kos menuju ruang kuliah hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit berjalan kaki.
Di sela kesibukan sebagai mahasiswa semester pertama, ia masih menyempatkan diri membawa buku bacaan favoritnya. Tak banyak yang menyangka, mahasiswi muda asal Desa Gesi, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah itu baru saja menorehkan sejarah. Pada 2026, Marsella dinobatkan sebagai penerima Penghargaan Kalpataru Yuvan, kategori baru dalam Penghargaan Kalpataru yang diberikan kepada generasi muda pelopor lingkungan. Namun, bagi Marsella, penghargaan itu bukanlah tujuan akhir.
“Saya berharap semakin banyak generasi muda yang berani peduli dan mengambil aksi nyata untuk lingkungan. Tidak perlu menunggu besar untuk memulai, karena perubahan selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia adalah ringkasan perjalanan hidup yang telah ditempuh sejak usia belia.
Alam menjadi guru pertama
Marsella lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan yang dikelilingi sawah, pepohonan dan aliran sungai. Alam bukan hanya pemandangan sehari-hari, melainkan ruang belajar yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Sejak kecil ia memahami bahwa manusia hidup karena alam menyediakan air, pangan, dan udara bersih. Kesadaran itu tumbuh tanpa ceramah panjang, melainkan melalui pengalaman sederhana melihat musim berganti dan kehidupan desa yang bergantung pada keseimbangan alam.

Yang menarik, kecintaan itu bukan warisan dari keluarga aktivis lingkungan. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang di pasar. “Mereka bukan pegiat lingkungan. Tetapi mereka selalu mendukung setiap kegiatan positif yang saya lakukan,” kenangnya. Dukungan sederhana itulah yang menjadi fondasi keberaniannya melangkah.
Memasuki usia 13 tahun, saat duduk di bangku SMP, Marsella mulai melihat kenyataan yang berbeda dari keindahan masa kecilnya. Sampah mulai berserakan. Ruang hijau perlahan berkurang. Banyak orang mengeluh, tetapi sedikit yang benar-benar bertindak. Pemandangan itu menimbulkan pertanyaan dalam dirinya. “Kalau semua hanya mengeluh tanpa melakukan apa pun, lingkungan akan terus rusak,” katanya.
Ia pun memulai dari hal paling sederhana: membersihkan lingkungan sekitar dan menanam pohon. Tidak ada kamera. Tidak ada media sosial. Tidak ada penghargaan. Hanya keyakinan bahwa satu tindakan lebih bermakna daripada seribu keluhan.
Perjalanan Marsella menemukan momentum penting pada 2023. Ia mulai menanam berbagai pohon pangan, tanaman buah, dan tanaman keras sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Namun jalan itu tidak selalu mulus. Sebagian orang menganggap apa yang dilakukannya hanya semangat sesaat. Ada yang meremehkan. Ada pula yang menilai usaha seorang remaja tidak akan membawa perubahan berarti.
Baca juga:
- Gerakan Sedekah Sampah Dorong Perubahan Perilaku Masyarakat Kelola Sampah dari Sumber
- Ketika Sampah Menjadi Jalan Ibadah, Ananto Isworo Merintis Pertobatan Ekologis (I)
- Kegelisahan Ananto Isworo yang Melahirkan Ide Sedekah Sampah (II)
Hebatnya lagi, Marsella memilih tidak membalas keraguan itu dengan perdebatan. Ia menjawabnya dengan menanam pohon berikutnya. “Saya percaya satu pohon yang ditanam hari ini jauh lebih berarti daripada seribu ajakan tanpa tindakan,” katanya. Prinsip itu kemudian menjadi napas seluruh gerakan yang ia bangun.
Marsella menyadari menjaga lingkungan bukan pekerjaan seorang diri. Dari kesadaran itulah lahir Warsa Kelana pada 2023. Komunitas ini bukan sekadar penyelenggara aksi tanam pohon atau bersih-bersih lingkungan. Warsa Kelana dibangun sebagai ruang belajar bagi anak muda agar memiliki kesadaran ekologis sebelum bergerak.
Baginya, perubahan yang lahir dari kesadaran akan bertahan jauh lebih lama daripada perubahan karena sekadar mengikuti tren. Perlahan, semakin banyak anak muda bergabung. Mereka belajar menanam, merawat pohon, mengenal ekosistem, hingga mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan.
Marsella percaya, keberhasilan sebuah gerakan bukan diukur dari banyaknya pohon yang ditanam, melainkan berapa banyak orang yang akhirnya memiliki kepedulian untuk merawatnya.
Tantangan terbesar bukanlah menanam pohon, melainkan memastikan pohon itu tetap hidup. Musim kemarau, cuaca ekstrem, hingga rendahnya kesadaran masyarakat menjadi ujian yang terus dihadapi.
Ada masa ketika rasa lelah datang. Ada saat ketika hasil kerja keras belum terlihat. Namun Marsella tidak pernah benar-benar berpikir untuk berhenti. Baginya, perubahan sosial memang tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, seperti akar pohon yang bekerja diam-diam sebelum akhirnya menghadirkan keteduhan.
Kalpataru Yuvan, amanah bagi generasi muda
Transformasi Penghargaan Kalpataru melalui regulasi terbaru menghadirkan kategori Kalpataru Yuvan sebagai bentuk penghargaan bagi generasi muda yang mampu menghadirkan inovasi dan kepeloporan dalam perlindungan lingkungan hidup.

Terpilihnya Marsella sebagai penerima dari Jawa Tengah menjadi bukti bahwa kepemimpinan lingkungan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh keberanian memulai, konsistensi menjaga komitmen, dan kemampuan menggerakkan orang lain.
Bagi Marsella, penghargaan tersebut bukan garis akhir. Ia justru menganggapnya sebagai amanah. “Penghargaan ini bukan akhir perjalanan, tetapi pengingat agar saya terus menginspirasi dan mengajak lebih banyak generasi muda peduli terhadap lingkungan.”
Ia selalu memegang tiga nilai dalam setiap langkahnya: konsisten, kolaborasi, dan kebermanfaatan. Nilai-nilai sederhana yang menjelma menjadi gerakan nyata.
Jika suatu hari Marsella diberi kesempatan kembali menjadi remaja berusia 15 tahun, jawabannya tidak berubah. Ia akan tetap memilih jalan yang sama.Baginya, menjaga lingkungan bukan sekadar menanam pohon atau membersihkan sampah. Lebih dari itu, menjaga lingkungan berarti menanam harapan bagi generasi berikutnya.
Di sela rutinitas sebagai mahasiswi yang setiap hari hanya berjalan tiga menit menuju kampus, Marsella sesungguhnya sedang menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang: perjalanan membangun kesadaran bahwa bumi hanya akan tetap lestari jika semakin banyak anak muda berani memulai dari langkah kecil. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, perubahan besar dimulai. (Yustinus Ade Stirman, Penyuluh Lingkungan, Ahli Muda Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa)
There is no ads to display, Please add some