Krisis Generasi di Era Hiperkapitalisme: Ketika Manusia Menjadi Komoditas

Oleh: Ben Senang Galus, Esais, Dosen, tinggal di Yogyakarta

beritabernas.com – Generasi muda saat ini hidup di tengah perubahan global yang berlangsung cepat, mulai dari transformasi digital, persaingan ekonomi, krisis lingkungan, hingga ketidakpastian dunia kerja. Globalisasi membuka peluang luas untuk mengakses pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan membangun jejaring lintas negara. Namun, di balik berbagai peluang tersebut, terdapat tantangan berupa kesenjangan akses, tekanan kompetisi, serta tuntutan untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di era hiperkapitalisme, tantangan itu semakin kompleks ketika keberhasilan cenderung diukur melalui produktivitas, kekayaan, dan pencapaian material. Generasi muda tidak hanya dituntut memiliki kompetensi dan keterampilan, tetapi juga membangun citra diri agar mampu bersaing dan memperoleh pengakuan di ruang sosial maupun digital. Akibatnya, kehidupan semakin sering dipandang sebagai arena kompetisi, sementara nilai manusia perlahan direduksi menjadi ukuran pencapaian dan kemampuan ekonomi.

Tuntutan tersebut menciptakan tekanan yang tidak sederhana. Generasi muda harus mengikuti perkembangan teknologi, meningkatkan keterampilan, memperoleh pekerjaan yang layak, sekaligus memenuhi ekspektasi sosial mengenai kesuksesan. Kehidupan seolah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Ketika satu target tercapai, target lain segera menanti. Ruang untuk beristirahat, berefleksi, dan membangun hubungan sosial yang bermakna pun semakin terdesak oleh tuntutan untuk terus produktif dan berkembang.

Tekanan itu semakin kuat di ruang digital melalui budaya perbandingan sosial. Pencapaian orang lain yang ditampilkan di media sosial kerap menjadi tolok ukur untuk menilai keberhasilan diri sendiri. Gaya hidup konsumtif, popularitas, dan pengakuan publik perlahan membentuk standar baru tentang kebahagiaan. Generasi muda akhirnya tidak hanya berjuang memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga berusaha mempertahankan citra diri agar tetap diakui dan dianggap berhasil oleh lingkungan sosialnya.

Persoalan tersebut semakin rumit karena kesempatan untuk berkembang tidak tersedia secara merata. Tidak semua anak muda memiliki dukungan keluarga, akses pendidikan berkualitas, jaringan sosial, dan sumber daya ekonomi yang sama. Namun, mereka sering dihadapkan pada standar keberhasilan yang seolah-olah seragam. Ketimpangan ini dapat melahirkan kecemasan, perasaan tertinggal, dan hilangnya kepercayaan diri. Bahkan, kegagalan struktural kerap dipersepsikan sebagai kegagalan pribadi, seolah-olah setiap orang memiliki titik awal dan peluang yang sama.

Karena itu, tantangan generasi muda tidak cukup dipahami sebagai persoalan kemampuan beradaptasi, daya saing, atau kesiapan menghadapi perubahan teknologi. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana sistem sosial dan ekonomi membentuk harapan, pilihan, serta orientasi hidup mereka. Generasi muda membutuhkan ruang untuk berkembang secara utuh, kesempatan yang adil untuk meraih masa depan, dan kebebasan untuk menentukan makna keberhasilan tanpa harus terjebak dalam tuntutan produktivitas serta pencapaian material.

Pada akhirnya, kemajuan tidak seharusnya hanya diukur dari kemampuan generasi muda memenangkan persaingan global, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjamin kehidupan yang adil, bermartabat, dan bermakna bagi mereka.

Baca juga:

Ada yang berubah dalam cara generasi muda memandang kehidupan. Bekerja bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan juga membuktikan diri. Belajar tidak cukup untuk memperluas pengetahuan, tetapi harus menghasilkan sertifikat dan peluang karier. Bahkan waktu luang kerap dianggap sia-sia apabila tidak digunakan untuk meningkatkan keterampilan atau menghasilkan uang.

Di tengah tuntutan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah generasi muda sedang dipersiapkan untuk menjalani kehidupan yang bermakna, atau justru dibentuk agar terus produktif bagi sistem ekonomi?

Pertanyaan ini penting ketika logika pasar semakin merambah berbagai dimensi kehidupan. Pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, hingga identitas personal tidak luput dari tuntutan produktivitas, persaingan, dan pencapaian material. Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep hiperkapitalisme, yakni perluasan logika komersial ke wilayah kehidupan yang semakin luas.

Persoalannya bukan semata-mata kapitalisme sebagai sistem ekonomi. Masalah muncul ketika nilai manusia semakin ditentukan oleh kemampuan menghasilkan keuntungan, daya beli, dan keberhasilan memenangkan persaingan. Dalam situasi demikian, generasi muda menghadapi krisis yang lebih mendasar daripada persoalan pekerjaan: krisis makna, identitas, dan orientasi hidup.

Hidup sebagai perlombaan

Karl Marx, melalui pemikirannya tentang alienasi, menjelaskan bahwa manusia dapat mengalami keterasingan ketika pekerjaan tidak lagi menjadi sarana mengembangkan potensi diri, tetapi semata-mata tunduk pada tuntutan produksi. Dalam konteks kontemporer, keterasingan itu tidak hanya dialami pekerja industri, tetapi juga pekerja digital, tenaga profesional, dan generasi muda yang terus dituntut meningkatkan nilai jual dirinya.

Seorang anak muda dapat bekerja keras tanpa merasa memiliki masa depan yang pasti. Ia mengejar promosi, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga. Ia meningkatkan kompetensi, tetapi tetap cemas menghadapi perubahan teknologi. Pekerjaan yang semestinya menopang kehidupan justru berpotensi menyerap energi yang diperlukan untuk menikmati kehidupan itu sendiri.

Byung-Chul Han, dalam The Burnout Society (2010), menggambarkan masyarakat kontemporer sebagai masyarakat prestasi. Individu tidak hanya dikendalikan oleh perintah dari luar, tetapi juga terdorong untuk terus mengoptimalkan dirinya sendiri. Seseorang merasa harus selalu lebih produktif, lebih kompetitif, dan lebih berhasil.

Tekanan ini membuat eksploitasi dapat berlangsung melalui dorongan internal. Individu merasa bebas menentukan pilihan, tetapi kebebasan itu berubah menjadi kewajiban untuk terus bekerja dan memperbaiki performa. Istirahat dianggap kemunduran, kegagalan dipandang sebagai kekurangan pribadi, sedangkan keberhasilan menjadi target yang terus menjauh.

Di sinilah krisis generasi menemukan salah satu akarnya. Anak muda bukan hanya menghadapi kompetisi, melainkan juga belajar mengukur harga dirinya dengan ukuran kompetisi tersebut. Ketika standar keberhasilan semakin tinggi, rasa cukup semakin sulit ditemukan.

Masa depan yang semakin tidak pasti

Tekanan psikologis itu berkelindan dengan persoalan struktural. Persaingan kerja, keterjangkauan hunian, biaya pendidikan, dan ketidakpastian pendapatan membuat jalan menuju kemandirian tidak selalu mudah. Generasi muda dituntut mandiri, tetapi kesempatan untuk membangun kehidupan yang stabil tidak tersedia secara merata.

Sosiolog Zygmunt Bauman, melalui konsep liquid modernity atau modernitas cair, menjelaskan kehidupan modern yang ditandai perubahan cepat dan melemahnya kepastian. Pekerjaan, hubungan sosial, dan identitas menjadi lebih mudah berubah. Individu dituntut terus menyesuaikan diri, bahkan ketika perubahan itu berada di luar kendalinya.

Sementara itu, Guy Standing, dalam The Precariat: The New Dangerous Class (2011), menguraikan kondisi kelompok pekerja yang menghadapi ketidakamanan pekerjaan, pendapatan, dan perlindungan sosial. Gagasan ini relevan untuk membaca pengalaman sebagian anak muda yang bergantung pada kontrak jangka pendek, pekerjaan informal, atau pekerjaan berbasis platform digital.

Fleksibilitas kerja memang dapat membuka peluang baru. Namun, fleksibilitas menjadi persoalan ketika efisiensi bagi perusahaan tidak diimbangi perlindungan yang layak bagi pekerja. Individu diminta siap menghadapi perubahan, sementara risiko ekonomi semakin banyak dibebankan kepada dirinya sendiri.

Karena itu, kesulitan generasi muda tidak cukup dijawab dengan nasihat agar lebih tangguh, kreatif, dan rajin membangun jejaring. Kemampuan individual memang penting, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan akan pekerjaan layak, upah memadai, pendidikan terjangkau, dan jaminan sosial.

Masyarakat perlu berhenti memandang setiap kegagalan sebagai akibat kurangnya usaha. Kesempatan hidup juga ditentukan oleh kondisi keluarga, akses terhadap sumber daya, kebijakan publik, dan struktur ekonomi. Menuntut anak muda terus beradaptasi tanpa memperbaiki ketimpangan berarti menjadikan masalah struktural sebagai beban pribadi.

Identitas di pasar perhatian

Krisis generasi juga berlangsung di ruang digital. Media sosial memberi kesempatan untuk berekspresi, membangun komunitas, dan memperoleh pengetahuan. Namun, ruang yang sama menjadikan perhatian sebagai sumber nilai ekonomi. Identitas personal semakin mudah dipertontonkan, diukur, dan dibandingkan.

Jean Baudrillard, dalam The Consumer Society (1970), menjelaskan bahwa konsumsi tidak hanya berkaitan dengan kegunaan barang, tetapi juga dengan tanda dan status sosial. Barang menjadi sarana untuk menunjukkan siapa seseorang dan bagaimana ia ingin dipandang orang lain.

Dalam kehidupan digital, logika tersebut meluas. Gawai, pakaian, perjalanan, dan gaya hidup dapat menjadi simbol keberhasilan. Pengakuan sosial tercermin melalui jumlah pengikut, tanda suka, komentar, dan jangkauan unggahan. Kehidupan tidak sekadar dijalani, tetapi juga dikemas agar layak dilihat dan memperoleh pengakuan.

Masalahnya bukan keinginan untuk diakui, melainkan ketika pengakuan eksternal menjadi ukuran utama harga diri. Kehidupan yang tidak tampak menarik di layar dapat terasa kurang berharga, sedangkan pencapaian orang lain menjadi standar untuk mengukur diri sendiri.

Herbert Marcuse, dalam One-Dimensional Man (1964), mengkritik masyarakat industri maju yang mampu membentuk kebutuhan manusia hingga pola kehidupan dominan diterima tanpa banyak dipertanyakan. Dalam konteks sekarang, iklan, algoritma, dan budaya populer dapat mendorong individu menganggap konsumsi sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Akibatnya, generasi muda berisiko terjebak dalam perlombaan tanpa garis akhir. Setelah satu keinginan terpenuhi, keinginan lain muncul. Konsumsi menjanjikan kepuasan, tetapi lingkungan komersial terus menciptakan standar baru. Tantangannya bukan menjauhkan generasi muda dari teknologi, melainkan membangun kesadaran agar mereka tidak menyerahkan harga dirinya kepada mekanisme pasar dan penilaian digital.

Krisis ini menuntut evaluasi terhadap arah pendidikan. Pendidikan memang harus mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja. Namun, apabila keberhasilannya hanya diukur berdasarkan kesesuaian dengan kebutuhan industri, manusia berisiko diperlakukan sebagai kumpulan keterampilan yang dapat diperjualbelikan.

Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), menekankan pentingnya pendidikan yang membangun kesadaran kritis. Pendidikan tidak cukup membuat manusia mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi juga harus membekali mereka kemampuan memahami dan mengubah realitas yang tidak adil.

Pandangan ini mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan tentang keterampilan apa yang paling laku di pasar kerja. Pendidikan juga perlu mendorong pertanyaan tentang persoalan apa yang perlu diselesaikan, ketidakadilan apa yang harus diperbaiki, dan kehidupan seperti apa yang layak diperjuangkan.

Karena itu, mengatasi krisis generasi membutuhkan perubahan pada tingkat individu sekaligus struktur sosial. Literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kebiasaan membangun hubungan sosial yang sehat perlu diperkuat. Pada saat yang sama, pemerintah harus memperluas akses pendidikan, memperkuat perlindungan pekerja, dan mendorong terciptanya pekerjaan layak. Dunia usaha pun perlu menempatkan kesejahteraan pekerja sebagai tanggung jawab, bukan sekadar biaya produksi.

Masyarakat juga perlu membangun kembali ukuran keberhasilan yang lebih manusiawi. Pendapatan dan pencapaian karier tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran kehidupan yang bernilai. Integritas, solidaritas, kesehatan, kreativitas, dan kontribusi sosial sama pentingnya. Generasi muda membutuhkan ruang untuk beristirahat, membangun persahabatan, terlibat dalam kebudayaan, dan menjalani kehidupan tanpa harus selalu membuktikan produktivitasnya.

Pada akhirnya, krisis generasi bukan semata-mata krisis anak muda. Ia merupakan cermin dari cara masyarakat mendefinisikan kemajuan. Jika keberhasilan hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, konsumsi, dan produktivitas, kita mungkin menghasilkan masyarakat yang semakin kaya, tetapi belum tentu semakin sejahtera secara manusiawi.

Generasi muda tidak membutuhkan dunia tanpa persaingan. Mereka membutuhkan dunia yang memungkinkan persaingan berlangsung secara adil dan kehidupan tetap memiliki makna. Sebab, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa banyak yang dapat diproduksi manusia, melainkan juga seberapa layak manusia dapat hidup, menjalin hubungan dengan sesamanya, dan menentukan masa depannya sendiri.

Ekonomi seharusnya menjadi sarana untuk melayani kehidupan, bukan menjadikan kehidupan sebagai sarana akumulasi ekonomi. Di tengah ekspansi hiperkapitalisme, mengembalikan manusia ke pusat pembangunan bukanlah kemewahan moral, melainkan syarat bagi masa depan yang lebih adil dan bermartabat. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *