Prof Amin Abdullah: Menjauhi Studi Filsafat Sama dengan Melakukan “Bunuh Diri” Intelektual

beritabernas.com – Manusia yang menghindari atau menjauhi (studi) filsafat (higher order of thinking skills) secara otomatis akan terpapar kemiskinan dan kekurangan darah pemasok ide-ide yang segar (fresh ideas). Lebih dari itu, mereka telah melakukan ”bunuh diri” intelektual.

Sebab, filsafat adalah kebutuhan intelektual sepanjang masa dan harus diijinkan untuk berkembang, baik untuk kepentingan pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk kepentingan pengembangan disiplin ilmu yang lain. Karena filsafat lebih membekali semangant berpikir kritis dan analitis dan menghasilkan ide dan gagasan baru yang sangat penting sebagai piranti intelektual bagi keilmuan lain, tanpa kecuali agama dan teologi.

Hal itu disampaikan Prof Dr Amin Abdullah MA, Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Suna Kalijaga Yogyakata dalam acara bedah buku Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif sebagai rangkaian kegiatan memperingati Milad UII ke-83 UII di Auditorium Kampus FIAI UII, Senin 27 April 2026.

Selain Prof Amin Abdullah, juga tampil sebagai narasumber adalah Prof Dr Drs Yudani M.Ag, Guru Besar Hukum Perdata Islam UII dan Prof Fathul Wahid ST MSc PhD (Rektor UII).

Prof Yudani (kiri) saat berbicara dalam bedah buku di UII. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Menurut Prof Amin Abdullah, filsafat adalah “garam” dan “cabe” di alam akademis. Orang memang tidak akan makan garam dan cabe saja. Yang dipelajari dalam mendalami filsafat adalah tambahan ketajaman analisa, sikap kritis bermutu, wawasan permasalahan yang luas, ketidak-belaskasihan dengan segala macam pemikiran ngawur yang suka menjadi wahana segala macam klaim atas kekuasaan.

Ia mengatakan, komitmen pertama filsafat adalah komitmen terhadap kebenaran. Bukan sebagai sumber kebenaran, melainkan sebagai wahana kritik terhadap segala macam half-truth, post-truth dan non-truth.

“Filsafat diperlukan di alam akademik sebagai ilmu kritis. Untuk kehidupan akademis, untuk kehidupan intelektual, untuk debat-debat ideologis yang mendasari perpolitikan bangsa, untuk mencegah agama dari mengkhianati diri sendiri dengan menjadi alat kekuasaan manusia,” kata Prof Amin Abdullah.

Dikatakan, Al-Qur’an selalu mengajak manusia untuk memikir-merenungkan alam ciptaan Tuhan dan kebesaranNya. Ini ajakan untuk serius masuk dunia ilmu pengetahuan dan penelitian dengan syarat manusia mau mengakui bahwa dalam alam semesta ada mekanisme otonom hukum kausalitas yang dapat dipahami oleh manusia.

Baca juga:

Namun, menurut Prof Amin Abdullah, cara ulama klasik Muslim berpikir-berkesimpulan tidak demikian. Tatafakkarun, ta’qilun, tatadabbarun lebih diartikan pada kenyataan terbatasnya pengetahuan dan ketidakmampuan manusia untuk memahami dan meneliti alam ciptaan Tuhan, bukannya untuk membangun dan menemukan fakta-fakta ilmiah.

Peran filsafat

Mengutip Prof Franz-Magnis Suseno, Prof Amin Abdullah mengatakan bahwa sudah waktunya filsafat diberi tempat di alam akademik. Sangat disesalkan bahwa selama ini filsafat begitu diabaikan dalam pendidikan akademik Indonesia.

Kenyataan ini memperlihatkan dengan jelas betapa sempit wawasan perguruan-perguruan tinggi kita ini. Yang ditawarkan adalah prodi-prodi yang “berguna”, siap pakai. Kita masih ingat semboyan link and match, seruan Mendikbud 30 tahun lalu, agar pendidikan tinggi menghasilkan output yang bisa langsung link dengan keahlian yang dibutuhkan dalam masyarakat.

“Kalau betul yang ditulis Noah Yuval Harari bahwa industri 4.0 akan menuntut agar orang mampu untuk setiap lima tahun mengembangkan kemampuan-kemampuan baru, universitas kita jangan mengajarkan hal-hal yang waktu lulus S1 sudah kadaluarsa, melainkan mengantarkan mereka ke perkembangan wawasan, ketajaman intelektual dan sikap kritis yang diperlukan untuk terus mengarah ke yang baru,” kata Prof Amin Abdullah.

Prof Amin Abdullah pun mengapresiasi UII yang menerbitkan buku filsafat seperti yang dibahas kali in. Ia menilai dengan menerbitkan buku filsafat, UII menatap masa depan. “Tidak ada kata terlambat. Better late than never,” kata Prof Amin.

Rektor UII Prof Fathul Wahid (kiri) didampingi Dekan FIAI UII Dr Drs Asmuni (tengah) melaunching Pusat Studi Islam dan Peradaban Indonesia, Senin 27 April 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Sebab, menurut Prof Amin, era Society 5.0 memerlukan keseimbangan antara scientific skill dan humanistic thought (soft skill). Dengan menerbitkan buku ini, UII merasa ada sesuatu yang kurang dalam perjalanan panjang dalam hal humanities (art & literature; filsafat, dirasat Islamiyyah Al-Mu’asirah, agama/religion; religious studies dan sebagainya serta sains. “Perguruan tinggi Islam harus mampu meperbaiki ekosistem pembelajaran-perkualiahan,” kata Prof Amin.

Sementara Prof Dr Drs Yudani M.Ag, Guru Besar Hukum Perdata Islam UII, mengatakan, basis epistemologi dalam studi filsafat adalah tetap mengakar pada tradisi secara intelektual dan budaya seraya tetap terlibat dengan dunia modern dan mengambil manfaat dari sumber daya intelektual maupun budaya yang ditawarkan modernitas.

Selain itu, menurut Prof Yudani, siap dan dapat berinteraksi dengan tradisi dan modernitas, tetapi pada saat yang sama juga bersikap kritis terhadap keduanya.

Pada acara bedah buku tersebut juga dilaunching Pusat Studi Islam dan Peradaban Indonesia Fakultas Ilmu Agama Islam UII. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *