Oleh: Ben Senang Galus, Penulis Buku Filsafat Manggarai, Prinsip Hidup, Etika dan Humanisme Manggarai, tinggal di Yogyakarta
beritabernas.com – Ketika bumi berguncang atau terjadi gempa, orang Manggarai, Flores, NTT kerap spontan berseru: Roho lale! Seruan itu muncul begitu saja, hampir tanpa melalui pertimbangan. Ketika rumah bergetar, tanah bergerak, benda-benda bergoyang, dan tubuh seketika kehilangan rasa aman, ungkapan tertentu hadir sebagai respons spontan terhadap peristiwa yang tidak terduga.
Secara etimologis, Roho lale terdiri atas dua kata, yaitu roho dan lale. Kedua kata tersebut merujuk pada gambaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan alam di Manggarai.
Roho merujuk pada daun yang telah mengering dan gugur ke tanah. Setelah kehilangan kandungan airnya, daun menjadi ringan dan mudah terbawa angin. Dalam bahasa Manggarai, sifat ringan tersebut disebut geal. Daun yang telah kering tidak lagi memiliki kekuatan untuk menahan tiupan angin. Ia mudah bergerak, bergeser, bahkan terangkat dan diterbangkan ke berbagai arah.
Sementara itu, lale merujuk pada sejenis pohon yang dalam bahasa Manggarai disebut haju lale, atau pohon lale. Pohon ini termasuk dalam famili Moraceae dan dikenal secara ilmiah sebagai Artocarpus altilis. Secara morfologis, pohon lale memiliki batang yang besar dan dapat tumbuh hingga mencapai sekitar 25 meter. Bentuk daunnya lebar dan memiliki kemiripan dengan daun pohon sukun.
Buah lale juga memiliki kemiripan dengan buah sukun. Namun, buah tersebut memiliki banyak biji di bagian dalamnya. Dalam kehidupan alamiahnya, buah lale menjadi bagian dari sumber makanan bagi berbagai satwa, antara lain kera dan kelelawar.
Jika diperhatikan secara lebih mendalam, kedua unsur dalam ungkapan Roho lale tersebut sama-sama menghadirkan gambaran tentang alam. Roho menggambarkan sesuatu yang ringan, kering, dan mudah bergerak ketika diterpa angin. Sementara lale menggambarkan sebuah pohon yang memiliki batang besar, kokoh, dan menjulang tinggi. Pertemuan kedua gambaran tersebut dalam satu ungkapan menarik untuk dipahami sebagai bagian dari cara orang Manggarai membaca dan memberi makna terhadap pengalaman alam.
Dalam konteks gempa, seruan Roho lale dapat menggambarkan pengalaman manusia ketika berada dalam situasi kehilangan keseimbangan. Tanah yang biasanya menjadi tempat berpijak tiba-tiba bergerak. Tubuh yang biasanya berdiri tegak seolah kehilangan kepastian. Benda-benda yang biasanya diam menjadi bergerak. Keadaan tersebut menciptakan pengalaman yang secara simbolis dapat dibandingkan dengan sesuatu yang ringan dan mudah bergeser seperti roho.
Di sisi lain, kata lale menghadirkan gambaran tentang pohon yang berakar dan bertumbuh di atas tanah. Pohon memiliki hubungan yang kuat dengan bumi melalui akar, tetapi ketika bumi bergerak, pohon pun ikut mengalami guncangan. Dengan demikian, “Roho lale” bukan hanya sebuah rangkaian kata, melainkan dapat dibaca sebagai ungkapan yang lahir dari kedekatan manusia Manggarai dengan alam dan pengalaman ekologis yang diwariskan melalui bahasa.
Karena itu, memahami Roho lale tidak cukup hanya dengan menerjemahkannya secara harfiah. Ungkapan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat Manggarai yang sejak lama memiliki hubungan erat dengan tanah, hutan, kebun, pohon, air, dan berbagai bentuk kehidupan di sekitarnya. Alam hadir bukan hanya sebagai ruang tempat manusia hidup, tetapi juga sebagai sumber pengalaman yang membentuk bahasa, simbol, dan cara manusia memahami dunia.
Dengan demikian, Roho lale dapat dilihat sebagai salah satu contoh bagaimana pengalaman terhadap alam masuk ke dalam bahasa dan kemudian menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat Manggarai. Sebuah seruan yang muncul dalam hitungan detik ketika gempa terjadi ternyata dapat membuka ruang permenungan yang lebih luas mengenai hubungan manusia dengan bumi, keseimbangan, ketidakpastian, dan keterbatasan manusia di hadapan kekuatan alam.
Baca juga:
- Prof Sarwidi: Gempa Bumi Tektonik NTT jadi Pengingat Keras bagi Indonesia
- Refleksi 18 Tahun Gempa Bumi 27 Mei 2006, Prof Sarwidi: Banyak Pelajaran yang Berharga
- Ketua PP PMKRI Menemui Korban Gempa di Wae Dangka, Manggarai Barat
- PMKRI Minta Kepastian Penanganan Hunian bagi Korban Gempa yang Rumahnya Hancur
Bagi orang luar, Roho lale mungkin hanya terdengar sebagai ungkapan keterkejutan. Akan tetapi, bagi sebuah kebudayaan, kata-kata yang lahir secara spontan sering kali justru menyimpan ingatan yang panjang. Bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pikiran. Bahasa juga menyimpan pengalaman, perasaan, ketakutan, harapan, dan cara suatu masyarakat memahami dunia.
Karena itu, Roho lale menarik untuk dibaca bukan semata-mata sebagai ungkapan ketika gempa terjadi, melainkan sebagai sebuah respons kultural terhadap alam. Di dalamnya terdapat pengalaman manusia ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar daripada dirinya.
Gempa membuat manusia sadar bahwa sesuatu yang selama ini dianggap kokoh ternyata dapat bergerak. Tanah yang menjadi tempat berpijak ternyata tidak sepenuhnya diam. Rumah yang dianggap sebagai tempat perlindungan ternyata dapat berguncang. Ruang yang dianggap aman tiba-tiba menjadi ruang ketidakpastian.
Dalam beberapa detik, gempa meruntuhkan keyakinan manusia bahwa ia sepenuhnya menguasai ruang kehidupannya. Di sinilah Roho lale dapat dibaca secara filosofis. Ia merupakan bahasa spontan manusia ketika berhadapan dengan keterbatasannya sendiri.
Manusia dan ilusi penguasaan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering hidup dalam sebuah ilusi tentang penguasaan. Kita membangun rumah di atas tanah, membuat jalan, mendirikan gedung, membuka kebun, menebang hutan, mengatur aliran air, dan mengubah lingkungan sesuai dengan kebutuhan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kemampuan manusia semakin besar untuk mengubah alam.
Akibatnya, manusia mudah menganggap dirinya sebagai pusat. Manusia paling hebat, paling ampuh, paling berkuasa atas alam. Sementara alam ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya: sesuatu yang dapat diukur, dihitung, digunakan, diolah, bahkan dieksploitasi. Tanah menjadi lahan. Hutan menjadi kayu. Air menjadi komoditas. Gunung menjadi sumber mineral. Laut menjadi ruang ekonomi.
Dalam cara pandang seperti itu, alam terutama dinilai berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Padahal manusia sendiri tidak pernah benar-benar berada di luar alam. Manusia lahir dari alam, hidup dari alam, dan bergantung pada alam. Tubuh manusia membutuhkan air. Makanan berasal dari tanah. Udara yang dihirup merupakan bagian dari sistem ekologis. Rumah yang dibangun manusia tetap berdiri di atas bumi.
Manusia boleh mengubah alam, tetapi manusia tidak pernah menciptakan keseluruhan alam. Di sinilah gempa memberikan pelajaran yang sangat mendasar. Bumi tidak menunggu izin manusia untuk bergerak.
Ketika bumi berguncang, manusia kembali ditempatkan pada posisi yang sebenarnya: sebagai bagian kecil dari suatu keseluruhan yang jauh lebih besar daripada dirinya. Seruan Roho lale dapat dibaca sebagai ekspresi kesadaran terhadap kenyataan tersebut. Bahwa manusia tidak punya posisi tawar dengan alam. Di depan alam manusia sebagai maklum lemah, tidak berdaya.
Dalam pandangan kosmologis masyarakat tradisional suku Manggarai, alam tidak selalu dipahami sebagai benda mati yang berdiri di luar manusia. Alam merupakan bagian dari keseluruhan kehidupan. Tanah, air, gunung, hutan, manusia, leluhur, dan komunitas berada dalam suatu jaringan hubungan. Cara pandang ini berbeda dari pemikiran yang memisahkan manusia dan alam secara tajam.
Dalam pandangan modern tertentu, manusia ditempatkan sebagai subjek yang mengamati, sedangkan alam menjadi objek yang diamati. Manusia berdiri di luar alam dan berusaha menjelaskan alam melalui ilmu pengetahuan.
Sementara itu, kosmologi tradisional cenderung melihat manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri. Manusia tidak hanya tinggal di alam. Manusia hidup bersama alam. Perbedaan kecil dalam kata tersebut mengandung konsekuensi besar.
Jika manusia hanya tinggal di alam, alam mudah diperlakukan seperti tempat yang dapat digunakan sesuka hati. Tetapi jika manusia hidup bersama alam, maka hubungan itu menuntut tanggung jawab. Ada relasi. Ada batas. Ada kewajiban. Ada penghormatan.
Dalam konteks Manggarai, hubungan dengan tanah memiliki makna yang jauh melampaui persoalan ekonomi. Tanah merupakan ruang kehidupan. Di atas tanah berdiri kampung. Di tanah terdapat kebun dan lingko. Dari tanah manusia memperoleh pangan. Tanah juga menyimpan jejak sejarah dan ingatan komunitas. Karena itu, tanah tidak sekadar benda. Tanah adalah bagian dari identitas.
Gempa sebagai pengalaman eksistensial
Gempa bukan hanya fenomena geologis. Bagi manusia yang mengalaminya, gempa merupakan pengalaman eksistensial. Mengapa? Karena gempa menyentuh sesuatu yang sangat mendasar dalam diri manusia: kebutuhan akan rasa aman.
Manusia membangun rumah karena ingin memiliki tempat yang aman. Manusia membangun kampung karena ingin hidup bersama dalam suatu ruang yang teratur. Manusia menata lingkungan agar kehidupan dapat berlangsung dengan baik.
Tetapi gempa memperlihatkan bahwa rasa aman itu tidak pernah absolut. Tanah dapat bergerak. Dinding dapat retak. Rumah dapat runtuh. Jalan dapat terputus.
Dalam situasi seperti itu, manusia berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Karena itu, gempa dapat disebut sebagai pengalaman tentang kerapuhan.
Filsafat sejak lama berbicara tentang keterbatasan manusia. Manusia memiliki kehendak, tetapi tidak semua kehendaknya dapat diwujudkan. Manusia memiliki pengetahuan, tetapi tidak mengetahui segala sesuatu. Manusia membangun masa depan, tetapi tidak dapat memastikan seluruh kemungkinan yang akan terjadi.
Gempa menghadirkan keterbatasan itu secara konkret. Ia membuat manusia sadar bahwa fondasi kehidupannya berada pada sesuatu yang bukan hasil ciptaannya sendiri.
Mungkin karena itu “Roho lale” memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar teriakan ketakutan. Ia adalah pengakuan. Pengakuan bahwa manusia terbatas. Pengakuan bahwa alam memiliki kekuatan sendiri. Pengakuan bahwa kehidupan manusia selalu berlangsung dalam ketergantungan.
Ketakutan dan penghormatan memang berbeda, tetapi keduanya dapat bertemu ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya. Manusia takut terhadap gempa karena gempa dapat mengancam kehidupan. Tetapi pengalaman itu juga dapat melahirkan penghormatan terhadap alam.
Penghormatan berarti kesadaran bahwa manusia harus mengetahui batas. Manusia boleh mengolah tanah, tetapi tidak boleh menghancurkannya. Manusia boleh menggunakan hutan, tetapi tidak boleh menghilangkan fungsi ekologisnya. Manusia boleh mengambil air, tetapi harus menjaga sumbernya. Manusia boleh membangun di atas bumi, tetapi harus memahami karakter ruang yang ditempatinya.
Dengan kata lain, penghormatan kepada alam bukan berarti manusia harus berhenti menggunakan alam. Manusia tetap membutuhkan alam. Yang perlu diubah adalah cara manusia menggunakan alam.
Hubungan tersebut seharusnya bersifat timbal balik. Manusia mengambil dari alam, tetapi manusia juga menjaga alam. Manusia memperoleh kehidupan dari tanah, tetapi manusia harus mempertahankan kesuburan tanah. Manusia memperoleh air dari lingkungan, tetapi manusia berkewajiban menjaga sumber air. Manusia memperoleh manfaat dari hutan, tetapi manusia harus memastikan hutan tetap hidup. Etika semacam ini sangat relevan dalam kehidupan modern.
Roho Lale dan kritik terhadap antroposentrisme
Salah satu persoalan besar peradaban modern adalah kecenderungan menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Pandangan antroposentris yang berlebihan dapat membuat alam dinilai hanya berdasarkan manfaatnya bagi manusia.
Akibatnya, pertanyaan yang diajukan sering hanya: apa yang dapat kita ambil dari alam? Lebih jarang ditanyakan: apa yang harus kita lakukan agar alam tetap hidup? Padahal pertanyaan kedua sama pentingnya.
Jika hutan hanya dilihat sebagai sumber kayu, maka penebangan akan dianggap sebagai aktivitas ekonomi. Tetapi jika hutan dipandang sebagai bagian dari sistem kehidupan, maka kita akan melihat fungsi lain: menyimpan air, menjaga tanah, menjadi habitat berbagai makhluk, dan menopang keseimbangan lingkungan. Demikian pula dengan tanah.
Jika tanah hanya dilihat sebagai komoditas, maka nilainya dapat dihitung berdasarkan harga per meter persegi. Tetapi jika tanah dipahami sebagai ruang kehidupan, maka nilainya jauh lebih besar daripada harga. Tanah menyimpan sejarah. Tanah menyimpan ingatan. Tanah menghubungkan manusia dengan leluhur dan generasi mendatang. Dalam konteks Manggarai, kesadaran seperti ini penting untuk terus dirawat.
Membaca Roho lale secara kosmologis tidak berarti menolak penjelasan ilmiah mengenai gempa. Ini perlu ditegaskan.
Gempa memiliki penjelasan ilmiah. Ilmu geologi menjelaskan gempa sebagai gejala alam yang berkaitan dengan dinamika bumi, termasuk pergerakan lempeng dan pelepasan energi di dalam kerak bumi. Pengetahuan ilmiah sangat penting.
Dengan sains, manusia dapat memahami risiko gempa. Dengan teknologi, manusia dapat membangun struktur yang lebih tahan guncangan. Dengan pengetahuan kebencanaan, masyarakat dapat menyiapkan jalur evakuasi, melakukan simulasi, menyusun tata ruang, dan mengurangi risiko korban. Karena itu, kebudayaan tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan sains. Namun, sains juga tidak selalu dapat menggantikan kebudayaan. Itulah sebabnya sains dan kebudayaan tidak perlu dipertentangkan.
Sains menjawab pertanyaan bagaimana. Kebudayaan membantu manusia bertanya untuk apa, bagaimana seharusnya bersikap, dan apa arti pengalaman itu bagi kehidupan. Sains menjelaskan mekanisme gempa.
“Roho lale” menyuarakan pengalaman manusia ketika menghadapi gempa. Keduanya berada pada wilayah yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi. Manusia membutuhkan sains agar tidak terjebak dalam ketidaktahuan. Manusia membutuhkan kebudayaan agar tidak kehilangan arah moral. Pengetahuan tentang alam seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengetahui. Pengetahuan harus melahirkan tanggung jawab.
Jika kita mengetahui bahwa suatu wilayah rawan gempa, maka pengetahuan tersebut harus memengaruhi cara kita membangun rumah. Jika kita mengetahui bahwa hutan berfungsi menjaga tata air, maka pengetahuan tersebut harus memengaruhi cara kita mengelola hutan. Jika kita mengetahui bahwa tanah dapat rusak karena eksploitasi berlebihan, maka kita harus mengembangkan cara bertani yang menjaga kesuburan tanah.
Dalam hal ini, pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah dapat bertemu. Pengetahuan lokal memberikan pengalaman panjang tentang bagaimana manusia hidup bersama lingkungan. Pengetahuan ilmiah memberikan kemampuan untuk mengukur, menjelaskan, dan mengantisipasi risiko. Keduanya dapat membentuk suatu kebijaksanaan ekologis baru. Bukan kembali ke masa lalu secara romantis, tetapi juga bukan menyerahkan seluruh persoalan lingkungan kepada teknologi. Yang diperlukan adalah dialog.
Bumi sebagai rumah kehidupan
Pada akhirnya, persoalan tentang gempa membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar: apa arti bumi bagi manusia? Bumi bukan sekadar planet tempat manusia tinggal. Dalam pengalaman manusia sehari-hari, bumi adalah rumah kehidupan. Rumah bukan hanya tempat berlindung. Rumah adalah tempat seseorang menemukan asal-usul, rasa memiliki, hubungan, dan identitas.
Dalam konteks Manggarai, ruang hidup masyarakat memiliki hubungan erat antara kampung, mbaru gendang dan lingko, tanah, kebun, hutan, dan sumber air. Semua unsur tersebut membentuk jaringan kehidupan.
Karena itu, menjaga alam berarti menjaga rumah. Dan menjaga rumah berarti menjaga kehidupan. Di sinilah “Roho lale” dapat dibaca sebagai sebuah etika. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi.
Manusia adalah penghuni. Sebagai penghuni, manusia mempunyai hak untuk menggunakan rumahnya, tetapi juga memiliki kewajiban merawatnya. Kewajiban itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk mereka yang akan datang.
Generasi sekarang menerima tanah dari generasi sebelumnya. Generasi sekarang menggunakan air yang tidak diciptakannya. Generasi sekarang menikmati hutan yang tumbuh jauh sebelum dirinya lahir. Maka, generasi sekarang tidak berhak menghabiskan semuanya hanya demi kepentingan sesaat. Ada generasi yang belum lahir, tetapi memiliki hak atas kehidupan yang layak. Inilah dasar dari tanggung jawab antargenerasi.
Mungkin terlalu puitis mengatakan bahwa bumi berbicara ketika gempa terjadi. Tetapi secara filosofis, metafora tersebut penting. Bumi tidak berbicara dengan bahasa manusia. Ia berbicara melalui perubahan. Melalui hujan. Melalui kekeringan. Melalui longsor. Melalui gempa. Melalui hutan yang tumbuh atau menghilang. Melalui sungai yang jernih atau tercemar. Manusia harus belajar membaca tanda-tanda tersebut. Bukan untuk menghidupkan kembali ketakutan lama, tetapi untuk membangun kesadaran baru.
Dalam pengertian itu, Roho lale dapat menjadi sebuah suara kebudayaan yang mengingatkan manusia agar tidak terlalu cepat menganggap dirinya sebagai penguasa dunia. Ia mengajarkan kerendahan hati. Kerendahan hati ekologis.
Kerendahan hati ekologis bukan berarti manusia menyerah kepada alam. Sebaliknya, ia berarti manusia menggunakan pengetahuan dan kekuasaannya dengan kesadaran akan batas.
Manusia tetap membangun. Tetapi membangun dengan memperhitungkan alam. Manusia tetap menggunakan tanah. Tetapi tidak merusak kesuburannya. Manusia tetap memanfaatkan hutan. Tetapi tidak menghabiskan kehidupannya. Manusia tetap menggunakan teknologi. Tetapi tidak kehilangan kebijaksanaan.
Roho lale adalah seruan pendek yang menyimpan pesan filsafat panjang. Ia lahir dari keterkejutan, tetapi dapat mengantar manusia kepada permenungan. Ia muncul ketika bumi bergerak, tetapi berbicara tentang posisi manusia.
Ia terdengar sebagai ungkapan spontan, tetapi menyimpan pandangan mengenai hubungan manusia dengan alam. Di dalam Roho lale terdapat kesadaran bahwa manusia hidup di atas tanah, tetapi bukan pemilik mutlak tanah. Manusia bergantung pada alam, tetapi alam tidak diciptakan hanya untuk memenuhi seluruh keinginan manusia.
Gempa mengingatkan manusia akan sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana: kita tidak berdiri di atas bumi sebagai penguasa; kita berdiri di atasnya sebagai bagian dari kehidupan.
Karena itu, ketika bumi berguncang, manusia tidak hanya perlu bertanya: mengapa bumi bergerak? Ia juga perlu bertanya: bagaimana selama ini kita hidup di atas bumi? Pertanyaan kedua mungkin lebih sulit. Sebab ia tidak hanya meminta penjelasan, tetapi meminta pertanggungjawaban.
Kita membutuhkan sains untuk memahami gempa. Kita membutuhkan teknologi untuk mengurangi risikonya. Tetapi kita juga membutuhkan kebudayaan untuk mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah terpisah dari alam.
Dalam konteks Manggarai, Roho lale dapat menjadi salah satu suara yang membawa ingatan tersebut. Suara itu mengajarkan bahwa manusia mempunyai batas. Bahwa alam mempunyai martabat. Bahwa tanah bukan sekadar benda. Bahwa hutan bukan sekadar komoditas. Bahwa air bukan sekadar sumber ekonomi. Dan bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk dieksploitasi. Bumi adalah rumah.
Maka, ketika tanah berguncang dan dari mulut manusia keluar seruan Roho lale!, barangkali yang terdengar bukan hanya suara ketakutan. Barangkali itu adalah suara kesadaran. Suara manusia yang kembali mengingat asal-usulnya. Suara manusia yang menyadari bahwa ia hidup dari tanah, air, hutan, dan seluruh jaringan kehidupan.
Dan suara manusia yang diingatkan bahwa rumah kehidupan ini tidak diwariskan kepada kita untuk dihabiskan, melainkan untuk dijaga dan diteruskan. Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah manusia dapat menguasai bumi.
Pertanyaan yang lebih manusiawi adalah: mampukah manusia hidup dengan rendah hati di atas bumi yang menopang kehidupannya?
Mungkin “Roho lale” adalah jawaban pertama-sebuah seruan kecil ketika bumi bergerak, tetapi sekaligus sebuah undangan besar agar manusia kembali belajar mendengar.
Kosmologi Roho Lale
Kosmologi Manggarai pada dasarnya tidak memisahkan manusia secara mutlak dari alam. Manusia hidup dalam suatu hubungan dengan tanah, hutan, air, kebun, hewan, sesama manusia, dan leluhur. Alam bukan sekadar objek yang dapat dimanfaatkan, tetapi merupakan bagian dari ruang kehidupan. Karena itu, hubungan manusia dengan alam seharusnya tidak hanya bersifat mengambil, tetapi juga merawat.
Dalam kerangka tersebut, kosmologi roho lale dapat dipahami sebagai dua sisi kehidupan. Roho mengingatkan manusia akan kefanaan, perubahan, dan kerapuhan. Lale mengingatkan manusia akan akar, pertumbuhan, dan keterikatan dengan bumi. Keduanya menunjukkan bahwa kehidupan selalu berada dalam hubungan dan keseimbangan.
Gempa kemudian menjadi pengalaman yang memperlihatkan keseimbangan tersebut secara nyata. Ketika bumi bergerak, manusia dipaksa menyadari bahwa kekokohan dirinya bersifat sementara. Kesadaran itu seharusnya tidak berhenti pada ketakutan, tetapi berkembang menjadi kerendahan hati ekologis.
Dengan demikian, “Roho lale” dapat dibaca sebagai sebuah filsafat tentang manusia dan bumi. Ia mengajarkan bahwa manusia hidup di atas tanah, tetapi bukan pemilik mutlak tanah; manusia menggunakan alam, tetapi mempunyai kewajiban menjaganya; manusia menerima kehidupan dari alam, tetapi juga harus mewariskan alam kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, “Roho lale” adalah seruan pendek dengan makna yang panjang. Di dalamnya tersimpan kesadaran bahwa manusia kuat sekaligus rapuh, berakar sekaligus dapat terguncang, mengetahui banyak hal tetapi tetap terbatas. Ketika bumi bergerak, manusia seakan diingatkan kembali pada tempatnya: bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan kehidupan.
Roho lale menunjukkan bahwa bahasa tradisional Manggarai tidak lahir dalam ruang yang terpisah dari alam. Ia tumbuh dari pengalaman konkret manusia dalam berhadapan dengan tanah, pohon, angin, air, hutan, dan berbagai gejala alam. Karena itu, “Roho lale” tidak seharusnya dipahami hanya sebagai seruan spontan ketika gempa terjadi. Di dalamnya tersimpan cara pandang tentang manusia, alam, kerentanan, dan keseimbangan kehidupan.
Dalam perspektif kosmologi Manggarai, hubungan manusia dengan alam bersifat relasional dan timbal balik. Tanah bukan sekadar benda ekonomi, tetapi ruang kehidupan, identitas, sejarah, dan ingatan komunitas. Hutan, air, kebun, dan tanah saling berkaitan dalam menopang keberlangsungan hidup. Karena itu, memanfaatkan alam harus selalu disertai kewajiban untuk merawat dan menjaganya.
Dengan demikian, Roho lale dapat dipahami sebagai filsafat ekologis yang mengajarkan kesadaran akan batas manusia. Sains membantu manusia memahami bagaimana gempa terjadi, sementara kebudayaan membantu manusia memahami bagaimana seharusnya bersikap terhadap alam. Keduanya perlu berjalan bersama.
Pada akhirnya, Roho lale mengingatkan bahwa manusia hidup di atas bumi, bergantung pada bumi, dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan bumi. Ketika tanah berguncang, manusia bukan hanya diajak menyelamatkan diri, tetapi juga diajak mengingat kembali tempatnya dalam keseluruhan kehidupan: sebagai bagian dari alam, bukan penguasa mutlak atas alam. (*)
There is no ads to display, Please add some