40 Peserta Mengikuti International Masterclass Introduction to Main Street di Yogyakarta

beritabernas.com – Sebanyak 40 peserta yang berasal dari Indonesia dan India mengikuti program pelatihan International Masterclass Introduction to Main Street yang dibuka di Ruang Seni Mustokoweni Yogyakarta, Minggu 17 September 2023.

Dalam pelatihan yang berlangsung hingga 21 September 2023 itu, diterapkan pendekatan sistematis dengan menggunakan bangunan pusaka sebagai dasar revitalisasi kawasan niaga. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Heritage Strategies International (HSI) Washington DC, USA; Bumi Pelestarian Pusaka Indonesia/BPPI) Jakarta, Grup Riset Pelestarian dan Pengelolaan Kota Pusaka, CoE Sustainable Environment Engineering Research & Innovation Center (ERIC) dan Fakultas Teknik UGM.

Menurut Y Sri Susilo, salah satu peserta Internationa Master Class yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta dalam rilis yang dikirim kepada beritabernas.com, Kamis 22September 2023, pelatihan internasional ini diadakan atas kerjasama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Komunitas Ekonomi Pusaka Inklusif dan Berkelanjutan (KePel). Kegiatan ini juga didukung oleh Pupuk Indonesia Holding Company, Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (Katgama) dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia  (KPwBI) DIY.

Menurut Donovan Rypkena, Fasilitator HIS, ada 4 pendekatan main street yaitu organisasi, promosi, desain dan vitalitas ekonomi. Keempat pendekatan itu harus dilakukan bersama-sama secara komprehensif dan tidak bisa sendiri-sendiri. Hal ini juga didukung oleh Rodney Swink dan Katlyn Rodney, fasilitator HIS.

Para peserta pelatihan International Masterclass Introduction to Main Street yang dibuka di Ruang Seni Mustokoweni Yogyakarta, Minggu 17 September 2023. Foto: Istimewa

Pada hari pertama pelatihan, Donovan Rypkema memberikan dasar-dasar pendekatan main street. Menurut Donovan, prinsip-prinsip mengapa main street bisa terus sukses secara berkelanjutan selama 40 tahun. “Main Street dikembangkan di lebih dari 2000 kota di Amerika Serikat dan luar negeri,” kata Donovan.

Menurut Ketua Panitia Laretna T Adishakti, komposisi peserta yang berjumlah 40 orang dari Indonesia dan India menunjukkan latar belakang yang beragam mulai dari arsitek, perancang kota, ekonomi dan bisnis, pemasaran, interior, ahli sipil, hukum, arkeologi, dan pariwisata baik dari dalam dan luar negeri. Melalui Masterclass, para peserta dipersiapkan untuk menjadi pelatih dan pelaksana Main Street dengan konteks Indonesia di lingkungan masing-masing.

Pada hari pertama pelatihan dilakukan tinjauan lapangan yang dipimpin oleh Laretna T Adishakti, dan fasilitator lainnya. Pertama mengunjungi Museum Wahanarata Kraton Yogyakarta yang baru dibuka sekaligus menikmati makan siang, kuliner pusaka Nasi Liwet Yogyakarta.

Peserta terbagi dalam 4 kelompok dengan masing-masing melakukan pengamatan lapangan di Kawasan Pusaka Niaga Jalan Margatama, Jalan Malioboro-Margo Mulyo, Pekapalan Alun-alun Utara dan Jalan Ngasem-Tamansari.

BACA JUGA:

Program hari pertama diakhiri dengan peserta bertemu kembali di Pusat Informasi Cosmological Axis, Ketandan. Di bangunan eks rumah Tionghoa ini, peserta berdiskusi kelompok dan mengamati berbagai informasi tentang nominasi ke UNESCO The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmark.

Pada malam harinya peserta di tempat masing-masing menyaksikan secara online nominasi tersebut dinyatakan sebagai World Heritage Site dalam Sidang World Heritage Committee di Riyadh, Saudi Arabia.

Semenara Masterclass hari kedua dimulai dengan Rodney Swink memberikan materi tentang pendekatan pertama yaitu organisasi. Pada organisasi, semua aspek lainnya dibangun. “Main Street sendiri dikelola sebagai organisasi nirlaba (LSM) dan dijalankan oleh Dewan Direksi yang berbasis sukarela dan mengutus serta mengawasi Manajer Program yang bertanggung jawab untuk operasional sehari-hari,” jelas Swink.

Pembelajaran tentang organisasi dilanjutkan dalam konteks lokal Indonesia oleh Catrini P Kubontubuh, Ketua Dewan Pimpinan BPPI. Pendekatan kedua Main Street adalah promosi yang disampaikan oleh Katlyn Cotton.

Pendekatan ini menitikberatkan pada upaya untuk menjual citra positif kawasan berdasarkan aset komunitas yang otentik serta menjadi penggerak pemasaran dari organisasi Main Street. “Mengorganisir acara adalah fokusnya dan promosi kawasan niaga, promosi ritel bisnis dan acara-acara khusus lainnya,” kata Katlyn.

Selanjutnya Catrini, Ketua Dewan Pimpinan BPPI, memberikan konteks lokal Indonesia tentang pemasaran dan branding. Selain itu, Donovan Rypkema juga menambahkan pembelajaran tentang Historic Urban Landscape (HUL) yang direkomendasikan oleh UNESCO (2012), dilanjutkan oleh Punto Wijayanto tentang pelaksanakan HUL di Indonesia.

Kemudian, Masterclass hari ketiga pagi hari diisi dengan pembelajaran tentang desain dan siang hari tentang vitalitas ekonomi. Desain merupakan elemen yang paling dekat hubungannya dengan pelestarian. Anggota Komite Desain akan membantu pemilik properti membuat keputusan mengenai bangunan pusaka mereka, termasuk bantuan desain profesional.

Selain itu, Komite Desain dapat mendukung perbaikan ruang publik, memberi masukan mengenai permasalahan di trotoar, parkir, taman, penerangan, desain ulang jalan dan proyek infrastruktur publik lainnya. Pendekatan ini diberikan oleh Rodney Swink dan Katlyn Cotton, dilanjutkan dengan konteks disain lokal oleh Laretna T Adishakti.

Donovan Rypkema melatih komponen pembangunan ekonomi dari Main Street. “Tanggung jawab komite tersebut mencakup retensi bisnis dan rekrutmen, identifikasi peluang pasar untuk bisnis baru dan ekspansi, mengatur insentif untuk pengembangan, dan melakukan survei pelanggan,” kata Donovan.

Dilanjutkan dengan konteks lokal oleh Amiluhur Soeroso (Dosen STIPRAM) yang juga Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta. Di setiap akhir pembelajaran organisasi, promosi, desain atau ekonomi, peserta secara berkelompok diminta membahas pendekatan tersebut pada kawasan pusaka niaga yang diteliti masing-masing.

Hari terakhir atau keempat, pada pagi hari secara berkelompok menyelesaikan pembahasan pendekatan Main Street pada kawasan masing-masing. Pada siang hari, setiap kelompok mempresentasikannya. Dalam presentasi berlangsung sangat dinamis. Masing-masing kelompok menyajikan kasus dengan masalah dan solusinya.

Fasilitator, peserta dan pelaksana Masterclass Introduction to Main Street yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia menyepakati untuk membentuk dan mengembangkan program Main Street Indonesia dengan sebutan pendekatan Kawasan Pusaka Niaga Indonesia (KPNI). Main Street di Amerika Serikat bukan tentang teori melainkan tentang implementasi.

“Untuk itu program pilot yang pertama perlu segera dilaksanakan dan diusulkan di Kawasan Buffer Zone World Heritage Site yang baru The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmark,” kata Y Sri Susilo. (lip)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *