Oleh: Andreas Chandra CPLA, Mahasiswa FH Universitas Atma Jaya Yogyakarta
beritabernas.com – “Kebenaran akan terus menemukan jalannya sendiri”. Nama rakyat dijual laris manis di berbagai media, mulai dari radio hingga televisi. Narasi yang digaungkan selalu sama: kekuasaan telah membebaskan dan menyejahterakan rakyat.
Namun, realitas tidak pernah berbohong tentang bagaimana kekuasaan itu sebenarnya bekerja. Tidak jarang kita menjumpai rakyat yang kelaparan, bahkan harus meregang nyawa karena tidak ada makanan. Sungguh ironis, tetapi inilah kenyataan pahit yang harus ditelan secara langsung.
Kaum bersuara yang terus menyerukan kebenaran kerap diposisikan sebagai musuh oleh para penguasa, sebab kelancangan berpikir mereka mengancam “ladang basah” korporatisme dan oligarki. Oleh karena itu, rakyat tidak boleh tinggal diam. Rakyat harus terus berpikir kritis dan melawan ketidakadilan hingga menang dengan berbagai cara konstitusional. Dalam hal ini, kaum muda wajib mengambil bagian dalam barisan perlawanan terhadap kekuasaan yang telah kehilangan nuraninya.
Kekuasaan, yang seharusnya menjadi pengayom bagi rakyat demi memberikan kenyamanan, keamanan, serta perlindungan dalam menjalankan roda aktivitas kemajuan suatu bangsa, kini telah bermutasi menjadi momok yang menakutkan. Ketika mendengar kata “kekuasaan”, rakyat seketika dicekam ketakutan. Mengapa rakyat menjadi takut?
Baca juga:
- ”Exceptio Veritatis” dan Tragedi Kebenaran dalam Negara Hukum
- Populasi Masyarakat Papua Selatan Diganti dengan Kelapa Sawit
- Penguasa sebagai Arsitek Hukum yang Rapuh
Kini, paradigma kekuasaan telah bergeser secara radikal. Bagi rakyat kecil, kekuasaan semestinya berfungsi sebagai tameng pelindung, alat kontrol sosial, serta instrumen pembuat kebijakan yang menentukan hajat hidup orang banyak. Namun, realitasnya kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Kekuasaan tidak lagi digunakan untuk melindungi rakyat, melainkan telah diselewengkan menjadi alat represif bagi penguasa untuk menindas masyarakat yang lemah.
Kekuasaan itu sungguh amat menakutkan dan berbahaya bagi rakyat yang tidak berdaya serta tidak memiliki hak istimewa (privilege). Rakyat hanya bisa menjerit sembari meratap, “Tuhan, inikah makna merdeka?”
Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, entah mengapa kita masih merasa terhina. Kekuasaan yang seharusnya menjadi pelindung, justru beralih fungsi menjadi tumit yang menginjak kepala kita. Penindasan ini ironisnya dilakukan oleh mereka yang memegang mandat dan kedudukan resmi.
Dengan keangkuhan yang tinggi, mereka menjadikan kekuasaan sebagai ladang eksploitasi untuk mengisi pundi-pundi rupiah pribadi.
Penegakan hukum seolah-olah telah sirna entah kemana. Ketika tongkat senjata berada di tangan mereka dan kendali mutlak ada pada kedudukan mereka, para penguasa siap memberangus siapa saja yang berani bersuara lantang demi kebenaran.
Rakyat yang tidak berdaya akhirnya hanya bisa mengadu kepada Sang Pencipta, mempertanyakan mengapa kekuasaan yang destruktif ini harus ada jika ujung-ujungnya hanya mendatangkan penderitaan. Kekuasaan yang ada pada genggaman mereka sama sekali tidak digunakan sebagaimana mestinya, melainkan telah menjelma menjadi tirani yang mengebiri hak-hak fundamental kemanusiaan. (*)
There is no ads to display, Please add some