Oleh: Andreas Chandra CPLA, Mahasiswa FH Universitas Atma Jaya Yogyakarta
beritabernas.com – Negara dipenuhi oleh para pejabat yang menjadikan diri seolah-olah sebagai representasi rakyat; padahal, kalimat yang keluar dari mulut mereka dan menggema di ruang publik sangat jauh dari suara rakyat serta penderitaan rakyat.
Nama rakyat dijual sebagai prestasi di hadapan media, namun realitas justru menampar: kemiskinan ada di mana-mana, anak putus sekolah sampai saat ini belum teratasi dan lapangan pekerjaan hanya tinggal janji. “19 juta lapangan kerja,” ucap Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka, tetapi sampai hari ini, pemutusan hubungan kerja semakin merajalela. Di mana negara?
Pidato mereka di setiap kegiatan selalu menggelegar, seakan-akan mampu menurunkan Tuhan dari surga. Tepuk tangan meriah selalu menyambut mereka. Wahai para alat negara, cukup simpan pidato kalian di dalam saku celana dan tunjukkan bukti nyata. Kalimat-kalimat pidato kalian bagaikan kentut yang dibawa angin ke mana-mana; baunya busuk dan tidak memberi manfaat apa-apa bagi rakyat.
Baca juga:
- Kekuasaan Itu Menakutkan
- Penguasa sebagai Arsitek Hukum yang Rapuh
- Komunikasi di Era Simulakra: Antara Realitas dan Pencitraan
Lihatlah penderitaan rakyat. Mereka setengah mati bertarung demi bisa melihat hari esok dengan keadaan yang lebih baik. Bagi para pejabat, uang seratus juta hanyalah angka biasa; tetapi bagi rakyat, seratus ribu rupiah sangatlah berharga. Jika rakyat yang dengan tulus memilih kalian untuk duduk di kursi kekuasaan dan menjadi pembela mereka yang lemah serta tak berdaya, mengapa justru pengkhianatan yang diberikan? Di mana nurani kalian?
Kalian duduk manis di ruangan ber-AC, sementara rakyat duduk di pinggir jalan yang panas. Kalian sibuk antre perjalanan dinas, sementara rakyat termenung dalam kelaparan. Jika kekuasaan membuat kalian lupa daratan, maka nilai-nilai moral seakan tidak lagi kalian miliki. Nilai-nilai kemanusiaan tidak pernah tercermin dalam tindakan; yang hebat hanyalah pidato di atas mimbar, sedangkan hasil nyatanya nihil.
Seharusnya para pejabat mulai berbenah; bukan menjadikan kepentingan pribadi sebagai prioritas, melainkan rakyatlah yang harus menjadi prioritas utama. Bahkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 1 ayat (2), ditegaskan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar,” bukan berada di tangan pejabat.
Pesan dari anak bangsa: negara ini tidak perlu gemar berpidato, karena pidato tidak akan membuat perut rakyat yang lapar menjadi kenyang, tidak akan memberi solusi bagi anak putus sekolah, tidak akan membuka pekerjaan bagi pengangguran, dan tidak akan membuat rakyat miskin bisa berobat dengan layak, Berikanlah bukti nyata. Senangkanlah hati rakyat jelata ini dengan tindakan yang benar-benar nyata, bukan sekadar pidato belaka. (*)
There is no ads to display, Please add some