beritabernas.com – Yogya Semesta merupakan sebuah gerakan kebudayaan yang hidup. Artinya, tidak berhenti pada konsep, tetapi diwujudkan melalui berbagai aksi nyata, seperti penataan kawasan Malioboro, pengembangan kota berbasis smart city yang tetap berakar pada budaya dan pelestarian ratusan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Pendekatan ini sering disebut sebagai upaya meramut semesta-merawat keseimbangan antara manusia, lingkungan dan budaya.
Sasaran penetapan target juga menjadi kunci. Artinya, setiap program harus memiliki indikator yang jelas dan terukur dengan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Misalnya, peningkatan kunjungan wisata atau penguatan UMKM berbasis budaya. Target ini kemudian dituangkan dalam peta jalan jangka pendek, menengah dan panjang.
“Pada akhirnya, Yogya Semesta bukan sekadar program, melainkan sebuah ekosistem. Ia adalah strategi besar untuk memastikan bahwa di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Yogyakarta tetap berdiri sebagai pusat peradaban Jawa yang hidup, berkarakter, dan menyejahterakan masyarakatnya. Dua puluh tahun perjalanan Yogya Semesta menjadi bukti bahwa kebudayaan bukan penghambat kemajuan, melainkan kekuatan utama untuk membangun masa depan yang berkelanjutan,” kata Robby Kusumaharta, Penanggung Jawab Komunitas Budaya “Yogya Semesta”, pada acara talkshow memperingati 20 tahun Yogya Semesta di Pendapa Wiyata Praja Kepatihan, Jumat 29 Mei 2026.
Dalam talkshow dengan tema 20 Tahun Yogya Semesta 2006-2026 : Strategi Kebudayaan Menjaga Keistimewaan bagi Masa Depan DIY itu, Robby Kusumaharta mengatakan, Yogya Semesta menjadi ruang dialog publik melalui kegiatan sarasehan dan talkshow budaya. Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas dan masyarakat untuk membahas berbagai isu strategis Yogyakarta, mulai dari tantangan modernisasi, persoalan agraria, hingga dampak pariwisata.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi budaya yang relevan dengan perkembangan zaman,” kata Robby Kusumaharta yang juga pengurus Kadin DIY.
Dikatakan, selama dua dekade terakhir, Yogya Semesta hadir sebagai sebuah ikhtiar strategis dalam menjaga sekaligus mengembangkan keistimewaan DIY. Lebih dari sekadar konsep pelestarian budaya, Yogya Semesta merupakan pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan nilai tradisi, filosofi Jawa, sejarah, hingga dinamika modern seperti ekonomi kreatif.
Sementara tujuan utama Yogya Semesta adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat tanpa melepaskan akar kebudayaan. Dalam kerangka ini, kebudayaan tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan menjadi fondasi utama. “Yogyakarta membangun dirinya dengan menjadikan budaya sebagai arah strategis baik dalam tata ruang, pendidikan hingga pengembangan ekonomi,” tegas Robby.
Salah satu pilar utama Yogya Semesta, menurut Robby Kusumaharta, adalah keberadaan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton hingga Tugu Golong Gilig. Sumbu ini bukan sekadar garis imajiner, melainkan representasi filosofi hidup masyarakat Jawa seperti Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan hidup) dan Manunggaling Kawula Gusti (kesatuan manusia dengan Tuhan).
“Harmoni antara manusia, alam dan Sang Pencipta menjadi dasar dalam penataan ruang dan kehidupan sosial di Yogyakarta.,” kata Robby.
Baca juga:
- Konsep Ki Hadjar Dewantara Mewarnai Ciri Khas Gerakan Pramuka di Indonesia Hingga Sekarang
- Belajar Tentang Kelembutan dan Ketegasan Hati Nyi Hadjar Dewantara di Museum Dewantara Kirti Griya
- Ki Prijo Mustiko Menerima Penghargaan Budaya 2024 dari Walikota Yogyakarta
- Jatinurcahyo Pamerkan Batik Tulis Yogyakarta di Gedung Museum Benteng Vredelburg
Ia mengatakan, strategi ini diperkuat oleh status keistimewaan DIY yang diatur melalui undang-undang. Keistimewaan tersebut memberikan kewenangan khusus kepada pemerintah daerah dalam bidang kebudayaan, tata ruang, pertanahan, kelembagaan dan mekanisme pengisian jabatan gubernur. Semua ini menjadi landasan kuat dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengarahkan pembangunan.
Dalam praktiknya, Yogya Semesta juga diwujudkan melalui konsep Caturgatra Tunggal, yang menyinergikan empat elemen penting kehidupan masyarakat: Keraton sebagai pusat budaya dan pemerintahan, Masjid Gedhé sebagai pusat spiritual, Alun-Alun sebagai ruang sosial, serta Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi. Keempatnya membentuk keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin masyarakat Yogyakarta.
Dalam talkshow itu, tampil sebagai narasumber adalah akademisi dan praktisi yakni Syahbenol Hasibuan (Pengasuh Yogya Semesta) Ki Priyo Mustiko (Budayawan) dan Dwijo Suyono S.Sn (Jurnalis) dan dipandu oleh host “Yogya Semesta” Rommy Heryanto, praktisi dan pakar vokasi serta moderator profesional di Yogyakarta.
Ki Priyo Mustiko, salah satu narasumber, mengatakan, pada awal era keistimewaan DIY sudah pernah diintervensi nilai budaya sebagai fondasi keistimewaan yang terhimpun sekitar 14 nilai budaya, antara lain sepi ing pamrih rame ing gawe, Trilogi Kepemimpinan: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani dan Tri Sakti Jiwa: cipta, rasa, karsa dan sebagainya.
Namun, setelah melalui pembahasan mendalam dan atas arahan Gubernur DIY, menurut Ki Priyo Mustiko, beberapa nilai budaya keistimewaan DIY tersebut diperas atau diambil sumber pokoknya menjadi 3 nilai utama keistimewaan DIY yaitu Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Lan Gusti dan Hamemayu Hayuning Bawana.

Hal ini kemudian dikenal sebagai Trilogi Filosofi Keistimewaan DIY yang pada intinya bermakna bahwa manusia atau masyarakat DIY selalu menjaga dan merawat hubungan yang harmonis dan seimbang dalam 3 aspek yakni aspek vertikal: hubungan dengan Tuhan Maha Pencipta; aspek horisontal: hububgan dengan sesama manusia dan aspek fisikal: hubungan dengan alam semesta.
Potret budaya istimewa DIY terkini
Menurut Ki Priyo Mustiko, dengan dukungan dana keistimewaan (Danais) yang intensif maka hampir setiap hari ada kegiatan budaya di Yogyakarta atau DIY, seperti pertunjukan seni, pameran, dialog budaya, konser, webinar bertema budaya dan seni dan sebagainya.
Kemungkinan yang bisa mengalahkan rekor ini hanya Bali karena setiap waktu kegiatan budaya dan ritual keagamaan nampak menyatu, sementara ritual budaya dan keagamaan di DIY berjalan beriringan.
Dari aspek budaya, menurut Ki Priyo Mustiko, satu hal yang perlu fokus dibahas adalah terjadinya anomali atau paradoks yakni sejak lama atau sekitar tahun 1980-an DIY terkenal dengan tingkat harapan hidup tertinggi di Indonesia hingga kini.
Namun, bersamaan dengan prestasi itu, menurut Ki Priyo Mustiko, tercatat juga sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa (data BPS 2026). Angka harapan hidup di DIY mencapai rata-rata 75,64 tahun, sedangkan tingkat kemiskinan di DIY di angkat 10,08 persen.
“Artinya, masih ada PR besar di DIY. Apakah kebudayaan sebagai sumber daya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat DIY? Mari kita bedah bersama,” ajak Ki Priyo Mustiko. (phj)
There is no ads to display, Please add some