Patung St Yusuf Arimatea Diterima Paus Leo XIV, Mukjizat untuk Niko Harahap

beritabernas.com – Mukjizat itu nyata. Itulah yang dirasakan Niko Harahap Tanubrata, pemilik Brata Gallery Yogyakarta. Ini terbukti, setelah patung St Yusuf Arimatea buatan Brata Gallery miliknya diterima Paus Leo XIV, pada Rabu, 25 Maret 2026, ada peristiwa luar biasa yang dialaminya tanpa diduga sebelumnya.

Padahal ia sendiri tidak pernah mengharapkan apapun setelah patung St Yusuf Arimatea diterima langsung oleh Paus Leo XIV di Tahta Suci Vatikan. Penyerahan patung kepada Paus sebenarnya merupakan keinginan sanga ayahnya ketika masih hidup. Namun, sebelum patung itu diterima Paus, sang ayah sudah dipanggil Tuhan.

“Jika papa masih hidup, ia pasti sangat terharu karena patung St Yusuf Arimatea buatan Brata Gallery diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Karena itu merupakan keinginan papa dulu bahwa patung ini diterima Paus, meski saat itu keinginan tersebut dipahami sulit untuk diwujudkan. Namun, ternyata patung St Yusuf Arimatea ini diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Meski kami tidak mengharapkan apa-apa menyusul patung diterima Paus Leo XIV, faktanya setelah itu, ada peristiwa luar biasa terjadi,” kata Niko Harahap Tanubrata, pemilik Brata Gallery Yogyakarta, dalam obrolan dengan AM Putut Prabantoro pada Mei 2025.

Saat diwawancara pada awal Mei 2026, Niko yang didampingi Rosalinda Widjajanto, stafnya yang bertanggung jawab langsung atas pembuatan patung St Yusuf Arimatea, mengaku sekaligus menyadari bahwa pemesanan dan pembuatan patung St Yusuf Arimatea merupakan misteri bagi dirinya.

Dengan terus terang ia mengaku, baru pertama kali membuat patung Yusuf Arimatea selama Brata Gallery berdiri. Patung itu didesain dan dipesan oleh AM Putut Prabantoro, Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).

Seperti diketahui, Yusuf Arimatea merupakan tokoh di balik pemakaman secara terhormat bagi Yesus Kristus yang wafat di kayu salib. Ia adalah orang berpengaruh, pengusaha kaya raya, anggota Majelis Besar Mahkamah Yahudi Sanhedrin sekaligus murid rahasia Yesus. Ia mempersembahkan pemakaman keluarga yang baru dibangunnya sebagai tempat pemakaman Yesus. Hari peringatan St Yusuf Arimatea jatuh tiap 31 Agustus.

Patung Yusuf Arimatea diterima oleh Paus Leo XIV dalam audiensi, Rabu (25/03/2026). Foto: Dok PWKI

Menyusul diterimanya patung oleh Paus Leo XIV, Niko mengaku mendapat order istimewa dari seseorang dari Bandung. Pemesanan itu merupakan yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah hidup galerinya. Niko diminta membuat patung serial jalan salib dengan jumlah stasi 14, seperti pada umumnya. Istimewanya, masing-masing stasi hanya terdiri dua tokoh dengan tinggi 180 cm.

Meski demikian, anehnya, si pemesan menyetujui ketika Niko mengusulkan tambahan satu tokoh lagi pada stasi ketigabelas, yang dalam tradisi Jalan Salib adalah adegan pieta, Bunda Maria memangku jenasah Yesus (pieta). Artinya, dalam stasi ketigabelas itu ada tiga tokoh.

Terkejut

Dalam audiensi pada 25 Maret 2026, 8 orang membawa patung Yusuf Arimatea dari Indonesia dan dipersembahkan kepada Paus Leo XIV. Mereka adalah AM. Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana dan Bonfilio Mahendra Wahanaputera, yang kelimanya adalah delegasi PWKI. Sementara dua lainnya dari delegasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yakni Mgr Agustinus ’Didik” Tri Budi Utomo (Ketua Komisi Komunikasi Sosial / Komsos) dan Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo (Sekretaris Komisi Komsos). Yang terakhir adalah Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia, yang menjadi pendamping rombongan.

Baik Niko dan Linda mengaku sangat terkejut ketika banyak media memberitakan penyerahan patung Yusuf Arimatea tersebut. Keduanya tidak pernah menduga bahwa patung yang mereka buat akan diterima langsung oleh Paus Leo XIV.

Menurut cerita Niko, pada bulan Agustus 2025 ia menerima pesanan dari AM Putut Prabantoro untuk membuat patung Yusuf Arimatea. “Waktu itu saya gak ngebayangin. Tahunya hanya dibawa ke Vatikan. Kalau akhirnya bisa diterima Paus, ya berkah luar biasa untuk saya. Kaget karena tidak mengira patung itu diterima Paus Leo. Saya tahunya cuma mau dibawa ke Vatikan, dan saya pikir, mungkin untuk museum. Saya happy banget, patung bisa masuk ke Vatikan dan diterima langsung Paus Leo,” ujar Niko.

Linda pun mengaku tidak menyangka sama sekali. “Waktu proses packing dan bikin video cara bongkarnya bagaimana, saya masih belum ngeh kalau patung itu bakal sampai ke tangan Paus. Ngertinya cuma sampai Vatikan, mungkin ada acara apa gitu. Setelah lihat beritanya, wow diterima Paus Leo,” ucap Linda yang mengaku peristiwa itu mengingatkan dirinya pada satu ayat dalam Kitab Suci.

Baca juga:

“Saya seperti diingatkan satu ayat kira-kira bunyinya begini: apa yang tidak pernah terlintas di hati kita, justru itu akan diberikan kepada kita,” tambah Linda, yang beragama Kristen Protestan.

Demikian pula kepada karyawan atau pekerja di tokonya. Niko tidak memberitahukan bahwa patung itu bakal diberikan ke Paus Leo, tetapi hanya dibawa ke Vatikan. “Saya mengira mungkin dibawa ke museum, karena patung Bunda Maria Segala Suku bikinan kami juga dikirim ke museum Vatikan. Maka begitu diterima Paus Leo, beritanya saya share ke grup toko dan IG. Semua heboh, terus banyak orang tanya langsung apakah patung itu juga dijual?” ungkap Niko seraya tersenyum.

Jadi berkat

Terkait dengan pesanan patung serial jalan salib dari Bandung, Niko mengaku untuk kali pertama, seseorang memesan patung serial jalan salib dengan tinggi 180 cm dan serial bukan hanya satu.

“Orang tersebut memesan setiap stasi hanya ada dua sosok. Saya usul saat pieta dan Yesus diturunkan oleh Yusuf Arimatea ditambah satu dan dia pun setuju. Apakah ini menandakan bagian dari kisah diterima patung Yusuf Arimatea oleh Paus Leo, saya gak tau. Tapi orang itu saya kirimin juga beritanya, dan dia setuju,” ujar Niko.

Niko menambahkan bahwa orang tersebut membuat patung jalan salib untuk rumah pribadi. “Dia mau beda, tidak ada Ponsius Pilatus. Dan dia sudah membayar DP. Mungkin ini jalan Tuhan,” ucap Niko, yang memanfaatkan AI saat mencari sosok yang pas untuk patungnya.

Niko mengungkapkan pembuatan patung Yusuf Arimatea mempunyai tantangan tersendiri. Selama ini ia telah membuat ratusan bahkan ribuan patung namun yang itu-itu saja. Seputar Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf, bayi Yesus, Tiga Raja dan sosok-sosok dalam Kitab Suci yang umum.

“Waktu itu bulan Agustus pak Putut cuma omong, coba cari patung Yusuf Arimatea. Tapi gak ada referensi. Terus dia menggambarkan patung itu, saya bikin sketnya juga secara asal. Pak Putut kemudian menjelaskan ekspresinya, saya waktu itu juga bingung. Karena itu saya usul langsung eksekusi saja, diterapkan dalam tanah liat. Terus proses, trial dan error. Saya panggil pak Putut begini pak hasilnya. Pak Putut mengritisi dan saya ubah lagi. Sekitar 5-6 kalilah perubahannya,” beber Niko.

Menurut Niko, kesulitan muncul karena pertama, tidak ada refensi patung yang sudah jadi. Kedua, melibatkan tiga pihak. “Pak Wid (Lambertus Widiantoro, kakak Putut, red) yang mendapat penampakan, Pak Putut yang diminta untuk membuat sekaligus menerjemahkan, dan saya yang mengeksekusi. Biasanya klien langsung ke saya. Saya ribuan kali membuat patung. Namun Yusuf Arimatea ya baru pertama kali ini. Kami gak paham siapa dia. Biasanya kami cuma bikin santo santa, Maria, Yusuf atau Yesus, kebanyakan seperti itu,” jelasnya.

Hal yang sama dialami Linda, sebagai penggambar. “Jujur saya juga baru kenal sosok Yusuf Arimatea karena ikut membuat patung itu. Niko bilang tolong digambarkan berdasarkan sket dari Pak Putut. Ternyata sosok Yusuf Arimatea ini keren dan perannya sangat besar. Yang bikin saya terharu itu, sosok semulia itu hatinya kok dia tidak mau diangkat,” ujarnya.

Putut Prabantoro mengaku diminta untuk membawa patung Yusuf Arimatea dan menyerahkannya ke Paus . Itu terjadi pada bulan Juli 2025, setelah kakaknya Lambertus Widiantoro mendapat vision. Segera ia mencari patung Yusuf Arimatea dan menghubungi banyak pematung di berbagai kota di Indonesia

Patung St Yusuf Arimatea dibawa Rm Markus Solo Kewuta SVD sesaat sebelum diserahkan kepada Paus Leo XIV di Basilika St Petrus Vatikan, Rabu (25/03/2026). Foto: Dok PWKI

“Semuanya minta model atau contoh patung. Saya juga meminta bantuan Rm Antonius Suherman Pr dari Keuskupan Tanjungkarang dan Sr Fransiska CP di Roma. Semuanya nihil, tidak ada patung. Setelah kembali dari Vatikan pada Agustus 2025, saya kemudian menghubungi Niko dengan pesan Oktober patung harus selesai karena akan dibawa ke Vatikan pada November 2025. Namun rencana inipun gagal,” tandas Putut.

Namun Tuhan menghendaki lain. Pada akhirnya di tengah berkecamuknya perang Timur Tengah, patung Yusuf Arimatea itu dibawa ke Vatikan dan diserahkan langsung kepada Paus Leo pada Rabu, 25 Maret 2026. “Tanggalnya pun ditentukan oleh Mgr Didik, meski Mgr Didik baru tahu kalau ada patung sesaat sebelum berangkat ke Roma pada 23 Maret 2026. PWKI dan KWI berangkat ke Vatikan dalam rangka penandatanganan penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan,” ujar Putut.

Menutup perbincangan siang itu, Niko mengungkapkan hasrat terpendamnya. Menyusul patung Yusuf Arifmatea buatannya sampai Vatikan dan diterima langsung Paus Leo, membuat Niko dan Linda jadi ingin bisa berkunjung ke Vatikan.

“Saya mau banget ke Vatikan apalagi ketemu Paus. Waktu Paus Fransiskus ke Jakarta saja kami tidak dapat. Padahal patung Maria Bunda Segala Suku yang ada di dekat altar saat Misa Kudus di GBK itu buatan kami. Saya dan Linda tentu mau,” seru Niko, yang langsung diamini oleh Linda seraya tersenyum. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *