Gelar Panen Raya, Dukuh Kalipentung Kalitirto Mendapat Gelar sebagai Desa Mandiri Benih

beritabernas.com – Dukuh Kalipentung, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY terpilih sebagai Desa Mandiri Benih. Hal ini membuat Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur dan Kepala Dukuh Mujiharjo bangga.

Sebab, Poktan Sido Makmur dinilai sebagai tim yang solid, memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi, ketat dalam mengikuti aturan yang ditetapkan dan memiliki daya juang yang cukup tinggi untuk menuju kemandirian benih.

Sekitar dua bulan lalu, di Padukuhan Kalipentung, Kalitirto dilakukan panen raya yang dihadiri oleh Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan Ladiyani Retno Widowati, Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi DIY Aris Eko Nugroho, Kadis Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Berbah Ringgo Anthoni dan Lurah Kalipentung Arihadi.

Keberhasilan Kalipentung menjadi Desa Mandiri Benih dinilai Ladiyani Retno Widowati sebagai harapan agar pembenihan mandiri terus berlanjut dan jika berhasil masuk kategori pengembang atau penangkaran. Artinya, Poktan Sido Makmur dapat menyediakan benih bermutu secara mandiri dan meningkatkan produksi dan pendapatan petani.

Dalam wawancaranya pada Sabtu 6 Juni 2026 di Yogyakarta, Mujiharjo mengungkapkan rasa bangga karena mimpinya untuk mewujudkan ketahanan pangan di pedukuhannya yang dimulai dari ketahanan benih mulai terwujud. Baginya, panen raya itu juga merupakan momentum mewujudkan mimpi yang lama dibicarakan dalam Poktan Sido Makmur.

“Ketahanan pangan itu bukan soal apa yang dimakan, tetapi soal apa yang ditanam. Jika mandiri dalam benih, ketahanan pangan sudah mencapai 50 persen dan sisanya terkait dengan tanah, air, pupuk dan lain-lain. Untuk benih, kami tidak ingin tergantung pada pihak lain. Kalau memungkinkan kami ingin menjadi produsen benih juga,“ kata Mujiharjo.

Dari kiri ke kanan: Aris Eko Nugroho, Ladiyani Retno Widowati, Rofiq Andriyanto dan Mujiharjo, potong tumpeng dalam acara panen raya, Rabu 15 April 2026. Foto: Istimewa

Poktan Sido Makmur didirikan pada 1987 dan saat ini dipimpin Purwadi. Anggotanya berjumlah 70 orang dengan mengelola areal persawahan seluas 23 ha. Ada juga Kelompok Wanita Tani (KWT) Adem Ayem yang menjadi bagian tak terpisah dari Poktan Sido Makmur. Kelompok KWT Adem Ayem dengan anggota 25 orang ini diketuai oleh Sujatmi (54).

Sebagai dukuh, Mujiharjo sangat paham arti kemandirian benih yang merupakan pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Pasalnya, harga benih lebih tinggi daripada harga padi konsumsi. Oleh karena itu, awalnya, poktan Sido Makmur mengadakan kerjasama pembibitan benih dengan PB Usaha Tani yang dimiliki Joko Sumarsono. Usaha itu sekarang diteruskan oleh putranya, Wijanarko Hari Suseno.

Pada Oktober 2025, Mujiharjo menjelaskan lebih lanjut, poktannya mendapat bantuan sebesar Rp 68,3 juta dari pemerintah yang berbentuk benih, pupuk, obat anti hama dll. Bantuan itu untuk areal seluas 10 ha. Dan Mujiharjo mengakui, bantuan tersebut tidak lebas dari campur tangan PB Usaha Tani yang mengajukan proposal ke pemerintah. Bantuan inilah yang kemudian pada April pertengahan kemudian membuahkan panen raya. Varietas yang dipanen adalah, logawa (5 ha), inpari 47 (3 ha) dan situ bagendit (2 ha).

Mimpi naik combi

Mujiharjo bersyukur karena ada janji bantuan dari pemerintah sebesar Rp 100 juta untuk pengembangan benih. Syaratnya, Sido Makmur dapat mempertahankan kemandirian benih. Selain benih, Mujiharjo mengaku, poktannya membutuhkan bantuan traktor tangan dan “menaiki” combi.

Traktor tangan sangat multi fungsi karena memercepat kerja pra tanam termasuk bajak dan penggemburan. Saat ini biaya untuk pengolahan dan penggemburan termasuk cukup tinggi karena untuk sewa mesin.

Baca juga:

Sementara combi, sebutan untuk Combine Harvester, adalah alat panen multifungsi dengan tiga tugas sekaligus. Yakni, memotong tanaman, merontokkan bulir padi, dan membersihkan gabah dari kotoran. Mesin ini sangat efisien dan memangkas biaya tenaga kerja dan sewa karena mampu memanen 1 (satu) ha panenan dalam waktu sekitar 3 jam dan menghindarkan panenan yang terbuang.

“Untuk mengolah tanah 23 ha dibutuhkan empat traktor tangan dan satu combi. Harga sewa traktor tangan dan combi cukup mahal. Untuk sewa alat panen, biayanya Rp 300 ribu/ 1.000 meter,” ujar Mujiharjo.

Sido Makmur membutuhkan empat traktor tangan senilai Rp 100 juta dan satu combi seharga Rp 400 juta. Bagi poktan Sido Makmur, jika harus menyewa terus tanpa memiliki traktor tangan dan combi, akibatnya ketahanan pangan di daerah ini akan lama terwujud. Namun untuk membeli kedua mesin itu dengan tunai tidak mungkin.

“Kami tidak mungkin membeli kedua alat itu secara tunai. Jangankan tunai, meminjam uang dari bankpun rasanya akan sulit untuk membayar bunganya. Kesulitan lainnya adalah, pembayaran baru dapat dilakukan secara mengangsur setelah panen. Disinilah letak harapan, adanya campur tangan pemerintah,” ujar Dukuh Kalipentung itu.

Untuk menutup biaya-biaya, ada iuran anggota poktan yakni Rp 300 per kg hasil. Iuran digunakan untuk biaya mesin (50 persen) dan operasional (50 persen) termasuk di dalamnya benih, pupuk, obat anti hama dan lain-lain.

“Jika dihitung-hitung pendapatan PokTan Sido Makmur adalah Rp 4 juta / 3 bulan mengingat pengeluaran yang besar. Ini lebih kecil dibanding pendapat warganya yang non petani sekitar Rp 2 juta / bulan. Jadi yang ingin diubah adalah mekanismenya, dengan bantuan traktor tangan dan combi,” ujarnya.

Kepala Dukuh Kalipentung Mujiharjo menerima potongan tumpeng dari Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan Ladiyani Retno Widowati disaksikan oleh Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi DIY Aris Eko Nugroho (kiri) dan Kadis Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto (paling kanan) dalam acara panen raya, Rabu (15 April 2026. Foto: Istimewa

Oleh karena itu, jika ada bantuan kedua mesin itu, biaya sewa alat yang selama ini berjalan dapat dialihkan untuk mengangsur bantuan pemerintah tersebut. Poktan Sido Makmur lebih memilih bantuan mesin dan bukan pinjaman uang. Mesin panen combi itu sangat efisien, kerja cepat dan menghindarkan panenan yang sia-sia karena terbuang.

Menurut Mujiharjo, para anggota Poktan mulai menyisihkan uang untuk menabung terkait dengan kebutuhan alat-alat tersebut. Namun dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai Rp 500 juta. Sementara kalau pinjam bank, dikhawatirkan menjadi kredit macet karena pinjaman dan bunga sulit untuk dibayar.

Ia meyakini, dengan bantuan kedua jenis mesin itu, ketahanan pangan akan terlaksana di samping kemandirian benih. Jika panenan sebanyak tiga kali padi – padi – palawija, hasil palawija sebanyak 23 ha digunakan untuk tabungan. Namun hasil palawija (hortikultura) sifatnya variasi tidak bisa disamakan jenis tanamannya. Penggunaan mesin mesti ada masanya.

Oleh karena itu, anggota poktan yang memiliki tabungan lebih diberi prioritas untuk membeli peralatan yang melewati masa berlakunya. Dan hasilnya dapat digunakan untuk membeli alat lagi setelah pinjaman alat itu lunas. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *