Mengenang Prof Johan Silas: Selamat Jalan Arsitek Lingkungan Indonesia

Oleh: Yustinus Ade Stirman, Ahli Muda Penyuluh Lingkungan, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa/ Kementerian Lingkungan Hidup

beritabernas.com – Pagi itu, Senin 8 Juni 2026, kabar duka datang dari Surabaya. Prof Ir Johan Silas (1936–2026), guru besar emeritus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berpulang pada usia 90 tahun.

Indonesia kehilangan salah satu pemikir tata kota terbaik yang pernah dimiliki. Dunia lingkungan hidup kehilangan seorang guru yang selama puluhan tahun tidak pernah berhenti mengingatkan bahwa pembangunan harus berpihak pada manusia dan alam.

Bagi banyak orang, Johan Silas dikenal sebagai arsitek dan perencana kota. Namun bagi kalangan pemerhati lingkungan hidup, ia lebih dari itu. Ia merupakan salah satu tokoh yang ikut meletakkan fondasi gerakan lingkungan perkotaan di Indonesia.

Namanya sulit dipisahkan dari perjalanan Kota Surabaya menjadi salah satu kota paling berhasil dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Di balik berbagai penghargaan yang diraih Surabaya, termasuk deretan penghargaan Adipura dan Adipura Kencana, terdapat kontribusi pemikiran Johan Silas yang konsisten memperjuangkan konsep kota yang manusiawi, hijau dan berkelanjutan.

Baca juga:

Jauh sebelum isu keberlanjutan menjadi tren global, Johan Silas telah berbicara tentang pentingnya kota yang ramah lingkungan. Melalui berbagai tulisan, penelitian dan keterlibatannya dalam perencanaan kota, ia mendorong pendekatan pembangunan yang tidak semata-mata berorientasi pada fisik dan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, budaya dan kualitas lingkungan hidup.

Kontribusinya terhadap kebijakan lingkungan nasional juga tidak kecil. Pada masa-masa awal pengembangan Program Adipura, Johan Silas termasuk salah satu akademisi yang terlibat dalam perumusan gagasan dan penguatan konsep kota bersih serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Pemikirannya menjadi bagian dari fondasi yang kemudian berkembang menjadi Program Adipura, penghargaan lingkungan perkotaan paling bergengsi di Indonesia.

Keterlibatannya tidak berhenti pada tahap konseptual. Selama bertahun-tahun, Johan Silas juga dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan dan Tim Penilai Adipura Nasional. Dalam posisi tersebut, ia ikut mengawal arah kebijakan lingkungan perkotaan sekaligus mendorong pemerintah daerah agar menjadikan lingkungan sebagai bagian dari agenda pembangunan, bukan sekadar proyek sesaat menjelang penilaian.

Pengalaman dan integritasnya membuat pemerintah pusat menaruh kepercayaan besar kepadanya. Pada era Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim (2001–2005), Johan Silas dipercaya menjadi Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup. Dari posisi itu, ia memberikan berbagai masukan strategis terkait pembangunan perkotaan, pengelolaan lingkungan dan penguatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan hidup.

Saya mengenal Prof Johan Silas sejak tahun 1999 ketika masih menjadi wartawan Majalah OZON, salah satu media lingkungan hidup pertama terbitan Jakarta pada masa itu. Saat itu saya menghubunginya untuk meminta tulisan bagi edisi perdana majalah tersebut. Tanpa banyak syarat, ia mengirimkan sebuah artikel berjudul Menuju Kota yang Berkelanjutan.

Tulisan itulah yang menjadi awal perkenalan kami. Sejak saat itu, saya melihat satu hal yang konsisten dalam diri Johan Silas: kesediaannya berbagi pengetahuan. Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan konsultan berbagai proyek pembangunan, ia tidak pernah menolak ketika diminta menulis atau berdiskusi mengenai persoalan lingkungan.

Pertemanan itu berlanjut, ketika saya bekerja sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Majalah HARMONI, majalah lingkungan hidup terbitan Jakarta. Ia rajin mengirim artikel untuk dipublikasikan.

Hubungan itu semakin intens ketika pada tahun 2005 saya mendapat tugas mengelola Majalah JENDELA yang diterbitkan oleh Pusat Regional Lingkungan Hidup Jawa, Kementerian Lingkungan Hidup. Pada setiap edisi, Johan Silas selalu hadir melalui tulisan-tulisannya yang bernas.

Hingga tahun 2022, ia tercatat sebagai salah satu penulis paling produktif di Majalah JENDELA. Artikel-artikelnya tidak hanya membahas tata kota, tetapi juga persoalan sosial, pendidikan lingkungan, budaya, hingga filsafat pembangunan dan lingkungan. Tulisan-tulisannya selalu kaya perspektif dan mudah dipahami, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki semua akademisi.

Ia adalah ilmuwan yang tidak terjebak dalam menara gading. Membaca tulisan Johan Silas membuat pembaca menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Sampah, banjir, kemacetan, tata ruang, kemiskinan, hingga perilaku masyarakat merupakan persoalan yang saling terkait dan harus dipahami secara utuh.

Pada tahun 2014, saya bersama Prof Suparto Wijoyo menghimpun sejumlah tulisan para kontributor terbaik Majalah Jendela ke dalam sebuah buku berjudul Renaisans Lingkungan Indonesia. Di antara para penulis yang artikelnya dimuat, Johan Silas menjadi salah satu kontributor utama dengan belasan tulisan yang hingga kini tetap relevan dibaca.

Yang paling saya ingat bukan hanya kecerdasannya, melainkan kerendahan hatinya. Ia selalu terbuka berdiskusi dengan siapa saja, mulai dari mahasiswa, wartawan, aktivis lingkungan hingga pejabat pemerintah. Setiap percakapan dengannya selalu menghadirkan wawasan baru.

Prof Ir Johan Silas (1936–2026), guru besar emeritus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Foto: Istimewa

Pertemuan terakhir kami terjadi pada 28 April 2026 bersama rekan dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa (Agrobiliano) di rumahnya di kompleks Perumahan Dosen ITS di Kertajaya, Surabaya. Di usia yang telah menginjak 90 tahun, semangatnya membicarakan lingkungan tidak pernah surut.

Saat itu pembicaraan mengalir panjang mengenai persoalan sampah, tata kota, dan masa depan lingkungan Indonesia. Di tengah percakapan, ia menyampaikan satu kalimat yang hingga kini terus terngiang. “Masalah lingkungan akan bisa diselesaikan kalau pemimpinnya peduli terhadap lingkungan.”

Ia lalu bercerita tentang perjalanan Surabaya. Menurutnya, keberhasilan kota itu meraih Adipura bukan semata karena program teknis, melainkan karena adanya komitmen kuat dari para pemimpinnya yang menempatkan lingkungan sebagai prioritas pembangunan. Ketika kepala daerah memiliki kepedulian dan konsistensi, masyarakat akan mengikuti dan perubahan bisa terjadi.

Kini, setelah kepergiannya, saya menyadari bahwa kalimat tersebut bukan sekadar analisis seorang pakar. Itu adalah pesan terakhir seorang guru yang sepanjang hidupnya memperjuangkan lingkungan hidup Indonesia.

Prof Johan Silas telah pergi. Namun gagasan, tulisan, dan keteladanannya akan terus hidup. Ia meninggalkan jejak panjang dalam pembangunan kota-kota Indonesia, dalam kebijakan lingkungan nasional, dalam perjalanan Program Adipura, dan dalam ingatan banyak orang yang pernah belajar darinya.

Indonesia kehilangan seorang arsitek. Lingkungan hidup Indonesia kehilangan seorang penjaga lingkungan dengan tulisan dan pemikirannya yang tajam, kritis nan bernas. Tetapi warisan pemikiran Johan Silas akan tetap menjadi kompas bagi mereka yang percaya bahwa kota yang baik bukan hanya kota yang maju, melainkan kota yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia, pembangunan, dan alam. Selamat Jalan Prof Johan Silas. Selamat Jalan sang Arsitek Lingkungan Indonesia. (*)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *