Pentas Seni Ketoprak di Gereja Katolik Babadan Mampu Menghibur dan Menyatukan Umat

beritabernas.com – Pentas seni ketoprak sebagai penutup serangkaian kegiatan peringatan Tumbuk Ageng atau 64 tahun Gereja Katolik Babadan, pada Senin 24 Agustus 2026 malam, mampu menghibur dan menyatukan umat se-Paroki St Petrus dan Paulus Babadan.

Hal ini terlihat dari kehadiran ratusan umat dari berbagai lingkungan dan wilayah, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, yang memenuhi tempat duduk yang tersedia di area parkir belakang Gereja Katolik Babadan sejak pukul 19.00 hingga pukul 24.00 WIB. Pentas seni tradisional ketoprak yang diawali dengan tarian-tarian yang dibawakan para penari, mulai dari anak-anak hingga dewasa itu, sangat menghibur. Sejak acara dibuka hingga ditutup, ratusan umat tak beranjak dari tempat duduk. Mereka benar-benar menikmati pentas seni tradisional yang mulai langka atau jarang dipentaskan itu.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa (depan ketiga dari kiri) saat menghadiri acara pentas seni ketoprak, Senin 24 Agustus 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa SE ketika membuka acara pentas seni ketoprak mengapresiasi Gereja Katolik Babadan yang masih melestarikan seni budaya tradisional ketoprak. Seni ketoprak merupakan salah satu kebudayaan lokal yang tidak boleh ditinggalkan.

Menurut Danang Maharsa, cerita ketoprak maupun wayang menggambarkan kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Artinya, sebagai gambaran bahwa hidup kita di dunia tidak bisa sendiri. Hidup mengandung beberapa unsur, baik itu dengan alam, masyarakat sekitar dan dengan Tuhan. Ketiga elemen itu kalau bisa diresapi dan dijadikan satu, saling terkait dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:

Ia mengaku bangga karena peringatan Tumbuk Ageng atau 64 tahun Gereja Katolik Babadan dimeriahkan dengan pentas seni ketoprak. “​Pentas seni ketoprak malam ini mengingatkan kita pada sekatenan tahun 80-an sampai 90-an. Di Alun-alun Utara dulu ketoprak ngeten niki. Laris. sewane. Namun, hal itu hanya tinggal kenangan,” kata Danang Maharsa.

Menurut Danang Maharsa, peringatan apapun kalau dibarengi dengan pertunjukan budaya, maka ada dua hal penting yang harus dipegang. Pertama, budaya adalah warisan nenek moyang Nusantara yang harus tetap kita lestarikan, bahkan harus dilihat oleh anak-anak. Kedua, sampai hari ini budaya tidak hanya berbicara dan melihat tontonan terkait dengan kesenian, tetapi pasti di dalam budaya itu mengandung beberapa unsur, yakni cerita budaya itu adalah cerita kehidupan kita sehari-hari di masa lalu.

Umat Paroki St Petrus dan Paulus Babadan saat menonton pentas seni ketoprak, Senin 24 Agustus 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Sementara Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Babadan Romo Antonius Saptana Hadi Pr mengatakan, pementasan seni ketoprak “Mbangun Padhepokan Tresna Jati” hadir menjadi ruang perjumpaan budaya yang inklusif dan mempererat persaudaraan lintas komunitas.

Kehangatan srawung ini kian terasa dengan hadirnya para tamu undangan dari unsur pemerintah lokal, tokoh lintas agama dan masyarakat sekitar, di antaranya Lurah Wedomartani Teguh Budianto, jajaran Forum Kerukunan Umat Beragama Rembug Lintas Agama (FKUB-Rela) Kelurahan Wedomartani dan warga masyarakat terdekat dari Padukuhan Dolo dan Pokoh. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *