beritabernas.com – Tingkat kesopanan digital di Indonesia masih tergolong rendah. Karena itu, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DIY mendorong anggota untuk menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan budaya digital yang sehat, beradab dan berintegritas.
Hal itu disampaikan Dra Restituta Sri Widiastuti SE Ak CA, Ketua Presidium DPD Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DIY, dalam seminar Transformasi Digital dan Penguatan Etika dalam Rangka Hari Kartini di Aula Gereja Bintaran, Kota Yogyakarta, Sabtu 18 April 2026.
Seminar bertema Penguatan Etika, Integritas dan Profesionalisme di Era Transformasi Digital yang diadakan oleh Bidang Pendidikan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD DIY dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026 ini dihadiri 81 orang yang terdiri dari jajaran pengurus DPD DIY, para ketua cabang dan anggota WKRI dari lima wilayah, yakni Kabupaten Kulon Progo, Sleman, Gunungkidul, Bantul dan Kota Yogyakarta serta narasumber dan Romo Penasihat Rohani WKRI DPD DIY.
Menurut Restituta Sri Widiastuti, seminar ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga momentum konsolidasi organisasi dalam memperkuat peran perempuan Katolik di tengah masyarakat. Dengan semangat Kartini, WKRI DIY berkomitmen untuk terus bergerak, beradaptasi dan memberi kontribusi nyata bagi Gereja dan bangsa.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota WKRI semakin siap menghadapi tantangan zaman, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai iman, etika dan pelayanan yang menjadi ciri khas organisasi,” kata Restituta Sri Widiastuti.

Seminar ini menjadi bagian dari program strategis WKRI DPD DIY dalam memaknai semangat emansipasi perempuan yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini. Tidak hanya menyoroti peran perempuan dalam ruang domestik dan sosial, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kesiapan perempuan Katolik menghadapi perubahan zaman, khususnya dalam lanskap digital yang terus berkembang.
Transformas digital
Ekandari Sulistyaningsih, Fasilitator dan Narasumber Isu Perempuan dan Anak, selaku narasumber dalam seminar ini mengupas secara komprehensif tentang transformasi digital dalam organisasi. Menurut Ekandari, transformasi digital bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi merupakan perubahan mendasar dalam cara kerja, pola pikir dan model organisasi dalam merespons perkembangan zaman.
“Transformasi digital menuntut organisasi untuk beradaptasi secara cepat, memanfaatkan teknologi secara optimal, dan tetap menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi identitas organisasi,” kata lulusan Health Social Science International Program, Wahidol University, Thailand dan Fakultas Psikologi UGM ini.
Ekandari juga menyoroti bahwa pergeseran dari sistem manual ke digital membawa berbagai dampak, termasuk peningkatan efisiensi kerja, perubahan budaya organisasi dan tantangan baru seperti keamanan data dan kebutuhan peningkatan literasi digital. Ia menegaskan bahwa organisasi yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal dalam dinamika perkembangan global.
Aspek profesionalisme juga menjadi sorotan penting dalam seminar ini. Profesionalisme dipahami sebagai sikap dan perilaku yang mencerminkan standar tinggi dalam bekerja, termasuk kemampuan untuk terus belajar, berkomitmen dan membangun keahlian di bidang masing-masing. Hal ini dinilai sangat relevan bagi anggota WKRI yang terlibat aktif dalam berbagai bidang pelayanan dan sosial kemasyarakatan.
Baca juga:
- WKRI Menjadi Pilar Kekuatan bagi Gereja dan Masyarakat dengan Semangat Pelayanan
- Edukasi Kesehatan Ibu oleh WKRI Sleman: Gerakan Mencegah Stunting Sangat Penting
- Romo Dadang Ajak Pengurus WKRI Sleman untuk Lungguh Bareng, Ngrembug Bareng dan Nandangi Bareng
Tidak kalah penting, tema integritas dan etika juga menjadi pilar utama dalam diskusi. Integritas ditekankan sebagai kesatuan antara nilai, ucapan dan tindakan, sementara etika menjadi pedoman dalam berinteraksi, khususnya di ruang digital yang semakin terbuka dan tanpa batas. Dalam konteks ini, peserta diajak untuk membangun reputasi digital yang positif melalui transparansi, konsistensi dan keberanian untuk tetap autentik.
Peneguhan rohani
Sminar ini juga mendapat peneguhan rohani dari Vikaris Episkopalis Yogyakarta Barat Romo AR Yudono Suwondo Pr. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya momentum Paskah sebagai dasar spiritual dalam setiap gerak organisasi. “Sebab itu seluruh aktivitas organisasi hendaknya berakar pada semangat iman dan pengabdian, serta menjadi bagian dari karya Gereja yang lebih luas,” kata Romo Yudono Suwondo mengingatkan.
Ia mengatakan bahwa ini bukan kebetulan. Namun ini merupakanmomentum ketika pada masa Paskah, pertemuan berwibawa WKRI hari ini di Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) dan Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran Yogyakarta memiliki keterkaitan historis dan geografis yang erat dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia.
“Kita semua tahu, WKRI didirikan pada 26 Juni 1924 di Yogyakarta oleh Raden Ajeng Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra, yang merupakan adik kandung Nyi Hajar Dewantara. Yogyakarta, termasuk kawasan Bintaran, menjadi saksi sejarah pergerakan organisasi perempuan ini. Gereja Santo Yusuf Bintaran, yang diresmikan pada 1934, merupakan gereja Jawa atau pribumi pertama di Yogyakarta. Gereja ini menjadi tempat bersejarah, termasuk menjadi tempat berkumpul pejuang Katolik pasca kemerdekaan. Aula Gereja Katolik Santo Yusuf Bintaran sering digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan Dewan Pengurus Cabang (DPC) WKRI Kota Yogyakarta. Semoga momentum ini menggelorakan lagi semangat anda semua dalam berkontribusi bagi kebaikan Gereja dan bangsa,” kata Romo Yodono Suwondo.

Romo Yudono yang juga penasehat rohani DPD WKRI DIY menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter yang kokoh di tengah derasnya arus perubahan zaman. Mengutip semangat ajaran Gereja dan warisan nilai-nilai para tokoh Gereja di Indonesia, ia mengajak anggota WKRI untuk menjadi pribadi yang berintegritas, mampu memberi teladan, serta berani menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Soal pendidikan ini, Romo Vikep Yogyakarta Barat ini masih mengaitkan Bintaran yang berhubungan dengan tema pembicaraan kali ini. Hal ini mengingat apa yang pernah disampaikan oleh Mgr Soegijapranata yang pada tahun 1934 menjadi Pastor Paroki Bintaran.
Ketika itu, Mgr Soegijapranata mengatakan: “Bapak-bapak dan ibu-ibu, didiklah anak-anakmu secara Katolik dan Nasional agar tetap lestari, berkembang dalam hal rohani dan jasmani, dengan memperhatikan agama dan kebangsaannya agar tetap teratur siap melaksanakan tugas rohani dan tugas umum lainya sebagaimana mestinya. Gemblenglah mereka dengan teladan perkataan dan tindakan kalian agar mereka memiliki watak dan kepribadian yang kokoh, dan teguh sehingga mampu menghadapi dan menanggung segala kesulitan dan tipu daya mana pun yang akan menghancurkan warisan bangsa dan leluhur kita. Juga agar mereka berani melawan segala usaha yang akan merusak sopan santun dan tata susilal juga membongkar berbagai fitnah yang menyepelekan watak satria, tulus dan sederhana. (Surat Kegembalaan Februari 1956).
Menurut Romo Yudono, pesan Rama Kanjeng Soegijapranata ini sangat kuat dan masih berlaku sampai saat ini. “Dalam bahasa sekarang, inilah yang sering disebut sebagai pendidikan karakter,” kata Romo Yudono. (phj)

