beritabernas.com – Transformasi digital memaksa organisasi, termasuk Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), untuk mengikuti perkembangan teknologi yang cepat agar dapat bertahan dalam persaingan. Sebab, selain dapat mengubah budaya organisasi menjadi lebih baik, implementasi transformasi teknologi digital dapat meningkatkan efisiensi kerja dan pendapatan.
Hal itu disampaikan Ekandari Sulistyaningsih, Fasilitator dan Narasumber Isu Perempuan dan Anak, selaku narasumber dalam seminar Transformasi Digital dan Penguatan Etika dalam Rangka Hari Kartini yang diadakan oleh Bidang Pendidikan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD DIY di Aula Gereja Katolik St Yusuf Bintaran, Kota Yogyakarta, Sabtu 18 April 2026.
Baca juga:
- WKRI DIY Dorong Anggota jadi Agen Perubahan dalam Budaya Digital yang Sehat, Beradab dan Berintegritas
- Bersama WKRI Magelang, 100 Perempuan Belajar Media Tanam Organik untuk Lingkungan Lestari
Dalam seminar yang dihadiri 81 orang yang terdiri dari jajaran pengurus DPD DIY, para ketua cabang dan anggota WKRI dari Kabupaten Kulon Progo, Sleman, Gunungkidul, Bantul dan Kota Yogyakarta serta Romo Penasihat Rohani WKRI DPD DIY Romo AR Yudono Suwondo Pr itu, Ekandari Sulistyaningsih yang mengutip Babych, CEO Spdload.com, mengatakan, transformasi digital adalah perubahan besar dalam aktivitas proses, kompetensi dan model bisnis untuk sepenuhnya memanfaatkan peluang berbagai teknologi digital yang muncul dengan mempertimbangkan perubahaan saat ini dan masa depan.
“Transformasi digital adalah integrasi teknologi digital dalam semua sendi kehidupan,” kata Ekandari Sulistyaningsih dikutip beritabernas.com dari materi yang disampaikan dalam seminar itu.
Menfutip John Moss, Ekandari Sulistyaningsih menyebut transformasi digital membawa beberapa perubahan seperti menggunakan lebih sedikit pena dan kertas, lebih banyak menggunakan alat dan aplikasi online serta memiliki ruang arsip yang lebih kecil dan mulai beralih ke penyimpanan cloud.
Selain itu, lebih banyak tantangan tentang keamanan data, tren teknologi, dan menggabungkan sitem teknologi terintegrasi untuk bisnis. Perbahan lain adalah update perkembangan software, lebih banyak mempelajarinya dan memiliki pengetahuan tentang penggunaan itu.
Sementara dampak langsung dari transformasi digital, menurut Ekandari Sulistyaningsih, adalah menuntut adanya profesionalisme dalam update mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan standar tinggi dari berbagai pihak. Profesionalisme dalam hal ini menyangkut sikap, perilaku dan kualitas yang mencerminkan standar tinggi dalam pekerjaan atau bidang tertentu.

“Profesionalisme juga dalam arti menjadi ahli di bidangnya yakni pengetahuan yang mendalam dan ketrampilan yang mumpuni,” kata Ekandari Sulistyaningsih.
Ekandari Sulistyaningsih mengatakan, dalam transformasi digital tetap menjaga integritas dan etika menyangkut kualitas yang mencerminkan kesatuan, kejujuran dan konsistensi antara nilai, ucapan dan tindakan.
Sementara dalam membangun integritas dimulai dari kesadaran diri yakni menyadari pentingnya nilai kejujuran dan tanggungjawab serta penanaman nilai yakni menginternalisasi nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya penerapan yakni mengaplikasikan nilai integritas dalam tindakan nyata, konsistensi yakni menjaga perilaku agar tetap sesuai dengan prinsip dan evaluasi yakni melakukan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan.
“Untuk membangun reputasi yang kuat di dunia digital membutuhkan transparansi, konsistensi dan keberanian untuk tetap autentik,” kata Ekandari Sulistyaningsih. (phj)

