Jawalens Hidupkan Pembelajaran Aksara Jawa di SD Gunungkidul, USD Dorong Implementasi Inovasi dalam Pembelajaran

beritabernas.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma (PkM USD) bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul resmi memasuki tahap implementasi penggunaan aplikasi Jawalens secara langsung di kelas-kelas sekolah dasar.

Hal ini dilakukan setelah USD bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul menggelar pelatihan dan menemukan wajah baru pelestarian budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi digital.

Prof Dr Ir Anastasia Rita Widiarti, Dosen Prodi Informatika USD yang juga founder Jawalens mengatakan program lintas disiplin yang melibatkan dosen dan mahasiswa Prodi Informatika, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD, dan Prodi Sastra Indonesia USD ini mendorong pemanfaatan aplikasi Augmented Reality (AR) berbasis marker untuk pengenalan aksara Jawa. 

Dinamika pelatihan pemanfaatan Javalens di kelas. Foto: Istimewa

“Jawalens adalah nama aplikasi Augmented Reality berbasis marker untuk pengenalan aksara Jawa, yang dapat didownload aplikasinya dengan mudah di link https://s.id/jawalens,” kata Prof Rita yang menggagas aplikasi ini, Jumat 7 Agustus 2026.

Menurut Prof Rita, tahap implementasi di lapangan menjadi bukti bahwa inovasi hasil riset perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan nyata di dunia pendidikan. “Para guru tidak sekadar memahami teknis penggunaan aplikasi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya ke dalam aktivitas belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa SD,” tutur Prof Rita.

Di salah satu sekolah mitra, yaitu di SD Muhammadiyah Bogor, Gunungkidul, suasana kelas tampak ceria dan interaktif. Para siswa di bawah bimbingan Siti Dwi Cahyani SPd, Guru SD Muhammadiyah Bogor, Gunungkidul yang ikut bimtek dan mempraktekkan di kelas bekerja dalam kelompok, memasangkan aksara Jawa, berdiskusi dan memanfaatkan Jawalens melalui ponsel pintar (smartphone) untuk mengenali huruf-huruf Jawa.

Baca juga:

Pembelajaran aksara Jawa yang sebelumnya identik dengan hafalan konvensional, kini bergeser menjadi aktivitas eksploratif yang melatih kerja sama dan daya kritis anak. “Pendekatan ini membuktikan bahwa keberadaan teknologi tidak menggantikan peran guru, melainkan hadir sebagai alat bantu (tool) untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna,” kata Prof Rita.

Inisiatif ini juga mendapat apresiasi penuh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul. Pihak dinas, seperti disampaikan oleh Asbani SPd MPd, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan, menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, pemerintah daerah dan perguruan tinggi agar inovasi pendidikan benar-benar berdampak nyata bagi peserta didik.

Prof Dr Ir Anastasia Rita Widiarti, Dosen Prodi Informatika USD yang juga founder Jawalens. Foto: Istimewa

Prof Rita menjelaskan sebelum memasuki tahap kelas, sebanyak 36 guru SD perwakilan dari 18 kapanewon (kecamatan) di Kabupaten Gunungkidul telah dibekali pelatihan intensif. Materi mencakup pengenalan teknologi AR, penyusunan skenario pembelajaran, simulasi mengajar, hingga refleksi bersama. 

“Hasil evaluasi mencatat adanya peningkatan antusiasme guru dalam memanfaatkan media digital untuk pembelajaran muatan lokal,” papar Prof Rita.

Melalui pendampingan yang berkesinambungan bersama Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Jawalens diharapkan dapat terus berkembang dan direplikasi oleh lebih banyak sekolah sebagai wujud nyata transformasi pembelajaran berbasis budaya dan teknologi. (*/phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *