Filsafat Pendidikan Konstruktivisme Sebagai Landasan Berpikir Kritis

Oleh: Ali Mansur Monesa

beritabernas.com – Dalam pengimplementasian kurikulum sekolah, guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Sebab, masih ada sumber belajar lain, yaitu buku dan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu guru dituntut aktif untuk mendorong siswa kreatif dan berpikir aktif, memancing rasa ingin tahu, kreativitas dan kerja sama dengan kemampuannya. 

Ini artinya bahwa dalam proses belajar mengajar di kelas fungsi guru tidak saja sebagai subyek transmisi sejumlah pengetahuan kepada siswa, melainkan lebih pada menekankan penilaian berbasis proses dan hasil.

Pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu upaya atau usaha secara sadar yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi manusia dan/atau peserta didik dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Tetapi untuk mengetahui hal tersebut, dalam proses pelaksanaan pendidikan, seorang pendidik harus memiliki konsep maupun teori tentang apa itu pendidikan dan teori pembelajaran apa yang tepat untuk menjawab kebutuhan manusia sesuai potensinya (fitra) dan berkehendak  untuk bebas (individu merdeka).

Kemampuan memahami manusia untuk bertindak bebas sebagai jalan awal untuk memanusiakan manusia melahirkan peserta didik sebagai insan akademis pencipta pengabdi dan bertanggungjawab atas keadilan sosial merupakan sebuah cita-cita mulia manusia, yang dapat melalui suatu proses pendidikan.

Menekankan proses

Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) dari diri sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan.

Konstruktivisme memiliki pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada proses dari pada hasil dan memiliki prinsip pembelajaran student center. Guru hanya sebagai fasilitator dan siswa lebih banyak menemukan sendiri. Hal ini sangat sejalan dengan pembelajaran merdeka belajar. Peserta didik memiliki kebebasan dalam menentukan ilmu yang dibutuhkan dengan menekankan pada proses pembelajaran.

Dengan model pembelajaran konstruktivisme mendidik siswa memiliki empat kompetensi atau keterampilan 4C (critical thinking, comunication, collaboration, creativity). Pendidikan yang menerapkan keterampilan 4C dan memberikan kemerdekaan dalam berpikir, menggali kebenaran, menalar dengan kritis dan melihat fenomena pada siswa akan membentuk pribadi siswa yang berkarakter unggul yang memiliki kemampuan adaptif dan siap menghadapi perubahan.

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan di ingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Dalam proses pendidikan, aliran konstruktivisme menghendaki agar peserta didik dapat menggunakan kemampuannya setara konstruktif untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta didik harus aktif mengembangkan pengetahuan sehingga memiliki kreativitas untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Aliran ini lebih mengutamakan peran peserta didik dalam berinisiatif.

Berpusat pada siswa

Pembelajaran konstruktivisme adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented), guru sebagai mediator, fasilitator dan sumber belajar dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran konstruktivisme, siswa membangun pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial, dan dunia nyata. Maka dari itu tugas utama guru yaitu membimbing siswa untuk belajar dan mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Dalam pembelajaran konstruktivisme peran seorang guru berubah dari sebagai sumber belajar menjadi peran sebagai fasilitator, yaitu guru lebih banyak sebagai orang yang membantu siswa untuk belajar.

Membangunkan manusia/peserta didik dari sifat pesimisme maupun ketidakmampuan untuk mengoptimalkan fitranya, tentu peserta didik/ manusia sudah memiliki pengetahuan atas kecenderungan yang ada pada dirinya. Sebab itulah hanya melalui proses pembelajaran (pendidikan) sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut berdasarkan disiplin edukasi agar manusia dapat tumbuh sesuai kodratnya.

Ini menjadi fokus dari filsafat konstruksivisme. Aliran ini menganggap bahwa manusia/peserta didik harus diberikan kebebasan berpikir untuk mengelola informasi sebagai pengetahuan baru. Peserta didik harus aktif dalam suatu proses pembelajaran dan pendidik hanyalah sebagai narasumber/pengontrol fasilitator dalam proses tersebut.

Teori belajar konstruktivisme

Teori belajar konstruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh peserta didik itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang mengetahui (Schunk, 1986). Dengan kata lain, karena pembentukan pengetahuan adalah peserta didik itu sendiri, peserta didik harus aktif selama kegiatan pembelajaran, aktif berpikir, menyusun konsep, bertanya dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar peserta didik itu sendiri.

Sementara peranan guru dalam belajar konstruktivistik adalah membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh peserta didik berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu peserta didik untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang peserta didik dalam belajar. 

BACA JUGA TULISAN LAINNYA:

Ciri-ciri belajar konstruktivisme yang dikemukakan oleh Driver dan Oldhan (1994) adalah: a)            Orientasi, yaitu peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik dengan memberi kesempatan melakukan observasi. b) Elitasi, yaitu peserta didik mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi, menulis, membuat poster dan lain-lain. c) Restrukturisasi ide, yaitu klarifikasi ide dengan ide orang lain, membangun ide baru, mengevaluasi ide baru. d) Penggunaan ide baru dalam setiap situasi, yaitu ide atau pengetahuan yang telah terbentuk perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi. e) Review, yaitu dalam mengapliasikan pengetahuan, gagasan yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubahnya.

Paradigma konstruktivistik memandang peserta didik sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kamampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian yang meliputi: a) Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk megambil keputusan dan bertindak. b)            Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik. c) Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar peserta didik mempunyai peluang optimal untuk berlatih.

Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.  Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang.

Manusia mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalamannya. Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan obyek dan peristiwa. Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, obyek dan pandangan terhadap dunia nyata, di mana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.

Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa peserta didik akan dapat menginterpretasikan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya. Guru dapat membantu peserta didik mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. Jika hasil belajar dikonstruksi secara individual, bagaimana mengevaluasinya?

Evaluasi belajar pandangan konstruktivistik menggunakan goal-free evaluation, yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Evaluasi akan lebih obyektif jika evaluator tidak diberi informasi tentang tujuan selanjutnya. Jika tujuan belajar diketahui sebelumproses belajar dimulai, proses belajar dan evaluasinya akan berat sebelah.

Pemberian kriteria pada evaluasi mengakibatkan pengaturan pada pembelajaran. Tujuan belajar mengarahkan pembelajaran yang juga akan mengontrol aktifitas belajar peserta didik. Pembelajaran dan evaluasi yang menggunakan kriteria merupakan prototipe obyektifis/behavioristik, yang tidak sesuai bagi teori konstruktivistik.

Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode evaluasi goal-free. Evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil belajar konstruktivistik, memerlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik. Beberapa hal penting tentang evaluasi dalam aliran konstruktivistik (Siregar & Nara, 2010), yaitu diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkonstruksikan pengetahuan yang menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi, mengkonstruksi pengalaman peserta didik, dan mengarhkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.

Lev Vygotsky merupakan tokoh dari teori belajar konstruktivistik yang menekankan bahwa manusia secara aktif menyusun pengetahuan dan memiliki fungsi-fungsi mental serta memiliki koneksi social. Beliau berpendapat bahwa manusia mengembangkan konsep yang sistematis, logis dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang yang dianggap ahli di sekitarnya.

Jadi dalam teori ini orang lain (social) dan bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif manusia. Teori belajar kokonstruktivistik merupakan teori belajar yang di pelopori oleh Lev Vygotsky. Teori belajar ko-kontruktinvistik atau yang sering disebut sebagai teori belajar sosiokultur merupakan teori belajar yangtitik tekan utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Developmen (ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak dalam perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Teori yang juga disebut sebagai teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa inteligensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri).

Vygotsky berpendapat bahwa menggunakan alat berpikir akan menyebabkan terjadinya perkembangan kognitif dalam diri seseorang. 1) Hukum Genetik tentang Perkembangan Perkembangan menurut Vygotsky tidak bisa hanya dilihat dari fakta-fakta atau keterampilan-keterampilan, namun lebih dari itu, perkembangan seseorang melewati dua tataran.

Tataran sosial dan tataran psikologis. Di mana tataran sosial dilihat dari tempat terbentuknya  lingkungan sosial seseorang dan tataran psikologis yaitu dari dalam diri orang yang bersangkutan. Teori ini menempatkanlingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang.

Fungsi-fungsi mental yang tinggi dari seseorang diyakini muncul dari kehidupan sosialnya. Sementara itu, lingkungan sosial dipandang sebagai derivasi atau turunan yang terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut, hal ini terjadi karena anak baru akan memahami makna dari kegiatan sosial apabila telah terjadi proses internalisasi.

Oleh sebab itu belajar dan berkembang satu kesatuan yang menentukan dalam perkembangan kognitif seseorang. Vygotsky meyakini bahwa kematangan merupakan prasyarat untuk kesempurnaan berfikir namun demikian ia tidak yakin bahwa kematangan yang terjadi secara keseluruhan akan menentukan kematangan selanjutnya.

2) Zona Perkembangan Proksimal Saudara mahasiswa, zona Perkembangan Proksimal atau Zona Proximal Development (ZPD) merupakan konsep utama yang paling mendasar dari teori belajar kokonstruktivistik Vygotsky. Dalam Luis C Moll (1993: 156-157),

Vygotsky berpendapat bahwa setiap anak dalam suatu domain mempunyai ‘level perkembangan aktual’ yang dapat dinilai dengan menguji secara individual dan potensi terdekat bagi perkembangan domain dalam tersebut. Vygotsky mengistilahkan perbedaan ini berada di antara dua level Zona Perkembangan Proksimal.

Vygotsky mendefinisikan Zona Perkembangan Proksimal sebagai jarak antara level perkembangan aktual seperti yang ditentukan untuk memecahkan masalah secara individu dan level perkembangan potensial seperti yang ditentukan lewat pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau dalam kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih mampu.

Vygotsky mengemukakan ada empat tahapan ZPD yang terjadi dalam perkembangan dan pembelajaran (Schunk, 1986), yaitu: Tahap 1: Tindakan anak masih dipengaruhi atau dibantu orang lain. Tahap 2: Tindakan anak yang didasarkan atas inisiatif sendiri. Tahap 3 : Tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi. Tahap 4 : Tindakan anak spontan akan terus diulang-ulang hingga anak siap untuk berfikir abstrak.

Pada empat tahapan ini dapat disimpulkan bahwa seseorang akan dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan dengan bantuan yang diberikan oleh orang dewasa maupun teman sebayanya yang lebih berkompeten terhadap hal tersebut.

Dalam pembelajaran konstrukstivisme pentingnya media. Mediasi merupakan tanda-tanda atau lambang yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya. Ada dua jenis mediasi yang dapat mempengaruhi pembelajaran yaitu, (1) tema mediasi semiotik di mana tanda-tanda atau lambang-lambang yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya ini didapat dari hal yang belum ada di sekitar kita, kemudian dibuat oleh orang yang lebih paham untuk membantu mengkontruksi pemikiran kita dan akhirnya kita menjadi faham terhadap hal yang dimaksudkan;

(2) Scafholding di mana tanda-tanda atau lambang-lambang yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya ini didapat dari hal yang memang sudah ada di suatu lingkungan, kemudian orang yang lebih paham tentang tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut akan membantu menjelaskan kepada orang yang belum faham sehingga menjadi paham terhadap hal yang dimaksudkan.

Berdasarkan teori Vygotsky dapat disimpulkan beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran, yaitu: a) Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang. b) Pembelajaran perlu dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada perkembangan aktualnya. c). Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya. d) Anak diberikan kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah e). Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan ko-konstruksi

Dalam teori belajar kokonstruktivistik ini, pengetahuan yang dimiliki seseorang berasal dari sumber-sumber sosial yang terdapat di luar dirinya. Untuk mengkonstruksi pengetahuan, diperlukan peranan aktif dari orang tersebut. Pengetahuan dan kemampuan tidak datang dengan sendirinya, namun harus diusahakan dan dipengaruhi oleh orang lain. Prinsip-prinsip utama teori belajar konstruktivistik yang banyak digunakan dalam pendidikan adalah: a) pengetahun dibangun oleh peserta didik secara aktif, b) tekanan proses belajar mengajar terletak pada peserta didik, c) mengajar adalah membantu peserta didik, d) tekanan dalam proses belajar dan bukan pada hasil belajar, e) kurikulum menekankan pada partisipasi peserta didik dan e) guru adalah fasilitator.

Dapat disimpulkan bahwa dalam teori belajar konstruktivistik, proses belajar tidak dapat dipisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi, karena persepsi dan aktivitas berjalan seiring secara dialogis. Belajar merupakan proses penciptaan makna sebagai hasil dari pemikiran individu melalui interaksi dalam suatu konteks sosial. Dalam hal ini, tidak ada perwujudan dari suatu kenyataan yang dapat dianggap lebih baik atau benar.

Vygotsky percaya bahwa beragam perwujudan dari kenyataan digunakan untuk beragam tujuan dalam konteks yang berbeda-beda. Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan, dan di mana makna diciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan didiseminasikan dan diterapkan. Melalui aktivitas, interaksi sosial, tersebut penciptaan makna terjadi

Dasar Filosofi Konstruktivisme

Pembelajaran dalam teori kontruksivisme bukanlah sebuah proses mentransfer ilmu semata, tetapi proses perlu dibangun atau constructed sendiri oleh peserta didik sesuai objek / konteks pembahasan tertentuh . Dengan begitu, pusat pembelajaran harus bisa dilakukan secara mandiri oleh para peserta didik. Pendidik/ guru, dosen ataupun yang ada dalam teori konstruktivisme hanya berperan sebagai fasilitator (sahabat kebijaksanaan).

Teori konstruktivisme sendiri adalah salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi atau bentukan. Dalam sudut pandang konstruktivisme, pengetahuan adalah akibat dari suatu konstruksi kognitif dari sebuah kenyataan yang terjadi melalui aktivitas atau kegiatan seseorang. Dimana konstruktivisme ini ingin memberikan kebebasan berpikir kepada para peserta didik untuk belajar menemukan sendiri tentang kompetensi dan juga pengetahuannya sesuai potensinya untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan yang telah ada dalam dirinya.

Dalam pembelajaran konstruktivisme pendidik/dosen, guru serta siswa, mahasiswa/peserta pendidik keduanya menjadi subjek yang memiliki dasar pengetahuan tertentu.

Guru dosen /pendidik tak hanya memindahkan pengetahuan kepada para peserta didik dalam bentuk yang sempurna.  Pengetahuan hanya bisa tersalurkan melalui dtranformasi dialektis agar subjek / pendidik , peserta  tersebut dapat tumbuh berkembang sesuai potensi masing-masing (toleransi argumen).

Beberepa implikasi

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa implikasi teori konstruktivistik jika dikaitkan dengan pembelajaran proses pembelajaran modern adalah berkembangnya pembelajaran dengan web (web learning) dan pembelajaran melalui social media (social media  learning). Smaldino dkk (2012) menyatakan bahwa pembelajaran pada abad ke 21 telah banyak mengalami perubahan, intergrasi internet dan social media memberikan perspektif baru dalam pembelajaran.

Pembelajaran dengan sosial media memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi, berkolaborasi, berbagi informasi dan pemikiran secara bersama. Sama halnya dengan pembelajaran melalui social media,pembelajaran melalui web juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melengkapi satu atau lebih tugas melalui jaringan internet.

Selain itu juga dapat melakukan pembelajaran kelompok dengan menggunakan fasilitas internet seperti google share. Model pembelajaran melalui web maupun social media ini sejalan dengan teori konstruktivistik, dimana peserta didik adalah pembelajar yang bebas yang dapat menentukan sendiri kebutuhan belajarnya.

Beberapa implikasi teori konstruktivistik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian dan lebih mendekatkan kepada konsep-konsep yang lebih luas; 2) Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide peserta didik; 3) Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan; 4)Peserta didik dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya; 5)  Pengukuran proses dan hasil belajar peserta didik terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan peserta didik, serta melalui tugas-tugas pekerjaan; 6) Peserta didik hanya belajar dan bekerja di dalam group proses; 7)       Memandang pengetahuan adalah non objektif, berifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu; 8) Belajar adalah penyusunan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar peserta didik termotivasi dalam menggali ilmu pengetahuan terkait fakta fenomena yang di kembangkan sesuai potensinya.

Dengan demikian, pembelajaran konstruksivisme menekankan aktivitas peserta didik selalu aktif dalam pembelajaran. Siswa harus aktif bertanya. Sebab bertanya adalah sebuah proses awal siswa berfilsafat. Dengan proses ini siswa kelak akan menjadi kritis dalam menanggapi problematika bangsa dan negara. (Ali Mansur Monesa, mahasiswa UPY, Yogyakarta)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *