Politisi PSI DIY Dr Raden Stevanus Apresiasi Putusan MK Terkait Pemilu Proporsional Terbuka

beritabernas.com – Politisi PSI DIY Dr Raden Stevanus C Handoko S.Kom MM mengapresiasi Mahkamah Konstiusu (MK) yang memutuskan pemilu tetap menggunakan sistem prorsional terbuka seperti yang berlaku selama ini.

Dalam putusan yang dibacakan pada Kamis 15 Juni 2023, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi pasal dalam UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu yang mengatur tentang sistem pemilihan umum (pemilu) proporsional terbuka. Dengan putusan perkara Nomor 114/PUU-XX/2022 tersebut, maka pemilu tetap memakai sistem proporsional terbuka.

Menurut Dr RadenStevanus C Handoko, politisi muda yang juga anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia, sejak awal ia menolak gagasan sistem pemilu proporsional terbuka diubah menjadi tertutup. “Saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada MK yang masih mendengarkan aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama aspirasi generasi milenial dan Gen-Z,” kata Dr R Stevanus.

Dikatkan, putusan MK yang menolak sistem proporsional tertutup sangat tepat. Ia pun berharap semua pihak menghargai keputusan MK yang menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya.

Menurut Dr Rden Stevanus, gagasan sistem pemilu proporsional tertutup menjadi sebuah kemunduran dalam politik di Indonesia. Jika sekadar mencoblos logo dan nomor urut partai, rakyat seperti memilih kucing dalam karung. Kedaulatan rakyat seperti terbelenggu suara kuasa dari partai politik.

Dr Raden Stevanus C Handoko S.Kom MM. Foto: Dok pribadi

“Sistem pemilu proporsional terbuka memungkinkan pemilih dapat memilih kandidat individu yang mewakili nilai-nilai dan kepentingan mereka, sehingga memperkuat representasi yang lebih inklusif dalam parlemen,” kata Stevanus

Ssistem pemilu proporsional terbuka, menurut Stevanus, memberikan kesempatan kepada pemilih untuk memilih kandidat secara langsung. Sistem ini mendorong partisipasi politik anak muda dan gen-z yang lebih besar. Pemilih merasa memiliki keterlibatan langsung dalam pemilihan, yang dapat meningkatkan minat dan partisipasi mereka dalam proses politik.

“Kita berharap transparansi, keterbukaan, menjadi salah satu daya tarik anak muda untuk turut terlibat dalam politik. Sistem meritokrasi dalam pemilu menjadi harapan anak muda untuk terlibat aktif. Sistem proporsional terbuka menjadi sistem yang paling tepat untuk saat ini dengan kondisi bonus demografi yang sangat besar,” kata Stevanus.

Pemilih saat ini didominasi oleh generasi milenial dan gen-z yang memiliki pandangan lebih rasional terkait dengan kandidat yang akan dipilih dan mewakilinya di parlemen. Sistem pemilu proporsional terbuka mengurangi dominasi kaum elite dalam partai. Tidak hanya elit partai yang memiliki peluang besar untuk terpilih. Pemilih dapat memilih kandidat-kandidat yang memiliki kompetensi, kapasitas, pengalaman yang diharapkan dan tidak tergantung pada jaringan struktur oligarki kekuasaan yang ada.

BACA JUGA:

“Sistem pemilu proporsional terbuka mendorong semua kandidat baik incumbent maupun baru untuk memiliki ikatan hubungan yang lebih langsung antara pemilih dan kandidat. Ini menciptakan kebutuhan bagi kandidat untuk terus berkomunikasi dengan pemilih dan memperhatikan dan memperjuangkan aspirasi konstituennya. Sehingga memutus politikus yang pragmatis, mengandalkan uang, kekuasaan dan kedekatan dengan elite-elite partai yang berpotensi kepada nepotisme politik,” tambah Stevanus.

Karena itu, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terus berjuang menyuarakan aspirasi dan menentang perubahan sistem pemilu proporsional terbuka menjadi tertutup terutama mahasiswa di DIY dan berbagai wilayah lainnya yang bergerak bersama menyuarakan penolakan. (lip)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *