beritabernas.com – Dengan mengedepankan kenyamanan dan kebahagiaan dalam pendidikan, Sekolah Merdeka Yogyakarta (SMY) menjadi sekolah yang memberikan kemerdekaan bagi anak didiknya. Di sekolah ini, anak mempunyai bakat dan talenta tersembunyi dan perlu ditemukan dengan bimbingan yang bijaksana.
Baca juga:
- Dongkrak Citra Sekolah, Guru dan Humas SMA Muhammadiyah Kasihan Dilatih Digital Branding
- Genjot Literasi Gizi, Dr Raden Stevanus Kampanyekan Gerakan Makan Ikan Demi Generasi Unggul Yogyakarta
“Anak harus nyaman dan aman dalam proses pembelajaran pendidikan, menemukan kebahagiaan dalam berproses untuk menemukan talenta yang dimiliki,” kata Sumiyar Mahanani, Founder sekaligus Pimpinan Sekolah Merdeka Yogyakarta, kepada wartawan di Kantor SMY yang berlokasi di Klidon Jl Besi-Jangkang, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Mia sapaan akrab Sumiyar Mahanani, di sekolah ini anak akan mengenali dirinya secara utuh dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuannya. “Sekolah kami mengedepankan aspek kesehatan mental dengan pengembangan karakter potensi terunggul dengan lingkungan yang ramah dan demokratis,” kata Mia.

Sekolah Merdeka Yogyakarta (SMY) lahir dari pengalaman pribadi Sumiyar Mahanani sebagai seorang ibu, pengajar dan proses refleksi pendidikan yang ada selama ini. SMY menghadirkan pembelajaran yang asyik. Dengan begitu siswa-siswi akan lebih cepat mengenal lebih cepat jati dirinya. Anak akan menemukan kebahagiaan hakiki, sehat secara fisik dan mental, karakter yang positif serta mampu untuk melanjutkan masa depan yang lebih bermakna bagi sesamanya dan semesta.
Dua anak Mia juga bersekolah di SMY, dan menemukan arah bakat minat yang diminati tanpa paksaan dari orangtua. SMY hadir dengan proses belajar mengajar yang efektif 3 jam per hari mulai jam 09.00 sampai jam 12.00 setiap Senin sampai Jumat.
Dengan metode ini, anak-anak akan mempunyai banyak waktu untuk menemukan minat bakat yang dikehendaki dengan jujur. Selain itu orangtua juga terlibat aktif dalam pengasuhan pendidikan karena juga dilaksanakan kegiatan seminar parenting dan pendidikan.

Menurut Mia, Einstein mengatakan bahwa semua manusia itu jenius, tetapi jika anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka hal itu akan terlihat bodoh. Di SMY setiap pendaftar harus mengikuti assessment psikologi untuk mengetahui profil masing-masing anak.
“Hal ini sangat penting karena kami tidak ingin salah dalam merawat dan mendampingi siswa-siswi kami,” ujar ibu dua anak ini.
SMY membuka jenjang setara TK, SD, SMP dan SMA dengan mendapatkan ijazah nasional, kurikulum pendukung budi pekerti dan wawasan kebangsaan dengan maksimal 10 siswa setiap kelas.

Dalam setiap kesempatan, Mia juga mengunggah quotes perihal pendidikan anak di media sosial Sekolah Merdeka baik di Instagram maupun Facebook untuk mengajak semua pihak untuk peduli kepada pendidikan yang lebih humanis.
Untuk menggali bakat siswa-siswinya, SMY juga menggelar acara atau event kegiatan dalam berinovasi dan berkreasi dengan bahagia dan gembira.
Dio, salah satu alumni SMY, mengaku sangat bahagia dengan suasana dan lingkungan di sekolah ini. “Gurunya semua ramah dan berkompeten di bidangnya. Dengan bersekolah di SMY, saya lebih termotivasi untuk meraih cita-cita. Terima kasih untuk support luar biasa dari guru dan teman di SMY,” imbuh Dio. (Ari Rheno Prakosa}
There is no ads to display, Please add some