Tangis Shelly Pecah Saat Menginjakkan Kaki di Titik Finish Mlampah Ziarah di Sendangsono

beritabernas.com – Tepat pukul 11.40, Minggu 19 Juli 2026, L Bayu Wahyu Shellyana yang akrab disapa Shelly-salah satu peserta mlampah ziarah 7 etape selama 7 hari-menginjakkan kaki di titik finish di Sendangsono. Tangis haru pun pecah.

Peluk erat dan cium penuh kasih sambil menangis sesenggukkan, Shelly menerima ucapan selamat dari peserta Walking Marathon de Sendangsono batch 3 (WMSS#3) karena berhasil sampai finish dalam keadaan sehat dan selamat.

“Aku bisa,” ucap Shelly sambil memeluk peserta yang menyalaminya. “Luar biasa,” timpal peserta WMSS#3 sambil memeluk Shelly yang berhasil melewati 7 etape mlampah ziarah selama 7 hari berturut-turut tanpa jeda sejak 13 Juli lalu hingga Minggu 19 Juli 2026.

Ya Shelly, isteri dari Ag Danang dan ibu dari dua anak, Grace dan Gilbert, ini merupakan satu dari sedikit wanita yang mengikuti mlampah ziarah 7 etape selama 7 hari berturut-turut sejauh hampir 200 kilometer itu berhasil sampai finisih dalam keadaan sehat dan selamat.

Kemeriahan puncak perayaan ulang tahun pertama KMZ di Gua Maria Sendangsono, Minggu 19 Juli 2026. Foto: Philipus Jehamun/ beritabernas.com

Mlampah ziarah 7 etape yang dimulai dari Tugu Jogja ke Gua Sriningsih Prambanan, Klaten pada Senin 13 Juli 2026 yang diikuti puluhan anggota tangguh dari Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) ini diadakan untuk menyambut ulang tahun pertama KMZ.

Setiap hari sejak 13 Juli 2026, mereka melakukan mlampah ziarah atau ziarah dengan jalan kaki dari satu etape ke etape berikutnya dengan jarak yang berbeda-beda dan kondisi medan yang berbeda-beda pula. Ada rute yang panjang, ada yang pendek. Ada yang ringan, sedang dan ada pula yang berat sekali. Semua itu bisa dilewati Shelly bersama sejumlah peserta lainnya dengan selamat dan sukses.

“Rute Boyolali ke Pereng paling berat. Saya sempat mual-mual. Banyak peserta yang tiba sampai malam. Tapi Puji Tuhan, Shelly dan teman-teman bisa melewati itu semua dengan selamat dan tetap sehat,” kata Shelly sambil menunjuk beberapa jari kaki yang lebam dan lecet akibat gesekan dalam sepatu selama mlampah ziarah 7 etape.

Roni Romel, Ketua Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) yang juga ikut dalam mlampah ziarah 7 etape selama 7 hari berturut-turut itu mengaku perasaannya sangat menyentuh mendengar bagaimana perjalanan rohani tersebut membawa kebahagiaan dan menguatkan kebersamaan.

Mlampah ziarah dengan jarak hampir 200 kilometer selama 7 hari berturut-turut mereka jalani secara mandiri tanpa relawan. Ada momen penting selama perjalanan dan bisa menjadi tradisi baru yang muncul dari Mas Diar, salah satu peserta mlampah ziarah 7 etape.

Menurut Roni, ketika fisik sudah sangat lelah di 10 kilometer terakhir (bahkan sempat berjalan selama 14–15 jam dari Mawar Musuk menuju Pereng), Mas Diar mencetuskan ide: setiap 1 kilometer yang berhasil ditempuh, peserta berhenti sejenak untuk mengucap syukur dan mendoakan satu kali doa Salam Maria. Tradisi ini pun diulangi kembali dalam perjalanan dari Magelang menuju Sendang Sono.

Baca juga:

“​Meskipun ada yang mengira ini adalah kegiatan “kurang kerjaan”, perjalanan ini justru menjadi wadah pembuktian bahwa di tengah keletihan yang luar biasa, egoisme para peserta luruh dan justru saling menguatkan. Harapan ke depan adalah agar Komunitas Mlmpah Ziarah tidak sekadar menjadi komunitas, melainkan tumbuh menjadi sebuah keluarga besar bagi sesama umat Katolik yang memiliki devosi kepada Bunda Maria melalui jalan kaki,” kata Roni Romel.

Roni mengaku visi Komunitas Mlampah Ziarah adalah menggelorakan kembali semangat ziarah berjalan kaki umat Katolik. Sepertinya, perlahan-lahan visi itu bisa tercapai. ​Semangat melampah ziarah berkobar di berbagai tempat. Banyak cerita menarik selama dalam perjalanan.

​Selama berjalan 7 hari, puluhan bahkan ratusan sapaan diterima. Seperti biasa, teman-teman pasti sudah pernah mendengar, “Lagi jalan sehat ya, Mas?”, “Lagi olahraga ya, Mas?”, “Semangat ya, Mas!” Bahkan ada yang bilang, “Semangat, Pak! Biar dapat hadiah mobil.” ​

Bahkan, ada salah satu ibu mengira kami orang Buddha. “Ini menunjukkan bahwa kebiasaan atau tradisi mlampah ziarah yang dilakukan umat Katolik tahun 90-an ke bawah sudah hilang di memori masyarakat. Padahal sudah pakai baju Bunda Maria, pakai melampah ziarah, orang tetap menganggap kita adalah sedang olahraga, sedang fun walk. Tidak ada satu orang pun yang bertanya tentang ziarah. Dan sayangnya, banyak dari kita yang mengiyakan. “Olahraga ya, Mas?”, “Iya, Bu.”, “Gerak jalan ya, Mas?”, “Iya, Pak.”, “Lagi lomba ya, Mas?”, “Iya, Mas.” Ini memprihatinkan,” kata Roni Romel.

Karena itu, Roni ingin anggota Komunitas Mlampah Ziarah dan umat Katolik pada umumnya yang merasa diutus harus tegas menjawab sedang mlampah ziarah atau ziarah dengan berjalan kaki ketika ada yang bertanya , “Mas/Mbak, lagi olahraga ya?” Kita harus tegas menjawab: “Kami lagi melampah ziarah.”

Hal ini sudah disepakati oleh teman-teman yang mengikuti melampah ziarah 7 hari. “Saya harapkan teman-teman juga punya komitmen yang sama. Ini bukan untuk komunitas melampah ziarah, bukan. Ini untuk tradisi ziarah umat Katolik. Ketika ada orang bertanya, “Sedang apa, Mas?”, “Kami sedang melampah ziarah, Pak.”, “Buddha?”, “Bukan, Pak. Kami ini Katolik.”

Roni Romel bersama AM Kuncoro memotong tumpeng dan membagikan kue ulang tahun KMZ, Minggu 19 Juli 2026. Foto: Philipus Jehamun/beritabernas.com

Ketika orang mengatakan kita Buddha, itu berarti kegiatan mlampah ziarah kita kurang bersinar. Kita kurang bercerita. ​Dengan 3.400 lebih anggota Komunitas Mlampah Ziarah, yang hampir setiap minggu melakukan melampah ziarah, seharusnya orang kembali mengenal dan semakin mengenal kegiatan mlampah ziarah umat Katolik.

“Jadikan kegiatan mlampah ziarah di daerah-daerah sebagai sebuah momentum memperkenalkan kembali kegiatan mlampah ziarah umat Katolik. ​Kita punya PR , yang menurut saya harus terselesaikan sampai pada akhirnya, ketika ada orang yang berjalan membawa tas, orang akan bertanya, “Lagi melampah ziarah ya, Mas?” kata Roni.

“Biarkan orang tahu kita Katolik. Banggalah kita Katolik. Banggalah kita sedang mengembalikan semangat tradisi mlampah ziarah umat Katolik menuju Bunda Maria, menuju Tuhan melalui Bunda Maria.
​Semoga 1 tahun ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaan untuk teman-teman semuanya. Dan saya berani pastikan akan ada ulang tahun kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya,” kata Roni Romel.

Ia berharap KMZ bukan sekadar komunitas tapi menjadi keluarga. Dan kalu menjadi keluarga, maka semangatnya adalah saling membangun, saling memaafkan. “Ada salah? Itu wajar, maafkan. Membangun? Ayo. Mari Teman-teman, eratkan gandengan tangan kita. Kita pererat persaudaraan iman umat Katolik dan kita gelorakan kembali semangat melampah ziarah di seluruh Nusantara,” ajak Roni Romel. (phj)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *