Emil Salim: Masa Depan Indonesia Ada di Laut, Bukan Hanya di Daratan

beritabernas.com – Tokoh lingkungan hidup Indonesia Prof Dr Emil Salim mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang pembangunan nasional dengan menempatkan laut sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar objek eksploitasi ekonomi. Pesan itu disampaikannya saat membuka Pekan Lingkungan Hidup dan Envirotech 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis 11 Juni 2026.

Di hadapan Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat, para penerima Kalpataru, akademisi, pelaku usaha dan ribuan generasi muda yang hadir, Emil Salim menyoroti tantangan lingkungan yang semakin kompleks, terutama terkait ketersediaan air dan pengelolaan sumber daya alam di negara kepulauan seperti Indonesia.

Menurut Emil, selama ini pembangunan Indonesia masih terlalu berorientasi pada daratan. Padahal, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, laut seharusnya menjadi bagian utama dalam perencanaan pembangunan nasional.

“Indonesia adalah negara kepulauan. Laut bukan pemisah antarpulau, melainkan bagian integral dari kehidupan bangsa. Namun hingga hari ini, kita masih melihat laut sebagai objek, belum sebagai subjek pembangunan,” ujarnya.

Prof Dr Emil Salim menyampaikan sambutan usai menerima Lifetime Achievement Award dari Menteri LH Jumhur Hidayat. Foto: Dok KLH

Mantan Menteri Lingkungan Hidup itu mengingatkan bahwa konsep negara kepulauan yang ditegaskan melalui Deklarasi Djuanda 1957 telah menempatkan laut sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah Indonesia. Karena itu, pembangunan nasional tidak bisa hanya bertumpu pada tanah dan sumber daya daratan.

Ia mencontohkan negara-negara seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa yang berkembang dengan basis daratan yang luas. Indonesia, kata Emil, memiliki karakter yang berbeda sehingga memerlukan paradigma pembangunan yang berbeda pula.

“Kita menyebut Indonesia sebagai tanah air. Tanah adalah tempat kita hidup, tetapi air juga sumber kehidupan. Persoalannya, kita masih mengandalkan air tanah, sementara laut belum sungguh-sungguh diposisikan sebagai sumber kehidupan yang strategis,” katanya.

Karena itu, Emil meminta Kementerian Lingkungan Hidup mendorong kerja sama lintas kementerian agar pembangunan nasional semakin berorientasi pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Menurutnya, pengelolaan laut tidak bisa hanya menjadi urusan sektor kelautan dan perikanan, melainkan harus menjadi agenda bersama seluruh sektor pembangunan.

Ia bahkan mengajukan pertanyaan mendasar yang menurutnya perlu dijawab oleh bangsa Indonesia ke depan: apakah Indonesia mampu membangun tanpa merusak laut yang menjadi identitas sekaligus penopang kehidupannya. “Bisakah kita membangun Republik Indonesia tanpa merusak laut?” tanyanya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dadark (kiri) di dampingi Wakil menteri LH Diaz Faisal Malik Hendropriyono (jas hitam) saat tampil sebagai pembicara dalam Dialog Akselerasi Pencapaian Target NDC di PLI. Foto: Dok Yus Ade

Pesan tersebut mendapat perhatian Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang menilai gagasan Prof Emil Salim sejalan dengan kebutuhan untuk menempatkan keberlanjutan sebagai prinsip utama pembangunan.

Menurut Emil Dardak, upaya menjaga lingkungan dan menurunkan emisi gas rumah kaca tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor lingkungan hidup, tetapi harus menjadi tanggung jawab seluruh sektor pembangunan, mulai dari energi, industri, transportasi hingga pengelolaan sumber daya alam dan kawasan pesisir.

“Beliau adalah tokoh lingkungan hidup yang legendaris. Pada masa kepemimpinan beliau, kesadaran dan wawasan lingkungan hidup mulai tumbuh semakin kuat. Pesan yang beliau sampaikan hari ini relevan karena pembangunan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang,” ujar Emil Dardak.

Ia menambahkan bahwa Jawa Timur saat ini menjalankan berbagai program pengurangan emisi, mulai dari pengembangan energi terbarukan, pemanfaatan solar rooftop, konservasi mangrove sebagai bagian dari strategi blue carbon, hingga pengembangan kendaraan listrik dan pengelolaan sampah menjadi energi.

“Kita tidak hidup hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi berikutnya. Karena itu, nilai-nilai pembangunan berkelanjutan harus dilembagakan dan tidak boleh menjadi komoditas politik jangka pendek,” tegasnya.

Baca juga:

Senada dengan Emil Dardak, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa, Eduward Hutapea, menilai sambutan Emil Salim merupakan pengingat penting bahwa tantangan lingkungan saat ini tidak lagi dapat dipisahkan antara persoalan daratan dan lautan.

Menurut Eduward, wilayah Jawa menghadapi tekanan lingkungan yang sangat besar, mulai dari persoalan sampah, pencemaran sungai, degradasi pesisir, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Karena itu, paradigma pembangunan yang menempatkan laut sebagai bagian dari sistem kehidupan harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret.

“Prof. Emil Salim mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Artinya, kesehatan lingkungan daratan akan sangat menentukan kesehatan laut, dan sebaliknya. Sampah yang tidak dikelola di hulu pada akhirnya bermuara ke sungai dan laut. Karena itu pengendalian lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir,” kata Eduward.

Ia menambahkan bahwa pesan tersebut sangat relevan dengan agenda pemerintah saat ini yang mendorong pengurangan sampah dari sumber, penguatan ekonomi sirkular, rehabilitasi ekosistem pesisir, serta penurunan emisi gas rumah kaca sebagai bagian dari upaya mencapai target pembangunan rendah karbon.

Kepala Pusdal LH Jawa Eduward Hutapea saat menghadiri Pekan Lingkungan Hidup di JICC, 11 Juni 2026. Foto: Yus Ade

Dalam kesempatan tersebut, Emil Salim juga menyampaikan apresiasi kepada para penerima penghargaan Kalpataru yang selama ini berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan hidup. Menurutnya, penghargaan tersebut penting sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi masyarakat yang bekerja menjaga alam di berbagai daerah.

Ia berharap semangat para pejuang lingkungan dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak inisiatif pelestarian sumber daya alam, baik di daratan maupun di wilayah pesisir dan laut.

Sambutan Emil Salim menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan Pekan Lingkungan Hidup 2026. Di usia 90 tahun yang baru diperingatinya pada 8 Juni lalu, mantan Menteri Lingkungan Hidup tiga periode (1978–1993) itu kembali mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sebagai negara kepulauan akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga laut sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar sumber eksploitasi ekonomi.

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar pembangunan Indonesia tidak lagi memisahkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, melainkan menjadikannya dua sisi yang berjalan beriringan demi keberlanjutan bangsa. (Laporan langsung Yus Ade, Pusdal LH Jawa dari PLI Jakarta)


There is no ads to display, Please add some

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *